share materi serta tugas kuliah, or anything but still positively

Organisasi Sel

Organisasi Sel

Bandingkan sel pada hewan, tanaman !

No. Bagian sel Tumbuhan Hewan Bakteri
1. Prokariotik dan Eukariotik Sel eukariotik Sel eukariotik Sel prokariotik
2. Membran sel Memiliki membran sel Memiliki membran sel Memiliki membran sel
3. Dinding sel Memiliki dinding sel dari selulosa Tidak memiliki dinding sel Memiliki dinding sel dari lipoprotein
4. Inti sel Nucleus lebih kecil daripada vakuola Nucleus lebih besar daripada vesikel Tidak memiliki nukleus
5. Klorofil Memiliki klorofil Tidak memiliki klorofil Tidak memiliki klorofil
6. Vakuola Memiliki vakuola atau rongga sel yang besar Tidak memiliki vakuola kecuali pada sebagian hewan uniseluler, hewan biasanya memiliki vesikel Tidak memiliki vakuola

Sel Prokariotik dan Eukariotik

  1. Sel Prokariotik (Bakteri)

Sel prokariotik merupakan tipe sel yang tidak memiliki sistem endomembran sehingga sel tipe ini memiliki materi inti yang tidak dibatasi oleh sistem membran, tidak memiliki organelyang dibatasi oleh sistem membran. Sel prokariotik terdapat pada bakteri dan ganggang biru dan tidak terdapat pada hewan ataupun tumbuhan.

Bakteri merupakan salah satu contoh organisme yang memiliki sel tipe prokariotik.

Struktur umum sel prokariotik terdiri dari kapsul, dinding sel (membran luar dan peptidoglikan merupakan anggota karbohidrat), membran plasma, sitoplasma yang mengandung ribosom dan nukleoid.

Bagian luar sel bakteri terdiri dari: kapsula, dinding sel, dan membran plasma. Kapsula yaitu bagian yang paling luar berupa lendir yang berfungsi untuk melindungi sel. Bahan kimia pembangun kapsula adalah polisakarida. Dinding sel terdiri dari berbagai bahan seperti karbohidrat, protein, dan beberapa garam anorganik serta berbagai asam amino.

  1. Sel Eukariotik (Hewan dan Tumbuhan)

Sel eukariotik merupakan tipe sel yang memiliki sistem endomembran. Pada sel eukariotik, inti tampak jelas karena dibatasi oleh sistem membran. Pada sel ini, sitoplasma memiliki berbagai jenis organel seperti antara lain: badan Golgi, retikulum endoplasma (RE), kloroplas (kuhusus pada tumbuhan), mitokondria, badan mikro, dan lisosom.

Tipe sel eukariotik pada tumbuhan sedikit berbeda dengan pada hewan. Pada sel hewan, pada bagian luar sel tidak ditemukan adanya dinding sel, sebaliknya pada tumbuhan dan jamur ditemukan adanya dinding sel. Walaupun demikian dinding sel tumbuhan dan sel jamur secara kimiawi berbeda penyusunnya. Pada jamur didominasi oleh chitin sedangkan pada tumbuhan selulosa. Pada tumbuhan ditemukan adanya organel kloroplas sedangkan pada jamur dan hewan tidak ditemukan. Selain perbedaan tersebut pada dasarnya baik sel hewan, tumbuhan, dan jamur memiliki struktur yang serupa.

 

Membran Sel atau Membran Plasma

1. Membran Sel pada Tumbuhan dan Hewan

Membran sel atau membran plasma adalah batas kehidupan, batas yang memisahkan sel hidup dari sekelilingnya yang mati. Lapisan tipis yang luar biasa ini tebalnya kira-kira hanya 8nm (dibutuhkan lebih dari 8000 membran plasma untuk menyamai tebal kertas halaman ini) membran plasma mengontrol lalulintas ke dalam dan keluar sel yang dikelilinginya. Seperti semua membran biologis, membran plasma memiliki permeabilitas selektif; yakni, membran ini memungkinkan beberapa substansi dapat melintasinya dengan lebih mudah daripada substansi yang lainnya.

2. Membran Sel pada Bakteri

Membran sel merupakan selaput yang membungkus sitoplasma beserta isinya, terletak di sebelah dalam dinding sel, tetapi tidak terikat erat dengan dinding sel. Bagi membran sel sangat vital, bagian ini merupakan batas antara bagian dalam sel dengan lingkungannya. Jika membran sel pecah atau rusak, maka sel bakteri akan mati. Membran sel terdiri atas dua lapis molekul fosfolipid. Pada lapisan fosfo-lipid ini terdapat senyawa protein dan karbohidrat dengan kadar berbeda-beda pada berbagai sel bakteri.

 

Dinding Sel

1. Dinding Sel pada Tumbuhan

Dinding sel adalah struktur ekstraselularyang terdapat pada sel tumbuhan yang membedakan mereka dari sel-sel hewan. Fungsi Dinding sel adalah untuk melindungi sel tumbuhan, mempertahankan bentuknya dan mencegah penyerapan air yang berlebihan. Pada tingkat keseluruhan tumbuhan, dinding sel yang kuat dari juga berfungsi untuk bertahan melawan gaya gravitasi.

2. Dinding Sel pada Bakteri

Bakteri merupakan organisme prokariotik yang memiliki dinding sel yang tersusun dari peptidoglikan. Hal ini berbeda dengan tumbuhan yang dinding selnya tersusun dari selulosa, pektin, maupun lignin. Dinding sel bakteri memiliki struktur yang agak kaku yang terletak di luar membran sel. Peranan dinding sel tersebut adalah untuk mempertahankan bentuk sel dan mencegah sel mengalami lisis.

 

Inti Sel

Pada sel eukariotik, struktur dan isi inti adalah kepentingan mendasar pemahaman tentang reproduksi sel. Inti berisi materi herediter dari sel yang dirakit menjadi kromosom. Selain itu, inti biasanya berisi satu atau lebih nukleolus menonjol (badan padat yang merupakan tempat sintesis ribosom).

Inti ini dikelilingi oleh membran nukleus yang terdiri dari membran ganda yang berkesinambungan dengan retikulum endoplasma. Transportasi molekul antara inti dan sitoplasma dicapai melalui serangkaian pori-pori inti dilapisi dengan protein yang memfasilitasi bagian dari molekul dari dan ke dalam inti. Protein memberikan ukuran tertentu selektivitas dalam bagian dari molekul melintasi membran nuklir.

 

Klorofil

Klorofil  atau lebih dikenal dengan nama zat hijau daun  adalah pigmen yang dimiliki oleh berbagai organisme dan menjadi salah satu molekul berperan utama dalam fotosintesis. Klorofil memberi warna hijau pada daun tumbuhan hijau dan alga hijau, tetapi juga dimiliki oleh berbagai alga lain, dan beberapa kelompok bakteri fotosintetik. Molekul klorofil menyerap cahaya merah, biru, dan ungu, serta memantulkan cahaya hijau dan sedikit kuning, sehingga mata manusia menerima warna ini. Pada tumbuhan darat dan alga hijau, klorofil dihasilkan dan terisolasi pada plastida yang disebut kloroplas.

 

Vakuola

Vakuola adalah jenis vesikel berukuran besar. Beberapa vesikel membran datang bersama-sama untuk membentuk vakuola, itulah sebabnya mereka lebih besar dari organel sel lainnya. Vakuola memainkan peran penting dalam kelancaran fungsi berbagai proses sel tumbuhan dan protista. Peran yang dimainkan oleh vakuola pada hewan dan sel bakteri tidak signifikan seperti itu dalam sel tanaman dan protista.

  1. Pada tumbuhan

Vakuola sel tumbuhan lebih besar daripada yang ditemukan dalam sel-sel hewan. vakuola Sentral hadir dalam sel tumbuhan adalah salah satu organel sel penting. Vakuola pusat, dikelilingi oleh tonoplast, menawarkan dukungan untuk sel-sel yang merupakan daun dan bagian lunak lainnya tanaman.

  1. Pada hewan

Dalam sel hewan, vakuola memainkan peran bawahan dalam proses endositosis dan eksositosis. Dalam eksositosis, protein dan lipid dikeluarkan dari sel. Vakuola tidak berperan langsung dalam ekstrusi lipid dan protein, namun mereka bertindak sebagai wadah lipid dan protein. Proses endositosis hanya kebalikan dari eksositosis.

 

DAFTAR PUSTAKA

Bio Duarebu, 13 juni 2012

http://www.biologi-sel.com/2012/06/struktur-sel-dan-fungsi-sel-prokariotik.html (diakses tanggal 1 September 2014)

Bio Duarebu, 11 juni 2012

http://www.biologi-sel.com/2012/06/membran-plasma.html (diakses tanggal 1 September 2014)

http://sains.weebly.com/bagian-utama-pada-sel-bakteri.html (diakses tanggal 1 September 2014)

Tanri Alim, 12 februari 2013

http://www.biologi-sel.com/2013/02/dinding-sel-tumbuhan.html  (diakses tanggal 1 September 2014)

Anonim, 27 September 2012

http://www.generasibiologi.com/2012/09/dinding-sel-bakteri.html (diakses tanggal 1 September 2014)

http://www.sridianti.com/struktur-fungsi-inti-sel-nukleolus.html (diakses tanggal 1 September 2014)

Bayue sp, 4 Maret 2013

http://articara.com/pengertian-klorofil (diakses tanggal 2 September 2014)

http://www.sridianti.com/peran-fungsi-vakuola-dalam-sel.html (diakses tanggal 2 September 2014)

HAK ASASI MANUSIA

A. Definisi konseptual tentang HAM

Menurut Undang-Undang Nomor 39 tahun 1999, HAM adalah seperangkat hak yang melekat pada hakikat keberadaan manusia sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa. Hak itu merupakan anugerah-Nya yang wajib dihormati, dijunjung tinggi, dan dilindungi oleh negara, hukum, pemerintah, dan setiap orang demi kehormatan serta perlindungan harkat dan martabat manusia.
Sifat HAM adalah universal, artinya berlaku untuk semua manusia tanpa membeda-bedakan suku, ras, agama, dan bangsa (etnis). HAM harus ditegakkan demi menjamin martabat manusia seutuhnya di seluruh dunia. Hal itu tercermin dalam Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia (DUHAM) atau “Universal Declaration of Human Rights”.

Ada berbagai versi definisi mengenai HAM. Setiap definisi menekankan pada segi-segi tertentu dari HAM. Berikut beberapa definisi tersebut :
a. HAM dan kebebasan-kebebasan fundamental adalah hak-hak individual yang berasal dari kebutuhan-kebutuhan serta kapasitas-kapasitas manusia.
(David Beetham dan Kevin Boyle)
b. HAM adalah seperangkat hak yang melekat pada hakikat keberadaan manusia sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa dan merupakan anugerah-Nya yang wajib dihormati, dijunjung tinggi, dan dilindungi oleh negara, hukum, pemerintah, dan setiap orang demi kehormatan serta perlindungan harkat dan martabat manusia.
(Pasal 1 butir 1 UU No. 39 tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia dan Pasal 1 butir 1 UU No. 26 tahun 2000 tentang Pengadilan HAM)
c. HAM adalah hak hukum yang dimiliki setiap orang sebagai manusia. Hak-hak tersebut bersifat universal dan dimiliki setiap orang, kaya maupun miskin, laki-laki ataupun perempuan. Hak-hak tersebut mungkin saja dilanggar, tetapi tidak pernah dapat dihapuskan. Hak asasi merupakan hak hukum, ini berarti bahwa hak-hak tersebut merupakan hukum. Hak asasi manusia dilindungi oleh konstitusi dan hukum nasional di banyak negara di dunia.
(C. de Rover)
d. HAM adalah ruang kebebasan individu yang dirumuskan secara jelas dalam konstitusi dan dijamin pelaksanaannya oleh pemerintah.
(Austin-Ranney)
e. HAM adalah hak yang dimiliki oleh semua umat manusia di segala masa dan di segala tempat karena keutamaan keberadaannya sebagai manusia.
(A.J.M. Milne)
f. HAM adalah hak-hak yang dimiliki manusia bukan karena diberikan kepadanya oleh masyarakat. Jadi bukan karena hukum positif yang berlaku, melainkan berdasarkan martabatnya sebagai manusia. Manusia memilikinya karena ia manusia.
(Franz Magnis Suseno).
B. Ciri Khusus Hak Asasi Manusia

Hak asasi manusia memiliki ciri-ciri khusus jika dibandingkan dengan hak-hak yang lain. Ciri khusus hak asasi manusia sebagai berikut :
a. Tidak dapat dicabut, artinya hak asasi manusia tidak dapat dihilangkan atau diserahkan.
b. Tidak dapat dibagi, artinya semua orang berhak mendapatkan semua hak, apakah hak sipil dan politik atau hak ekonomi, social, dan budaya.
c. Hakiki, artinya hak asasi manusia adalah hak asasi semua umat manusia yang sudah ada sejak lahir.
d. Universal, artinya hak asasi manusia berlaku untuk semua orang tanpa memandang status, suku bangsa, gender, atau perbedaan lainnya. Persamaan adalah salah satu dari ide-ide hak asasi manusia yang mendasar.
C. Macam-macam Hak Asasi Manusia (HAM)

Dalam Piagam PBB atau Universal Declaration of Human Rights (Pernyataan Sedunia tentang Hak Asasi Manusia) yang terdiri atas 30 pasal, termuat pengakuan dan jaminan atas hak asasi manusia. Pasal 1 deklarasi tersebut dengan tegas menyatakan bahwa sekalian orang dilahirkan merdeka, mempunyai martabat dan hak-hak yang sama.
Tiap orang dikaruniai akal dan budi, serta kehendaknya bergaul satu sama lain dalam persaudaraan.
Hak Asasi Manusia menurut Piagam PBB adalah hak berpikir dan mengeluarkan pendapat, hak untuk memperoleh nama baik, hak untuk kemerdekaan hidup, hak untuk memperoleh pekerjaan, hak mendapatkan pendidikan dan pengajaran, hak untuk mendapatkan perlindungan hukum, hak untuk hidup, hak menganut aliran kepercayaan atau agama tertentu, dan hak memiliki sesuatu.
Cakupan HAM amat luas, seluas kehidupan manusia. Kovenan Intemasional tentang Hak-hak Sipil dan Politik (The International Covenant on Civil and Political Rights/ICCPR) dan Kovenan Intemasional tentang Hak-hak Ekonomi, Sosial dan Budaya (The International Covenant on Economics, Social, and Cultural Rights/ICESCR) menyebutkan adanya dua macam HAM, yaitu :

a. Hak ekonomi, sosial, dan budaya, meliputi:

1) hak untuk membentuk serikat pekerja,
2) hak atas pendidikan,
3) hak atas pekerjaan,
4) hak atas pensiun, dan
5) hak atas hidup yang layak.

b. Hak sipil dan politik, meliputi:

1) hak mempunyai pendapat tanpa mengalami gangguan;
2) hak untuk hidup;
3) hak untuk berserikat;
4) hak atas kebebasan dan persamaan;
5) hak atas berpikir, mempunyai konsiensi, dan beragama;
6) hak atas kesamaan di muka badan badan peradilan;
7) hak kebebasan berkumpul secara damai.

Secara umum, hak asasi asasi manusia terdiri atas lima macam, yaitu :

a. Hak asasi untuk memperoleh perlakuan tata cara peradilan dan perlindungan (procedural rights)
b. Hak asasi politik (political rights)
c. Hak asasi pribadi (personal rights)
d. Hak asasi untuk memperoleh perlakuan yang sama dalam hukum dan pemerintahan (rights of legal equality)
e. Hak asasi ekonomi (proverty rights).

Dalam HAM, terkandung pula kewajiban-kewajiban dasar manusia sebagai berikut :

a. Setiap orang wajib menghormati hak asasi orang lain, moral, etika, dan tata tertib kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
b. Setiap orang yang ada di wilayah negara RI wajib patuh pada peraturan perundang-undangan, hukum tidak tertulis, dan hukum internasional (mengenai hak asasi manusia yang telah diterima oleh negara RI).
c. Dalam menjalankan hak dan kebebasannya, setiap orang wajib tunduk kepada batasan yang ditetapkan oleh undang-undang.
d. Setiap warga negara wajib ikut serta dalam upaya pembelaan negara.
e. Setiap hak asasi seseorang menimbulkan kewajiban dasar dan tanggung jawab untuk menghormati hak asasi orang lain secara timbal balik.
D. Sejarah Perkembangan HAM

1. Sejarah perkembangan HAM di dunia
Sejarah hak asasi manusia berawal dari dunia Barat (Eropa). John Locke, seorang filsuf Inggris pada abad ke-17 merumuskan adanya hak alamiah (natural rights) yang melekat pada setiap diri manusia, yaitu hak atas hidup, hak kebebasan, dan hak milik.
Pada waktu itu, hak masih terbatas pada bidang sipil (pribadi) dan politik. Sejarah perkembangan hak asasi manusia ditandai adanya tiga peristiwa penting di dunia Barat, yaitu Magna Charta, Revolusi Amerika, dan Revolusi Prancis.
a. Piagam Magna Charta (1215)
Piagam perjanjian antara Raja John Lackland dari Inggris dengan para bangsawan disebut Magna Charta. Isinya adalah pemberian jaminan beberapa hak oleh raja kepada para bangsawan beserta keturunannya, seperti hak untuk tidak dipenjarakan tanpa adanya pemeriksaan pengadilan. Jaminan itu diberikan sebagai balasan atas bantuan biaya pemerintahan yang telah diberikan oleh para bangsawan. Sejak saat itu, jaminan hak tersebut berkembang dan menjadi bagian dari sistem konstitusional Inggris.
b. Revolusi Amerika (1276)
Perang kemerdekaan rakyat Amerika Serikat melawan penjajahan Inggris disebut Revolusi Amerika. Declaration of Independence (Deklarasi Kemerdekaan) dan Amerika Serikat menjadi negara merdeka tanggal 4 Juli 1776 merupakan hasil dari revolusi ini.
c. Revolusi Prancis (1789)
Revolusi Prancis adalah bentuk perlawanan rakyat Prancis kepada rajanya sendiri (Louis XVI) yang telah bertindak sewenang-wenang dan absolut. Declaration des droits de I’homme et du citoyen (Pernyataan Hak-Hak Asasi Manusia dan Warga Negara) dihasilkan oleh Revolusi Prancis. Pernyataan ini memuat tiga hal, yaitu hak atas kebebasan (liberty), kesamaan (egality), dan persaudaraan (fraternite).
Dalam perkembangannya, pemahaman mengenai HAM makin luas. Sejak permulaan abad ke-20, konsep hak asasi berkembang menjadi empat macam kebebasan (The Four Freedoms). Konsep ini pertama kali diperkenalkan oleh Presiden Amerika Serikat, yaitu Franklin D. Roosevelt.

The Four Freedoms atau keempat macam kebebasan itu meliputi :

a. Kebebasan untuk beragama (freedom of religion),
b. Kebebasan untuk berbicara dan berpendapat (freedom of speech),
c. Kebebasan dari kemelaratan (freedom from want), dan
d. Kebebasan dari ketakutan (freedom from fear).

Adapun berdasarkan sejarah perkembangannya, ada tiga generasi hak asasi manusia, yaitu :

a. Generasi pertama adalah hak sipil dan politik yang bermula di dunia Barat (Eropa), contohnya, hak atas hidup, hak atas kebebasan dan keamanan, hak atas kesamaan di muka peradilan, hak kebebasan berpikir dan berpendapat, hak beragama, hak berkumpul, dan hak untuk berserikat.
b. Generasi kedua adalah hak ekonomi, sosial, dan budaya yang diperjuangkan oleh Negara-negara sosialis di Eropa Timur, misalnya, hak atas pekerjaan, hak atas penghasilan yang layak, hak membentuk serikat pekerja, hak atas pangan, kesehatan, hak atas perumahan, hak atas pendidikan, dan hak atas jaminan sosial.
c. Generasi ketiga adalah hak perdamaian dan pembangunan yang diperjuangkan oleh negara-negara berkembang (Asia-Afrika). Misalnya, hak bebas dari ancaman musuh, hak setiap bangsa untuk merdeka, hak sederajat dengan bangsa lain, dan hak mendapatkan kedamaian.

Hak asasi manusia kini sudah diakui seluruh dunia dan bersifat universal, meliputi berbagai bidang kehidupan manusia dan tidak lagi menjadi milik negara barat saja. Sekarang ini, hak asasi manusia telah menjadi isu kontemporer di dunia.
PBB pada tanggal 10 Desember 1948 telah mencanangkan “Declaration Universal of Human Rights” (Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia).
Bunyi Pasal 1 deklarasi tersebut dengan tegas menyatakan bahwa :
“Sekalian orang dilahirkan merdeka dan mempunyai martabat dan hak-hak yang sama. Mereka dikaruniai akal dan budi dan kehendaknya bergaul satu sama lain dalam persaudaraan”.
Deklarasi tersebut melambangkan komitmen moral dunia internasional pada hak asasi manusia. Deklarasi universal ini kemudian dijadikan pedoman dan standar minimum penegakan hak asasi manusia oleh negara-negara yang tergabung dalam berbagai organisasi dan kelompok regional yang diwujudkan dalam konstitusi atau undang-undang dasar setiap negara.

Hasil rumusan mengenai hak asasi manusia oleh negara-negara di dunia, antara lain dijabarkan dalam:

a. Declaration on The Rights of Peoples to Peace (Deklarasi Hak Bangsa atas Perdamaian) oleh negara-negara Dunia Ketiga pada tahun 1984;
b. Bangkok Declaration, diterima oleh negara-negara Asia pada tahun 1993;
c. Deklarasi universal dari negara-negara yang tergabung dalam PBB tahun 1993;
d. African Charter on Human and Peoples Rights (Banjul Charter) oleh negara-negara Afrika yang tergabung dalam Persatuan Afrika (OAU) pada tahun 1981;
e. Declaration on The Rights to Development (Deklarasi Hak atas Pembangunan) pada tahun 1986 oleh negara-negara Dunia Ketiga;
f. Cairo Declaration on Human Rights in Islam oleh negara-negara yang tergabung dalam OKI (Organisasi Konferensi Islam) tahun 1990.

2. Sejarah Perkembangan HAM di Indonesia

Sejarah perkembangan HAM di Indonesia sudah terjadi semenjak Indonesia masih belum merdeka. Pemikiran-pemikiran HAM di Indonesia bermula dari organisasi-organisasi masyarakat yang dibentuk pada saat zaman penjajahan, contohnya Boedi Oetomo. Pemikiran tentang ham yang ada dalam organisasi ini adalah HAM untuk berserikat dan mengemukakan pendapat. Selain Boedi Oetomo, masih banya organisasi masyarakan yang menjadi cikal bakal pemikiran HAM di Indonesia, diantaranya ada Perhimpunan Indonesia yang berpikiran tentang hak untuk menentukan nasib sendiri, Sarekat Islam tentang hak untuk memperoleh penghidupan yang layak dan bebas dari penindasan dan diskriminasi rasial, Indische Partij tentang hak untuk mendapatkan kemerdekaan serta mendapatkan perlakuan yang sama dan hak merdeka. Lalu berlanjut pada masa kemerdekaan Indonesia. Pada awal kemerdekaan, pemikiran tentang HAM masih tentang hak untuk berserikat dan menyampaikan pendapat. Pada tahun 1960-an, HAM di Indonesia mengalami kemunduran, karena pada saat itu terjadi pemasungan HAM rakyat, yaitu hak sipil dan hak politik. Pada tahun 1967, ada beberapa orang yang merekomendasikan gagasan tentang perlunya pengadilan HAM di Indonesia. Pada tahun 1970, HAM di Indonesia mengalami kemunduran lagi karena pada saat itu HAM tidak lagi dilindungi, dihormati, dan ditegakkan. Pada akhir masa orde baru tahun 1998, terjadi kasus pelanggaran HAM yang cukup besar di Indonesia, tepatnya pada saat kejatuhan presiden Soeharto, yaitu Tragedi Trisakti. Kini, HAM dilindungi oleh undang-undang, dihormati, dan ditegakkan dimanapun dan kapanpun, walaupun masih banyak kasus pelanggaran HAM di negeri ini.

Hak Asasi Manusia di Indonesia

Pencantuman, penghormatan, dan penjaminan HAM dalam Konstitusi Republik Indonesia (UUD RI Tahun 1945)
Di dalam Pembukaan ataupun Pasal-pasal UUD RI Tahun 1945, pengakuan dan penghormatan HAM dalam Konstitusi Republik Indonesia sebetulnya sudah ada, hanya saja berbeda-beda penekanannya.
Sebelum amendemen
Pengakuan hak asasi manusia di Indonesia yang tercantum dalam UUD RI Tahun 1945 sebagai berikut :
a) Pembukaan UUD RI Tahun 1945 Alinea I yang berbunyi: “… kemerdekaan adalah hak segala bangsa …”.
b) Pasal-pasal UUD RI Tahun 1945: Pasal 27 sampai dengan Pasal 34 yang mencakup hak-hak dalam bidang politik, ekonomi, sosial, dan budaya. Pasal-pasal ini mencantumkan hak persamaan dalam hukum dan pemerintahan dan hak mendapat pekerjaan yang layak (Pasal 27 ayat (1) dan (2)); jaminan kemerdekaan berserikat dan berkumpul, mengeluarkan pikiran dengan lisan dan tulisan (Pasal 28); jaminan untuk memeluk agama dan beribadah menurut agama dan kepercayaannya (Pasal 29 ayat (2)); hak untuk membela negara (Pasal 32); hak berekonomi (Pasal 33 ayat (1) sampai dengan (3)); dan hak sosial bagi fakir miskin dan anak terlantar untuk dipelihara oleh negara (Pasal 34).
2) Setelah amendemen keempat tahun 2002
Rincian tentang macam hak asasi manusia dalam UUD 1945 menjadi lebih banyak dan lengkap. Di samping pasal-pasal terdahulu yang masih dipertahankan, dimunculkan pula bab baru yang berjudul Bab XA tentang Hak Asasi Manusia beserta pasal-pasal tambahannya (Pasal 28A sampai dengan 28J). Jadi, ada perubahan letak dan penambahan pasal ketentuan hak asasi manusia dalam UUD 1945 dari sebelum dan sesudah diamendemen.
Misalnya, Pasal 30 ayat (1) yang berbunyi: “Tiap-tiap warga negara berhak dan wajib ikut serta dalam usaha pembelaan negara” yang semula tercantum dalam Pasal 30 ayat (1) diletakkan dan ditambahkan pada Pasal 27 ayat (3) (semula Pasal 27 ini hanya ada 2 ayat). Sebaliknya, Pasal 30 ayat (1) diganti dengan ketentuan mengenai pertahanan dan keamanan negara dengan bunyi: “Tiap-tiap warga negara berhak dan wajib ikut serta dalam upaya pertahanan dan keamanan negara.”

Usaha-usaha penegakan HAM

1) Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM)
Komnas HAM pertama kali dibentuk berdasarkan Keputusan Presiden (Kepres) Nomor 50 tahun 1993 tanggal 7 Juni 1993 atas rekomendasi Lokakarya I Hak Asasi Manusia yang diselenggarakan oleh Departemen Luar Negeri RI dengan sponsor Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Berdasarkan UU No. 39 tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia, lembaga tersebut telah dikuatkan kedudukan dan fungsinya sebagai lembaga mandiri yang kedudukannya setingkat dengan lembaga negara lainnya dan berfungsi melaksanakan pengkajian, penelitian, penyuluhan, pemantauan, dan mediasi hak asasi manusia. Komisi Penyelidik Pelanggaran (KPP) HAM dapat dibentuk oleh Komnas HAM untuk kasus-kasus tertentu.
Keberadaan Komnas HAM diatur dalam Pasal 75 sampai dengan Pasal 99 UU No. 39 tahun 1999. Pembentukan Komnas HAM bertujuan untuk:
a) meningkatkan perlindungan dan penegakan hak asasi manusia guna mengembangkan pribadi manusia Indonesia seutuhnya dan memampukannya berpartisipasi dalam berbagai bidang kehidupan;
b) mengembangkan kondisi yang kondusif bagi pelaksanaan hak asasi manusia sesuai dengan Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa, serta Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia.
Komnas HAM melaksanakan empat fungsi, yaitu pengkajian, penelitian, penyuluhan, dan mediasi tentang hak asasi manusia. Keempat fungsi tersebut selanjutnya dirinci menjadi 22 tugas dan kewenangan. Lebih lanjut tugas dan kewenangan tersebut dapat dibaca dalam UU No. 39 tahun 1999 Pasal 89.
Komnas HAM berkedudukan di ibukota negara RI. Anggota Komnas HAM terdiri atas tokoh-tokoh masyarakat yang profesional, berdedikasi dan berintegritas tinggi, menghayati cita-cita negara hukum dan negara kesejahteraan yang berintikan keadilan, menghormati hak asasi manusia dan kewajiban dasar manusia.
2) Pengadilan HAM
Pengadilan HAM dibentuk berdasarkan Undang-Undang No. 26 tahun 2000. Sebagai pengadilan khusus, pengadilan HAM berada di bawah lingkup peradilan umum dan berkedudukan di tingkat kabupaten/kota. Pengadilan HAM dibentuk khusus untuk mengadili pelanggaran HAM berat. Kejahatan genosida dan kejahatan terhadap kemanusiaan merupakan contoh pelanggaran HAM berat (Pasal 7).
Genosida
Usaha sistematis untuk menghabisi suatu kaum atau suku bangsa oleh suku bangsa lain disebut genosida. Tindakan pelanggaran hak asasi manusia ini adalah yang paling mengerikan dan membahayakan bagi kehidupan suatu bangsa.
Contoh tindakan genosida terjadi pada Perang Dunia II ketika Adolf Hitler yang kala itu menjadi penguasa Jerman hendak menghilangkan hak hidup bangsa Yahudi. Ribuan orang Yahudi mati di kamp-kamp konsentrasi. Setiap perbuatan yang dilakukan dengan maksud untuk menghancurkan atau memusnahkan seluruh atau sebagian kelompok bangsa, ras, kelompok etnis, kelompok agama disebut kejahatan genosida (Pasal 6).

Kejahatan Genosida dilakukan dengan cara :
(1) memaksakan tindakan-tindakan yang bertujuan mencegah adanya kelahiran di dalam kelompok,
(2) membunuh anggota kelompok,
(3) menciptakan kondisi kehidupan kelompok yang akan mengakibatkan kemusnahan secara fisik baik seluruh atau sebagiannya,
(4) mengakibatkan penderitaan fisik atau mental yang berat terhadap anggota-anggota kelompok, dan
(5) memindahkan secara paksa anak-anak dari kelompok tertentu ke kelompok lain.
b) Kejahatan kemanusiaan (crimes against humanity)
Perbuatan yang dilakukan sebagai bagian dari serangan yang meluas atau sistematik dan diketahui bahwa serangan tersebut ditujukan secara langsung terhadap penduduk sipil disebut kejahatan kemanusiaan.
Sebagai contoh, kekejaman Tentara Serbia Bosnia terhadap penduduk sipil Bosnia di tahun 1990-an dalam perang Balkan dan kekejaman Polpot saat memerintah sebagai Presiden Kamboja (1975–1979). Serangan kejahatan kemanusiaan tersebut menimbulkan:
(1) perampasan kemerdekaan atau perampasan kebebasan fisik orang lain secara sewenang-wenang sehingga melanggar asas-asas ketentuan pokok hukum internasional;
(2) penyiksaan;
(3) pembunuhan;
(4) penghilangan orang secara paksa;
(5) pemusnahan;
(6) perbudakan;
(7) pengusiran alau pemindahan penduduk secara paksa;
(8) penganiayaan terhadap suatu kelompok tertentu atau perkumpulan yang didasari persamaan paham politik, ras, kebangsaan, etnis, budaya, agama, jenis kelamin, atau alasan lain yang telah diakui secara universal sebagai hal yang dilarang menurut hukum internasional;
(9) kejahatan apartheid, yaitu sistem politik yang diskriminatif terhadap manusia atas dasar pembedaan ras, agama, dan suku bangsa;
(10) perkosaan, perbudakan seksual, pelacuran secara paksa, pemaksaan kehamilan, pemandulan atau sterilisasi secara paksa, atau bentukbentuk kekerasan seksual lain yang setara.
Bentuk-bentuk penegakan HAM tersebut juga meliputi lembaga-lembaga:
1) Pengadilan ad hoc HAM, yaitu pengadilan khusus untuk kasus-kasus HAM yang terjadi sebelum diberlakukannya Undang-Undang No. 26 tahun 2000.2) Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi, yaitu lembaga yang bertugas mencari kejelasan kasus HAM di luar pengadilan.

Pendekatan dalam upaya penegakan HAM

Pada umumnya, upaya penegakan HAM dilakukan dengan dua pendekatan sekaligus, yaitu pencegahan dan penindakan.
Upaya untuk menciptakan kondisi yang semakin kondusif bagi penghormatan HAM disebut dengan pencegahan, dilakukan melalui berbagai cara persuasif. Adapun upaya untuk menangani kasus pelanggaran HAM berdasarkan ketentuan hukum yang berlaku disebut penindakan
Penegakan melalui pencegahan Penegakan HAM melalui pencegahan, antara lain dilakukan dalam bentuk upaya-upaya berikut :
a) Penciptaan perundang-undangan dan pembentukan lembaga peradilan HAM.
b) Penciptaan lembaga-lembaga pemantau dan pengawas pelaksanaan HAM.
Lembaga ini bisa merupakan lembaga negara yang bersifat independen (misalnya, Komnas HAM) maupun lembaga-lembaga yang dibentuk atas inisiatif masyarakat (berbagai organisasi non-pemerintah/LSM yang bergerak dalam bidang pemantauan HAM).
c) Pelaksanaan pendidikan HAM kepada masyarakat melalui pendidikan dalam keluarga, sekolah, dan masyarakat. Dalam hal ini, media massa cetak maupun elektronik serta organisasi nonpemerintah/LSM yang bergerak dalam penyadaran masyarakat memiliki peran yang amat besar.
d) Penciptaan perundang-undangan HAM yang semakin lengkap, termasuk di dalamnya ratifikasi berbagai instrumen HAM internasional.
2) Pendekatan melalui penindakan
Penegakan HAM melalui penindakan dilakukan dalam bentuk upaya-upaya berikut :
a) Penyelesaian perkara melalui perdamaian, negosiasi, mediasi, konsiliasi, dan penilaian ahli. Komnas HAM bertugas dan berwenang melakukan proses ini.
b) Pelayanan, konsultasi, pendampingan, dan advokasi bagi masyarakat yang menghadapi kasus HAM. Dalam hal ini, lembaga-lembaga bantuan hukum serta organisasi nonpemerintah yang bergerak di bidang advokasi masyarakat memainkan peran penting.
c) Investigasi, yaitu pencarian data, informasi, dan fakta yang berkaitan dengan peristiwa dalam masyarakat yang patut diduga merupakan pelanggaran HAM. Investigasi ini merupakan tugas Komnas HAM. Namun, pada umumnya LSM HAM maupun media massa juga melakukannya secara independen.
d) Penyelesaian perkara pelanggaran HAM berat melalui proses peradilan di pengadilan HAM.
e) Penerimaan pengaduan dari korban pelanggaran HAM. Dalam hal ini Komnas HAM, lembaga-lembaga bantuan hukum, dan LSM HAM memiliki peran penting.

Kasus Pelanggaran HAM

Kasus Marsinah
Marsinah (10 April 1969 – Mei 1993) adalah seorang aktivis dan buruh pabrik PT. Catur Putra Surya (CPS) Porong, Sidoarjo, Jawa Timur yang diculik dan kemudian ditemukan terbunuh pada 8 Mei 1993 setelah menghilang selama tiga hari. Mayatnya ditemukan di hutan di Dusun Jegong Kecamatan Wilangan Nganjuk, dengan tanda-tanda bekas penyiksaan berat.
Dua orang yang terlibat dalam otopsi pertama dan kedua jenazah Marsinah, Haryono (pegawai kamar jenazah RSUD Nganjuk) dan Prof. Dr. Haroen Atmodirono (Kepala Bagian Forensik RSUD Dr. Soetomo Surabaya), menyimpulkan, Marsinah tewas akibat penganiayaan berat.
Marsinah memperoleh Penghargaan Yap Thiam Hien pada tahun yang sama.
Kasus ini menjadi catatan ILO (Organisasi Buruh Internasional), dikenal sebagai kasus 1713.
Awal tahun 1993, Gubernur KDH TK I Jawa Timur mengeluarkan surat edaran No. 50/Th. 1992 yang berisi himbauan kepada pengusaha agar menaikkan kesejahteraan karyawannya dengan memberikan kenaikan gaji sebesar 20% gaji pokok. Himbauan tersebut tentunya disambut dengan senang hati oleh karyawan, namun di sisi pengusaha berarti tambahannya beban pengeluaran perusahaan. Pada pertengahan April 1993, Karyawan PT. Catur Putera Surya (PT. CPS) Porong membahas Surat Edaran tersebut dengan resah. Akhirnya, karyawan PT. CPS memutuskan untuk unjuk rasa tanggal 3 dan 4 Mei 1993 menuntut kenaikan upah dari Rp 1700 menjadi Rp 2250.
Marsinah adalah salah seorang karyawati PT. Catur Putera Perkasa yang aktif dalam aksi unjuk rasa buruh. Keterlibatan Marsinah dalam aksi unjuk rasa tersebut antara lain terlibat dalam rapat yang membahas rencana unjuk rasa pada tanggal 2 Mei 1993 di Tanggul Angin Sidoarjo.
3 Mei 1993, para buruh mencegah teman-temannya bekerja. Komando Rayon Militer (Koramil) setempat turun tangan mencegah aksi buruh.
4 Mei 1993, para buruh mogok total mereka mengajukan 12 tuntutan, termasuk perusahaan harus menaikkan upah pokok dari Rp 1.700 per hari menjadi Rp 2.250. Tunjangan tetap Rp 550 per hari mereka perjuangkan dan bisa diterima, termasuk oleh buruh yang absen.
Sampai dengan tanggal 5 Mei 1993, Marsinah masih aktif bersama rekan-rekannya dalam kegiatan unjuk rasa dan perundingan-perundingan. Marsinah menjadi salah seorang dari 15 orang perwakilan karyawan yang melakukan perundingan dengan pihak perusahaan.
Siang hari tanggal 5 Mei, tanpa Marsinah, 13 buruh yang dianggap menghasut unjuk rasa digiring ke Komando Distrik Militer (Kodim) Sidoarjo. Di tempat itu mereka dipaksa mengundurkan diri dari CPS. Mereka dituduh telah menggelar rapat gelap dan mencegah karyawan masuk kerja. Marsinah bahkan sempat mendatangi Kodim Sidoarjo untuk menanyakan keberadaan rekan-rekannya yang sebelumnya dipanggil pihak Kodim. Setelah itu, sekitar pukul 10 malam, Marsinah lenyap.
Mulai tanggal 6,7,8, keberadaan Marsinah tidak diketahui oleh rekan-rekannya sampai akhirnya ditemukan telah menjadi mayat pada tanggal 8 Mei 1993.
Tanggal 30 September 1993 telah dibentuk Tim Terpadu Bakorstanasda Jatim untuk melakukan penyelidikan dan penyidikan kasus pembunuhan Marsinah. Sebagai penanggung jawab Tim Terpadu adalah Kapolda Jatim dengan Dan Satgas Kadit Reserse Polda Jatim dan beranggotakan penyidik/penyelidik Polda Jatim serta Den Intel Brawijaya.
Delapan petinggi PT CPS ditangkap secara diam-diam dan tanpa prosedur resmi, termasuk Mutiari selaku Kepala Personalia PT CPS dan satu-satunya perempuan yang ditangkap, mengalami siksaan fisik maupun mental selama diinterogasi di sebuah tempat yang kemudian diketahui sebagai Kodam V Brawijaya. Setiap orang yang diinterogasi dipaksa mengaku telah membuat skenario dan menggelar rapat untuk membunuh Marsinah. Pemilik PT CPS, Yudi Susanto, juga termasuk salah satu yang ditangkap.
Baru 18 hari kemudian, akhirnya diketahui mereka sudah mendekam di tahanan Polda Jatim dengan tuduhan terlibat pembunuhan Marsinah. Pengacara Yudi Susanto, Trimoelja D. Soerjadi, mengungkap adanya rekayasa oknum aparat kodim untuk mencari kambing hitam pembunuh Marsinah.
Secara resmi, Tim Terpadu telah menangkap dan memeriksa 10 orang yang diduga terlibat pembunuhan terhadap Marsinah. Salah seorang dari 10 orang yang diduga terlibat pembunuhan tersebut adalah Anggota TNI.
Hasil penyidikan polisi ketika menyebutkan, Suprapto (pekerja di bagian kontrol CPS) menjemput Marsinah dengan motornya di dekat rumah kos Marsinah. Dia dibawa ke pabrik, lalu dibawa lagi dengan Suzuki Carry putih ke rumah Yudi Susanto di Jalan Puspita, Surabaya. Setelah tiga hari Marsinah disekap, Suwono (satpam CPS) mengeksekusinya.
Di pengadilan, Yudi Susanto divonis 17 tahun penjara, sedangkan sejumlah stafnya yang lain itu dihukum berkisar empat hingga 12 tahun, namun mereka naik banding ke Pengadilan Tinggi dan Yudi Susanto dinyatakan bebas. Dalam proses selanjutnya pada tingkat kasasi, Mahkamah Agung Republik Indonesia membebaskan para terdakwa dari segala dakwaan (bebas murni). Putusan Mahkamah Agung RI tersebut, setidaknya telah menimbulkan ketidakpuasan sejumlah pihak sehingga muncul tuduhan bahwa penyelidikan kasus ini adalah “direkayasa”.

 

 

Daftar Pustaka
http://www.geschool.net/dandy/blog/sejarah-ham-di-dunia-dan-di-indonesia
http://arifkrahman.guru-indonesia.net/artikel_detail-32839.html

 

A. KETERKAITAN IDENTITAS NASIONAL DENGAN GLOBALISASI

1. IDENTITAS NASIONAL

a. Hakikat Identitas Nasional
Pengertian Identitas
• Ciri – ciri, tanda – tanda, jati diri yang menandai suatu benda atau orang.
• Ciri: ciri fisik dan ciri non fisik
• Identitas ada yang melekat sejak lahir ada yang diperoleh melalui tindakan

Identitas adalah pengenalan atau pengakuan terhadap seseorang yang termasuk dalam suatu golongan yang dilakukan berdasarkan atas serangkaian ciri – ciri yang merupakan suatu kesatuan bulat dan menyeluruh, serta menandainya sehingga dapat dimasukkan dalam golongan tersebut” (Parsudi Suparlan: 1999)
Contoh: Polisi, Gender, dll.

Fungsi identitas nasional
Kenapa sebuah bangsa memerlukan Identitas?
• Identitas diperlukan dalam interaksi antar bangsa (baik individu maupun kelompok/negara)
• Identitas nasional sebuah bangsa menentukan status dan peranan bangsa tersebut di dunia Internasional
• Pola interaksi antar identitas dalam suatu masyarakat bangsa menunjukkan struktur sosial masyarakat tersebut.
Identitas nasional Indonesia merujuk pada suatu bangsa yang majemuk. Kemajemukan itu merupakan gabungan dari unsur-unsur pembentuk identitas yaitu suku bangsa, agama kebudayaan dan bahasa.

1. Suku Bangsa
Suku bangsa adalah golongan sosial yang khusus yang bersifat askriptif (ada sejak lahir), yang sama coraknya dengan golongan umur dan jenis kelamin di Indonesia terdapat banyak sekali suku bangsa atau kelompok etnis dengan tidak kurang dari 300 dialeg bahasa.

2. Agama
Bangsa Indonesia di kenal sebagai masyarakat agamis. Agama-agama yang tumbuh dan berkembang dinusantara adalah Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buda, dan Kong Hu Cu.agama Kong Hu Cu pada masa.
Orde Baru tidak di akui sebagai agama resmi Negara. Tetapi sejak pemerintahan presiden Abdurrahman Wahid, istilah agama resmi Negara di hapuskan.

3. Kebudayaan
Kebudayaan adalah pengetahuan manusia sebagai mahluk sosial yang isinya adalah perangkat-perangkat atau model-model pengetahuan secara kolektif di gunakan oleh pendukung-pendukungnya untuk menafsirkan dan memahami lingkungan yang dihadapi dan digunakan sebagai rujukan atau pedoman bertindak (dalam bentuk kelakuan dan bentuk-bentuk kebudayaan) sesuai dengan lingkungan yang dihadapi. Intinya kebudayaan merupakan patokan nilai-nilai etika dan moral, baik yang tergolong sebagai edeal atau yang seharusnya (world view) maupun yang operasional dan actual didalam kehidupan sehari-hari (ethos).

4. Bahasa
Bahasa merupakan unsur pendukung identitas nasional yang lain. Bisa dipahami sistem perlambang yang secara arbiter dibentuk atas unsure-unsur bunyi ucapan manusia dan digunakan sebagai sarana berinteraksi antar manusia. Di Indonesia terdapat beragam bahasa daerah yang mewakili banyaknya suku-suku bangsa atau etnis.
Setelah kemerdekaan, bahasa Indonesia ditetapkan sebagai bahasa nasional. Bahasa Indonesia dahulu dikenal dengan sebutan bahasa melayu yang merupakan bahasa penghubung (linguafranca) berbagai etnis yang mendiami kepulauan nusantara. Selain menjadi bahasa komonikasi diantara suku-suku di nusantara, bahasa melayu juga menempati posisi bahasa transaksi perdagangan internasional dikawasan kepulauan di nusantara yang digunakan oleh berbagai suku bangsa Indonesia dengan para pedagang asing.

GLOBALISASI

Menurut asal katanya, kata “globalisasi” diambil dari kata global, yang maknanya ialah universal. Achmad Suparman menyatakan Globalisasi adalah suatu proses menjadikan sesuatu (benda atau perilaku) sebagai ciri dari setiap individu di dunia ini tanpa dibatasi oleh wilayah Globalisasi belum memiliki definisi yang mapan, kecuali sekedar definisi kerja (working definition), sehingga bergantung dari sisi mana orang melihatnya. Ada yang memandangnya sebagai suatu proses sosial, atau proses sejarah, atau proses alamiah yang akan membawa seluruh bangsa dan negara di dunia makin terikat satu sama lain, mewujudkan satu tatanan kehidupan baru atau kesatuan ko-eksistensi dengan menyingkirkan batas-batas geografis, ekonomi dan budaya masyarakat.
Di sisi lain, ada yang melihat globalisasi sebagai sebuah proyek yang diusung oleh negara-negara adikuasa, sehingga bisa saja orang memiliki pandangan negatif atau curiga terhadapnya. Dari sudut pandang ini, globalisasi tidak lain adalah kapitalisme dalam bentuk yang paling mutakhir. Negara-negara yang kuat dan kaya praktis akan mengendalikan ekonomi dunia dan negara-negara kecil makin tidak berdaya karena tidak mampu bersaing. Sebab, globalisasi cenderung berpengaruh besar terhadap perekonomian dunia, bahkan berpengaruh terhadap bidang-bidang lain seperti budaya dan agama. Theodore Levitte merupakan orang yang pertama kali menggunakan istilah Globalisasi pada tahun 1985.
Jan Aart Scholte melihat bahwa ada beberapa definisi yang dimaksudkan orang dengan globalisasi:
 Internasionalisasi: Globalisasi diartikan sebagai meningkatnya hubungan internasional. Dalam hal ini masing-masing negara tetap mempertahankan identitasnya masing-masing, namun menjadi semakin tergantung satu sama lain.
 Liberalisasi: Globalisasi juga diartikan dengan semakin diturunkankan batas antar negara, misalnya hambatan tarif ekspor impor, lalu lintas devisa, maupun migrasi.
 Universalisasi: Globalisasi juga digambarkan sebagai semakin tersebarnya hal material maupun imaterial ke seluruh dunia. Pengalaman di satu lokalitas dapat menjadi pengalaman seluruh dunia.
 Westernisasi: Westernisasi adalah salah satu bentuk dari universalisasi dengan semakin menyebarnya pikiran dan budaya dari barat sehingga mengglobal.
Hubungan transplanetari dan suprateritorialitas: Arti kelima ini berbeda dengan keempat definisi di atas. Pada empat definisi pertama, masing-masing negara masih mempertahankan status ontologinya. Pada pengertian yang kelima, dunia global memiliki status ontologi sendiri, bukan sekadar gabungan negara-negara.
Adanya Era Globalisasi dapat berpengaruh terhadap nilai-nilai budaya bangsa Indonesia. Era Globalisasi tersebut mau tidak mau, suka atau tidak suka telah datang dan menggeser nilai-nilai yang telah ada. Nilai-nilai tersebut baik yang bersifat positif maupun yang bersifat negatif. Ini semua merupakan ancaman, tantangan dan sekaligus sebagai peluang bagi bangsa Indonesia untuk berkreasi, dan berinovasi di segala aspek kehidupan.
Di Era Globalisasi pergaulan antar bangsa semakin ketat. Batas antar negara hampir tidak ada artinya, batas wilayah tidak lagi menjadi penghalang. Di dalam pergaulan antar bangsa yang semakin kental itu akan terjadi proses alkulturasi, saling meniru dan saling mempengaruhi antara budaya masing-masing. Yang perlu kita cermati dari proses akulturasi tersebut apakah dapat melunturkan tata nilai yang merupakan jati diri bangsa Indoensia. Lunturnya tata nilai tersebut biasanya ditandai oleh dua faktor yaitu :
1) Semakin menonjolnya sikap individualistis yaitu mengutamakan kepentingan pribadi diatas kepentingan umum, hal ini bertentangan dengan azas gotong-royong.
2) Semakin menonjolnya sikap materialistis yang berarti harkat dan martabat kemanusiaan hanya diukur dari hasil atau keberhasilan seseorang dalam memperoleh kekayaan. Hal ini bisa berakibat bagaimana cara memperolehnya menjadi tidak dipersoalkan lagi. Bila hal ini terjadi berarti etika dan moral telah dikesampingkan.

IDENTITAS NASIONAL DAN GLOBALISASI

Secara harfiah identitas adalah ciri-ciri, tanda-tanda atau jati diri yang melekat pada sesuatu atau seseorang yang membedakannya dengan yang lain, baik fisik maupun non fisik. Identitas Nasional adalah identitas yang melekat pada kelompok yang lebih besar yang diikat oleh kesamaan-kesamaan fisik seperti budaya, agama, dan bahasa atau yang bersifat non fisik seperti keinginan, cita-cita, dan tujuan.
Secara teoritis, seperti dikatakan Koento Wibisono, pengertian identitas pada hakekatnya merupakan manifestasi nilai-nilai budaya yang tumbuh dan berkembang dalam aspek kehidupan suatu bangsa dengan ciri-ciri khas, dan dengan ciri-ciri yang khas tersebut maka suatu bangsa berbeda dengan bangsa lain dalam kehidupannya.
Dengan demikian Identitas Nasional suatu bangsa adalah ciri khas yang dimiliki suatu bangsa yang membedakannya dari bangsa lainnya. Namun demikian proses pembetukan Identitas Nasional bukan merupakan sesuatu yang sudah selesai, tetapi sesuatu yang terbuka dan terus berkembang mengikuti perkembangan jaman. Akan terjadi pergeseran nilai dari identitas itu sendiri apabila identitas itu tidak dapat dijaga dan dilestarikan, sehingga mengakibatkan identitas global akan mempengaruhi nilai identitas nasional itu sendiri.
Globalisasi,sebuah kata yang mengandung makna sangat luas dan akibatnya sangat berpengaruh terhadap dunia global. Gelombang globalisasi memasuki dunia tanpa mampu dibendung. Ia menjadi alat pengubah yang sangat cepat dan hebat bagi dunia. Semua negara di dunia merasakan dampak globalisasi tanpa kecuali. Lalu bagaimana dampak yang dialami Indonesia? Apa kaitannya dengan kehidupan berbangsa dan bernegara Indonesia?
Globalisasi telah menyerang Indonesia. Terdapat tiga aspek mendasar pengaruh globalisasi ini meliputi pasar bebas (perdagangan), industrialisasi, dan pergeseran kebudayaan.
Pasar bebas merupakan ciri khas globalisasi. Pasar bebas dapat membinasakan siapa saja yang tidak mampu bertahan. Ini mencirikan bahwa pasar bebas membawa aspek liberalis dalam pelaksanaannya. Yang kaya semakin kaya, sementara yang miskin semakin miskin, terbentuk suatu jurang kesenjangan ekonomi dan sosial yang dalam. Jelas ini berbeda dengan nilai-nilai bangsa dan negara Indonesia. Seharusnya bangsa Indonesia membangun perekonomian berdasarkan pada asas kekeluargaan sesuai yang tertuang dalam Pancasila dan UUD 1945. Pembangunan perekonomian harus berjalan seimbang bagi seluruh rakyat sehingga dapat tercapai kemakmuran yang merata. Namun, dengan adanya desakan globalisasi dalam wujud pasar bebas ini, asas kekeluargaan menjadi terabaikan. Swasta semakin egois mengikuti arus pasar bebas, sementara mereka yang tidak dapat mengikuti terlindas dan semakin sengsara. Jika demikian, dimanakah rasa persatuan dan kekeluargaan kita?
Indikator lain dari globalisasi adalah industrialisasi. Industri menjamur di Indonesia, di setiap daerah, di setiap tempat, bahkan perumahan pun disita untuk pembangunan industri. Industri telah menjadi senjata bagi para swasta untuk memajukan perekonomiannya sendiri tanpa memperhatikan lingkungan sekitarnya. Mulai dari mengagung-agungkan modal asing, mengeksploitasi para buruh, hingga tak peduli dengan pencemaran lingkungan akibat limbah yang dihasilkannya. Apa yang akan terjadi dengan bangsa ini jika hal ini berlangsung terus? Perlu adanya suatu perubahan besar dalam pembangunan industri Indonesia demi keutuhan bangsa dan negara Indonesia.
Dengan adanya globalisasi, intensitas hubungan masyarakat antara satu negara dengan negara yang lain menjadi semakin tinggi. Dengan demikian kecenderungan munculnya kejahatan yang bersifat transnasional menjadi semakin sering terjadi. Kejahatan-kejahatan tersebut antara lain terkait dengan masalah narkotika, pencucian uang (money laundering), peredaran dokumen keimigrasian palsu dan terorisme. Masalah-masalah tersebut berpengaruh terhadap nilai-nilai budaya bangsa yang selama ini dijunjung tinggi mulai memudar. Hal ini ditunjukkan dengan semakin merajalelanya peredaran narkotika dan psikotropika sehingga sangat merusak kepribadian dan moral bangsa khususnya bagi generasi penerus bangsa. Jika hal tersebut tidak dapat dibendung maka akan mengganggu terhadap ketahanan nasional di segala aspek kehidupan bahkan akan menyebabkan lunturnya nilai-nilai identitas nasional.
Pergeseran budaya Indonesia menuju ke budaya barat juga merupakan dampak dari globalisasi. Begitu banyak perubahan sikap dan perilaku bangsa yang semakin memperburuk citra Indonesia. Sebut saja seks bebas dan perilaku masyarakat yang bangga jika bisa membeli barang impor. Lunturnya warisan budaya dan kebanggaan sebagai bangsa Indonesia itulah yang terjadi saat ini.
Tidak dapat dipungkiri. Indonesia harus mengikuti arus globalisasi. Namun, kita harus mengambil sisi positifnya dan menekan sisi negatif globalisasi. Dengan memegang teguh nilai-nilai berbangsa dan bernegara, kita pasti dapat mengikuti arus tanpa hanyut ke dasar yang dalam.

Apapun pasti punya dua sisi yaitu negatif dan positif, pengaruh Globalisasi terhadap identitas nasional.
a. Negatif :
– akulturasi yang berlebihan
– internasionalisme
– plagiat budaya oranglain
– kacang lupa kulitnya
b. Positif :
– Lebih cinta tanah air karena ternyata negara kita punya banyak potensi dan bisa dibanggakan di mata dunia
– sosialisasi id nasional
– mengenalkan budaya sendiri
– ikut dalam pembangunan masyarakat dunia dan berandil dalam setiap pengambilan keputusan sehingga kita tdk akan dirugikan

Globalisasi adalah keterkaitan dan ketergantungan antar bangsa dan antar manusia di seluruh dunia melalui perdagangan, investasi, perjalanan, budaya populer, dan bentuk-bentuk interaksi yang lain sehingga batas-batas suatu negara menjadi semakin sempit.
Globalisasi adalah suatu proses di mana antar individu, antar kelompok, dan antar negara saling berinteraksi, bergantung, terkait, dan memengaruhi satu sama lain yang melintasi batas negara
Dalam banyak hal, globalisasi mempunyai banyak karakteristik yang sama dengan internasionalisasi sehingga kedua istilah ini sering dipertukarkan. Sebagian pihak sering menggunakan istilah globalisasi yang dikaitkan dengan berkurangnya peran negara atau batas-batas negara.

B. KETERKAITAN IDENTITAS NASIONAL DENGAN INTEGRASI NASIONAL INDONESIA

Integrasi nasional adalah usaha dan proses mempersatukan perbedaan perbedaan yang ada pada suatu negara sehingga terciptanya keserasian dan keselarasan secara nasional. Sedangkan Identitas nasional secara terminologis adalah suatu ciri yang dimiliki oleh suatu bangsa yang secara filosofis membedakan bangsa tersebut dengan bangsa yang lain. Antara Integrasi nasional dan identitas nasional negara Indonesia sangatlah tekait. Mengapa? Karena Indonesia terdiri dari berbagai macam suku yang disatukan melalui persatuan dibawah bendera merah putih dan ‘Bhineka Tunggal Ika’ melalui proses ini terjadi proses integrasi nasional dimana perbedaan yang ada dipersatukan sehingga tercipta keselarasan. Persatuan dari kemajemukan suku inilah yang menjadi salah satu ciri khas bangsa Indonesia yang membedakannya dengan bangsa lain. Sehingga adanya kompleksitas perbedaan suku yang bersatu di Indonesia dijadikan sebagai identitas bangsa sebagai bangsa yang majemuk yang kaya akan suku, tradisi dan bahasa dalam wujud semboyang ‘Bhineka Tunggal Ika’, berbeda-beda tapi tetap satu jua. Jadi, antara integrasi nasional dan identitas nasional memiliki keterkaitan, karena dalam hal ini, di Indonesia Integrasi nasional di jadikan sebagai salah satu identitas nasional dimana konsep ‘Bhineka Tunggal Ika’ yang merupakan hasil dari integrasi nasional dijadikan sebagai identitas nasional, semboyang ini tidak akan pernah ada di negara lain, semboyang ini hanya ada di Indonesia dan menjadi identitas bangsa yang membedakan bangsa Indonesia dengan bangsa yang lainnya.
Seperti yang kita ketahui, Indonesia merupakan bangsa yang sangat besar baik dari kebudayaan ataupun wilayahnya. Di satu sisi hal ini membawa dampak positif bagi bangsa karena kita bisa memanfaatkan kekayaan alam Indonesia secara bijak atau mengelola budaya budaya yang melimpah untuk kesejahteraan rakyat, namun selain menimbulkan sebuah keuntungan, hal ini juga akhirnya menimbulkan masalah yang baru. Kita ketahui dengan wilayah dan budaya yang melimpah itu akan menghasilkan karakter atau manusia manusia yang berbeda pula sehingga dapat mengancam keutuhan bangsa Indonesia.
Masalah integrasi nasional di Indonesia sangat kompleks dan multi dimensional. Untuk mewujudkannya diperlukan keadilan, kebijakan yang diterapkan oleh pemerintah dengan tidak membedakan ras, suku, agama, bahasa dan sebagainya. Sebenarnya upaya membangun keadilan, kesatuan dan persatuan bangsa merupakan bagian dari upaya membangun dan membina stabilitas politik disamping upaya lain seperti banyaknya keterlibatan pemerintah dalam menentukan komposisi dan mekanisme parlemen.
Dengan demikian upaya integrasi nasional dengan strategi yang mantap perlu terus dilakukan agar terwujud integrasi bangsa Indonesia yang diinginkan. Upaya pembangunan dan pembinaan integrasi nasional ini perlu karena pada hakekatnya integrasi nasional tidak lain menunjukkan tingkat kuatnya persatuan dan kesatuan bangsa yang diinginkan. Pada akhirnya persatuan dan kesatuan bangsa inilah yang dapat lebih menjamin terwujudnya negara yang makmur, aman dan tentram. Jika melihat konflik yang terjadi di Aceh, Ambon, Kalimantan Barat dan Papua merupakan cermin dan belum terwujudnya Integrasi Nasional yang diharapkan. Sedangkan kaitannya dengan Identitas Nasional adalah bahwa adanya integrasi nasional dapat menguatkan akar dari Identitas Nasional yang sedang dibangun.

C. REVITALISASI PANCASILA SEBAGAI PEMBERDAYAAN IDENTITAS NASIONAL

Karakteristik masyarakat yang hidup di kota-kota besar Indonesia berbeda dengan orang-orang yang hidup di pedesaan. Ini terlihat dari aktifitas yang mereka jalani dalam keseharainnya. Rutinitas diperkotaan sangatlah jauh dengan pedesaan. Dampaknya pun dapat berakibat pada aspek ekonomi, adat, dan budaya.
Namun yang menjadi permasalahan terhadap perbedaan nyata ialah identitas diri. Unsur identitas sendiri terdiri dari suku bangsa, agama, kebudayaan, dan bahasa. Indonesia merupakan negara yang memiliki keanekaragaman sehingga diberi seloka Bhineka Tunggal Ika Tanhana Dharma Mangrwa. Secara harfiah dapat diartikan. Berbeda-beda tetapi satu jua atau diantara puspa ragam adalah kesatuan.
Bukanlah lagi perbedaan antarsuku lagi yang menjadi topik perbincangan, tetapi moralitas kota dan pedesaan. Kebanyakan masyarakat kota kurang adanya kesadaran diri dalam berkontribusi. Moralitas, etika, religius jarang ditemui oleh mereka yang selalu merasa diri benar. Terkecuali pada orang-orang besar yang bisa membantu faktor ekonomi seseorang.
Lain halnya lagi dengan pedesaan, mereka masih aktif gemar bergotong royong. Adat daerahpun tetap dipertahankan. Budaya yang mereka cintai senantiasa terjaga dan terealisasikan. Kecintaan pada Tuhanpun selamanya ada selama keimanan mereka ada.
Perbedaan tersebut dapat direvitalisasi melalui kesadaran diri terhadap identitas nasional dengan menjunjung nilai Pancasila. Revitalisasi Pancasila sebagai manifestasi identitas nasional yang semestinya diarahkan pada pembinaan dan pengembangan moral. Moralitas merupaka bagian dari revitalisasi yang dapat dijadikan dasar dan arah dalam upaya untuk mengubah semua segi dan sendi kehidupan.
Dalam merevitalisasi Pancasila sebagai manifestasi Identitas Nasional hendaknya dikaitkan dengan wawasan spiritual, akademis, kebangsaan, dan mondial. Spiritual, berkaitan dengan moral, etika, dan religius. Sikap seperti ini dapat menunjang pribadi seseorang menjadi lebih baik. Andai kata seseorang tidak memiliki sikap etik dalam dirinya dapat berdampak buruk pada dirinya. Misalnya dikucilkan dari masyarakat, tidak mendapatkan perhatian lebih, dan sedikitnya masyarakat yang ingin bersosialisasi.
Akademis, untuk merubah kerangka sumber daya manusia (SDM) yang bukan sekedar instrument melainkan sebagai subyek pembaharuan dan pencerahan. Hal ini menunujukkan bahwa nilai akademisi yang dilihat bukanlah ditinjau dari prestasi saja akan tetapi ditunjang dengan adanya bentuk kontributif dan aplikatif.
Kebangsaan, untuk menumbuhkan kesadaran nasionalisme. Kesadaran ini dapat diterapkan dalam pergaulan antarbangsa. Potensi pribadi di luar sana dapat ditumbuhkembangkan, tetapi pastinya tidak lupa dengan negeri sendiri. Alangkah baiknya apabila potensi yang sudah diperoleh diterapkan di Indonesia demi terwujudnya nasionalisme diri terhadap bangsa.
Mondial, untuk menyadarkan bahwa manusia harus siap menghadapi dialektika perkembangan dalam masyarakat dunia yang “terbuka”. Sehubungan dengan dampak dan pengaruh perkembangan iptek yang bukan sekedar prasarana, melainkankan menjadi sesuatu yang substansif. Namun ini dapat dijadikan peluang dan tantangan untuk berkarya guna untuk umat manusia.
Pemberdayaan identitas nasional dapat dieksplorasikan meliputi realitas, idealis, dan fleksibelitas. Manusia menjadikan rasio sebagai mitos, kesahihan tradisi dapat dikritisi demi masa depan lebih baik. Nilai-nilai budaya yang diajarkan nenek moyang tidak hanya diwarisi sebagai barang sudah “jadi”, tetapi harus diperjuangkan dan ditumbuhkan dalam dimensi ruang.
Melalui revitalisasi pancasila sebagai wujud pemberdayaan identitas nasional ini, sebagai kritik sosial terhadap berbagai penyimpangan yang melanda masyarakat dewasa ini. Guna untuk membentuk jati diri bangsa. Misalnya gotong royong, persatuan dan kesatuan, serta saling menghargai dan menghormati. Dengan seperti ini dapat mempererat persatuan bangsa.
Tindakan seperti dapat dijadikan sebuah gerakan kecil yang muncul dalam diri kita pribadi. Tidak hanya untuk orang-orang dewasa, tetapi pada anak remaja pun harus sudah diterapkan. Kebangkitan suatu negara ditinjau seberapa banyak pemuda yang siap membantu negaranya dalm mengatasii berbagai hal. Minimalnya dengan mengayomi atau memperdalam butir-butir dan fungsi pancasila baik di perkotaan maupun pedesaan.

DAFTAR PUSTAKA

http://akumagnae.tumblr.com/post/19108136118/identitas-nasional-dan-globalisasi
http://www.google.com/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=6&ved=0CFcQFjAF&url=http%3A%2F%2Fwpurwanis.staff.gunadarma.ac.id%2FDownloads%2Ffiles%2F35246%2FModul%2B4%2BPkn.doc&ei=TLUYU-H9A6WG0AG6zYH4Cw&usg=AFQjCNFzYwsIugqXdhu71fMP2_oMerY77Q&sig2=toZSlRn3-1Ol8SVyn4JZgw&bvm=bv.62577051,d.dmQ

Klik untuk mengakses 3.-Identitas-Nasional.pdf


http://id.wikipedia.org/wiki/Globalisasi

“PERENCANAAN BUDIDAYA IKAN SIDAT”

KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan nikmat serta hidayah-Nya terutama nikmat kesempatan dan kesehatan sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah mata kuliah “DASAR-DASAR MANAJEMEN”. Kemudian shalawat beserta salam kita sampaikan kepada Nabi besar kita Muhammad SAW yang telah memberikan pedoman hidup yakni Al-Qur’an dan sunnah untuk keselamatan umat di dunia.
Makalah ini merupakan salah satu tugas mata kuliah Dasar-dasar Manajemen di program studi Perikanan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan di Universitas Padjajaran. Selanjutnya Penyusun mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada dosen pengajar selaku dosen pembimbing mata kuliah Dasar-dasar Manajemen dan kepada segenap pihak yang telah memberikan bimbingan serta arahan selama penulisan makalah ini.
Akhirnya Penyusun menyadari bahwa banyak terdapat kekurangan-kekurangan dalam penulisan makalah ini, maka dari itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang konstruktif dari para pembaca demi kesempurnaan makalah ini.

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Konsumsi ikan sidat di Indonesia masih bisa dibilang kurang, mereka masih menganggap aneh atau baru terhadap ikan sidat. Orang Indonesia lebih memilih dan mengenal belut daripada ikan sidat, padahal kandungan protein dalam ikan sidat tidak kalah dengan belut.
Penelitian kedokteran modern menemukan bahwa kandungan vitamin dan mikronutrien dalam ikan sidat sangat tinggi, diantaranya vitamin B1 25 kali lipat dari susu sapi, vitamin B2 5 kali lipat dari susu sapi, vitamin A 45 kali lipat disbanding susu sapi, zinc 9 kali lipat dari susu sapi, asam lemak omega 3 tinggi 10 gr/100 gr, gizi tinggi, kaya protein, vitamin D dan E serta asam lemak amino lemak ganggang, dan asam ribonukleat.
Mempunyai rentang salinitas yang tinggi sangat tinggi. Selain itu manfaat ikan sidat dalam kesehatan seperti menurunkan lemak jenuh dalam darah, mencegah dan menghindari penyakit atroklorosis, juga sebagai penambah energy bagi tubuh.

1.2 Visi dan Misi

1.2.1 Visi
• Menjadikan ikan sidat sebagaiikan yang dapat di budidayakan secara massal
• Menjadikan bdidaya ikan sidat sebagai factor utama dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat
• Menjadikan ikan sidat sebagai komoditas ekspor utama dalam meningkatkan devisa Negara
• Memerikan pengaruh kepada petani budidaya untuk membudidayakan ikan sidat
• Memanfaatkan potensi suberdaya ikan sidat untuk pengembangan wilayah pesisir
• Menjadikan ikan sidat sebagai salah satu makanan yang digemari masyarakat

1.2.2 Misi
• Memberikan wawasan tentang bagaimana budidaya ikan kepada masyarakat dengan baik dan benar
• Menigkatkan produktivitas ikan sidat dengan mengolahnya
• Menigkatkan pengolahan ikan sidat menjadi bahan jadi dalam enigkatkan devisa Negara
• Mengembangkan industry budidaya ikan sidat untuk mensejaherakan masyarakat pelaku usaha budidaya

1.3 Maksud dan Tujuan

1.3.1 Maksud
Melalui kelompok ini diharapkan usaha perikanan budidaya di kelas semakin berkembang dan membawa dampak perubahan yang baik.

1.3.2 Tujuan
• Untuk mengetahui tahap-tahap budidaya yang ada di Indonesia
• Agar mengetahui jenis-jenis ikan sidat
• Agar dapat membudidayakan ikan sidat yang baik dan benar.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Perencanaan Program Pembuatan Budidaya Ikan Sidat

2.1.1 Penentuan Daerah / Tempat Pembuatan Kolam
Ikan sidat merupakan salah satu ikan yang sampai saat ini masih belum bisa dibudidayakan dalam artian dikembangbiakkan. Untuk sekarang atau saat ini, ikan sidat hanya bisa dibudidaya pembesaran saja dengan mengambil benih atau bibitnya dari sungai atau muara.
Daerah atau tempat disini merupakan daerah yang akan dipakai untuk proses pembudidayaan misalnya dataran rendah, dataran tinggi, atau yang lainnya. Hal – hal yang harus diperhatikan yaitu suhu dan hal lainnya. Penempatan pembudidayaan sebaiknya dilakukan di tempat yang mendekati sungai dan suhu yang tidak terlalu rendah.

Dari tempat pembudidayaan menuju sungai kurang lebih 25 – 100 m. untuk meminimalisir terjadinya abrasi (pengikisan tanah akibat arus sungai), maka ditempatkanlah jarak sekitar 20m. selain itu, supaya tidak terlalu jauh ketika akan membuat saluran air atau ketika akan menggunakan pompa air untuk mengambil air. Adapun suhu yang baik untuk proses budidaya adalah sekitar 29 – 31°C.

2.1.2. Pembuatan Kolam
Pembuatan kolam ikan sidat merupakan aspek prnting dalam pembudidayaan ikan sidat. Adapun kriteria pembuatan kolamnya adalah :
1. Ukuran kolam sebaiknya 2 x 7 x 0,7 m (dilapisi plastic atau terpal).
2. Kedalaman air 40 cm.
3. Keadaan air harus mengalir ataupun diputar dengan pompa air
4. Keadaan oksigen

Catatan :
Jika kolam terbuat dari tanah harus dilapisi plastik atau terpal, jika kolam terbuat dari semen tidak diharuskan untuk memakai terpal atau plastik.
Dikarenakan ikan sidat merupakan ikan yang belum bisa dikembangbiakkan oleh manusia (pembudidaya), maka pembudidayaan dilakukan dengan cara menangkap larva ikan sidat di sungai atau sekitar muara. Maka jumlah kolam pembudidayaan ikan sidat tidak ditentukan secara pasti hanya sesuai kebutuhan minimal 3 atau 4 Kolam.
Kolam 1 untuk larva ikan sidat (glass eel) dari hasil penangkapan di muara kira – kira usia sampai 2 minggu.
Kolam 2 usia 2 minggu – 2 bulan.
Kolam 3 usia 2 bulan – usia panen ekitar 7 – 8 bulan.
Adapun peralatan yang digunakan :
Filter air : batu zeloid, arang (harus ada filternya)
Mesin pompa air kolam
Pompa udara 12 lobang
Batu aerasi
Selang udara

2.1.3 Jenis-Jenis Ikan Sidat
Secara umum ikan sidat memiliki klasifikasi sebagai berikut :
Kingdom : Animalia
Phylum : Chordata
Kelas : Pisces
Ordo : Apodes
Family : Anguilidae
Genus : Anguila
Spesies : Anguila sp
Dalam penamaan ikan sidat terdiri dari :
• Ikan sidat berasal dari nama Indonesia
• Anguila berasal dari nama latin
• Ells fish berasal dari nama Inggris
• Unagi berasal dari nama Jepang
Di Indonesia ikan sidat banyak disebut dalam bahasa daerah sesuai pada daerah masing-masing seperti moa, uling, pilas, sugili, larak, lumbon, lubang, lunca, dungdung, dll.

Didunia ini ikan sidat tercatat sebanyak 21 jenis yaitu :

1. Anguila Arguila
2. Anguila australis australis
3. Anguila australis schmidti
4. Anguila bangalensis bangalensis
5. Anguila bangalensis labiate
6. Anguila bicolor bicolor
7. Anguila bicolor pacifica
8. Anguila breviceps
9. Anguila celebesensis
10. Anguila dieffenbachia
11. Anguila laterions
12. Anguila japonica
13. Anguila malguniora
14. Anguila marmorata
15. Anguila megastoma
16. Anguila morsambica
17. Anguila nebulosa
18. Anguila nigricas
19. Anguila obscara
20. Anguila rembordji
21. Anguilarostenta

Di Indonesia di perkirakan paling sedikit terdapat 5 (lima) jenis ikan sidat yaitu :
1. Anguila encentralis
2. Anguila bicolor bicolor
3. Anguila bornionsis
4. Anguila bicolor pacifica
5. Anguila celebensis

2.1.4 Mengetahui Benih Sidat yang Baik dan Tempat Pemasok Benih Ikan Sidat
Salah satu kriteria benih ikan sidat yang baik adalah :
• Ukuran ekor tidak boleh lebih besar atau panjang dari bagian badannya, karena jika ekornya panjang ikan sidat tidak akan menjadi besar atau kuntet/sidat tersebut akan terus memanjang tidak membesar.

• Dari dalam negeri
– Cirebon
– Jakarta
– Yogya
– Malang

• Dari luar negeri
– Eropa khususnya di Norwegia
– Jerman
– Belanda
– Asia yaitu Jepang, Taiwan dan cina

2.1.5 Manajemen Pemberian Pakan
Karena sepanjang hidupnya terutama di air tawar. Sidat bersifat karnivora yaitu pemakan daging. Maka pakan yang dibutuhkan harus memiliki kandungan protein yang optimal untuk pertumbuhannya. Sidat juga termasuk hewan kanibal.
Ikan sidat tergolong hewan/ikan omnivore. Pakan yang digunakan pakan buatan dari pakan segar. Pakan buatan untuk sidat sebaiknya mengandung protein yang tinggi minimal 25%. Bahan yang digunakan untuk pakan buatan berasal dari bahan nabati dan hewani. Bahan nabati yaitu dedak halus, tepung daun, tepung jagung, dan tepung kedelai. Bahan hewani yaitu tepung tulang, tepung ikan, minyak ikan, dan minyak hati.
Pakan segar adalah pakan yang tersedia di sekitar kita yang dapat dimanfaatkan sebagai pakan ikan dan protein dan gizinya cukup tinggi sehingga memicu pertumbuhan ikan misalnya ikan runcah dan keong mas. Bangkai binatang yang ada di perairan yang menyatakan bersifat karnivora yaitu panjang ususnya sekitar 60% dari panjang tubuhnya.
Pakan yang diberikan pada tahap pembesaran sidat berukuran 250 sampai 300 gram perekor adalah pakan jenis pellet kakap KPA diberikan dua kali sehari yaitu pada pagi hari pukul 07.00-08.00 dan pukul 17.00-18.00. Dosis pakan yang diberikan 2-5% dari total bobot perhari. Frekuensi pemberian pakan pada fase pembesaran dapat dilihat pada table berikut.

No. Ukuran sidat (gr/ekor) Nomor pakan Frekuensi pemberian pakan
1 100 Pakan kakap KPA no.3 2 kali sehari
2 200 Pakan kakap KPA no.3 2 kali sehari
3 300 Pakan kakap KPA no.5 2 kali sehari
4 > 400 Pakan kakap KPA no.5 3 kali sehari

Dalam pemeliharaan sidat diberikan pakan utama berupa pellet. Pakan pellet yang diberikan dari jenis KPA 3 dan KPA 5 sesuai dengan bukaan mulut benih. Frekuensi pemberian pakan dilakukan sebanyak 1 kali sehari yaitu sore hari pukul 15.30 WIB. Dengan FR (Feeding Rate) 3-5% dari total biomassa. Pemberian pakan dilakukan dengan menebar pakan pada anco di area sekitar shelter, hal ini ditunjukan agar lebih mudah dalam pengontrolan pakan yang diberikan.

2.1.6 Penyakit Pada Ikan Sidat dan Berikut Pengobatannya
Penyakit yang sering kali menyerang ikan sidat dapat dikelompokan menjadi dua kelompok, yakni penyakit menular yang sering disebut Parasit, disebabkan oleh aktifitas mikroorganisme seperti bakteri jamur, virus dan protozoa. Lalu yang ke 2 adalah penyakit yang tidak menular, yaitu penyakit ayng bukan disebabkan oleh mikroorganisme, tetapi sdisebabkan hal lain missal karena kekurangan pakan, keracunan konsentrasi oksigen dalam air rendah atau penyakit gelembung udara.
Penyebab langsung dari kebanyakan penyakit pada ikan sidat adalah parasit-parasit termasuk virus-virus, bakteri, jamur, dan protozoa. Penularannya semakin mudah didalam kelompok ikan yang padat dibanding di alam bebas. Bakteri seperti Aeromeras Hidrophilla, Flexibacter Columnaris, Pseudomonas Flurescens ataupun Vibrio aquilarum dikatakan bersifat Saprofitis dan terdapat dimana-mana (Ubiquitous). Akan tetapi, dalam kondisi tertekan, bakteri tersebut dikenal sebagai penyebab penyakit yaitu :

1. Haemorragic Septicaemia (Borok)
2. Penyakit busuk insang (Bacterial Gill Diseose)
3. Pembusukan sirip (Fin Rot)
4. Vibriosis

Bakteri pathogen pada penyakit borok (haemorrhage) adalah aeromonas liquefaciens. Biasanya menyerang organisme sidat di air tawar dan biasanya menyerang pada suhu air 28 C. Bakteri ini hidup di air tawar terutama yang mengandung bahan organic tinggi. Ciri dari bakteri ini :

1. Bentuk seperti batang
2. Berukuran 1-4,4×0,4-1 mikron
3. Bersifat gram negative
4. Fakultatif aerobic (dapat hidup dengan atau tanpa oksigen)
5. Tidak berspora
6. Bersifat motil atau bergerak aktif
7. Mempunyai satu flagel (monotrichous flagella)
8. Suhu 15 C – 30 C dan PH 5,5 – 9

Penanganan dalam menghadapi serangan pathogen ini adalah :
1. Memindahkan atau membuang sidat yang terinfeksi agar tidak menyebar kesidat lainnya
2. Menambahkan air tawar yang bersih untuk menurunkan suhu air kolam
3. Pemberian obat thiazine tong melalui pakan dengan dosis 20 mg perhari untuk sidat seberat 100 gr selama satu minggu
4. Sidat yang ternfeksi dapat diobati dengan cara merendam dalam obat furam atau sulpha

Dalam mengobati atau menangani ikan sidat yang sakit secara umum dapat melakukan hal berikut (sakit, luka-luka, gigitan, tergores benda tajam, berdarah)

1. Menggunakan obat PK (berwarna ungu)
2. Menyiapkan ember plastic kira-kira ukuran 2-4 liter air lalu tuangkan PK kedalamnya 1-2 gr sampa warnanya ungu sedang tidak pekat
3. Ambil sidat yang luka dan masukkan kedalam ember kira-kira 3-9 menit lalu ambil dan kembalikan ke kolam
4. Pisahkan sidat yang luka dari sidat yang sehat guna bisa memonitor tingkat kesembuhannya
Sementara untuk sidat yang terkena jamur ditubuhnya atau “white spot” cirinya adalah ikan sidat terlihat berbeda warna dibagian tertentu semacam panu berwarna putih ditubuh ikan sidat, cara mengatasinya dengan cara menabur garam secukupnya agar air sedikit payau.

2.2 Pengorganisasian.
Pengorganisasian diperancangan ini adalah bentuk organisasi lini yaitu suatu bentuk organisasi kepala eksekutif dipandang sebagai sumber wewenang tunggal. Segala keputusan dan kebijaksanaan dan tanggung jawab ada pada satu tangan. Ciri – ciri organisasi lini yaitu dengan pemimpin organisasi seorang tunggal, garis komando ke bawah kuat.
2.2.1 Tipe Organisasi
Untuk tipe organisasi yaitu tipe pyramid mendatar (flat) dengan ciri : jumlah SO tidak banyak, jumlah pekerja yang dikendalikan banyak, dan jumlah pimpinan relative sedikit.

3.2.2 Struktur Organisasi

2.3 Pengarahan
Pengarahan adalah fungsi managemen yang dilakukan untuk membuat atau mendapatkan para bawahan atau anggota untuk melakukan apa yang diinginkan oleh kita sebagai pemimpin. Adapun perintah dari pimpinan dalam perencanaan program ini :
• Pengarahan pemimpin kepada sekretaris : mengenai pengarsipan dan penulisan.
• Pengarahan pemimpin kepada bendahara : mencatat pemasukan dan pengeluaran anggaran
• Pengarahan pemimpin kepada logistic : persiapan alat serta penataannya.
• Pengarahan pemimpin kepada pelaksana : mengatur waktu diskusi anggota dan mengatur kondisi lapangan.
• Pengarahan pemimpin kepada humas : perhubungan dengan narasumber dan masyarakat.
• Pengarahan pemimpin kepada konsumsi : mengatur hal mengenai konsumsi anggota.

BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Ikan sidat adalah ikan yang segar dan kaya akan protein. Ikan sidat sampai saat ini belum dibudidayakan secara maksimal karena banyak berpihak pada budidaya ikan lain. Dalam pembudidayaannya ikan sidat tidak terlalu banyak menghabiskan banyak modal. Dalam pakan ikan sidat juga cukup dengan memberikan pellet dan perawatannya tidak terlalu rumit.
Sebelum budidaya ikan sidat perlu adanya perencanan yang matang terlebih dahulu agar terarah dan teratur dalam membudidayakannya. Sebagai contoh perencanaan dalam modal agar dapat digunakan dengan baik dan tidak boros. Selain perencanaan, adanya pengorganisasian dibudidaya ikan sidat ini yaitu organisasi lini yang merupakan wewenang berada dipimpinan. Serta diiringi dengan pengarahan.

3.2 Saran

Dalam suatu budidaya diperlukan keseriusan untuk berjalannya kegiatan budidaya ikan sidat. Hal ini diperlukan karena ikan sidat adalah ikan yang cukup rentan dengan penyakit dan pemberian pakan yang teratur serta memperhatikan media tempat hidupnya.

DAFTAR PUSTAKA

http://solusimembersihkankolamikanbyhabib.blogspot.com/
http:/bibitsidat.blogspot.com/2010/06/tips-pengukuran-pada-kolam-tips-pengairan.html
http://galeriukm.com/agrobisnis/tips-cara-budidaya-sidat
http://www.produknaturalnusantara.com/panduan-teknis-budidaya-perikanan/cara-budidaya-ikan-sidat/
http://peperonity.com/go/sites/mview/ikansidat/32777903
http://wartaberita3.blogspot.com/2011/11/cara-budidaya-ikan-sidat.html

MAKALAH EKOLOGI PERAIRAN
“Sungai Kali Mas”

Gambar

Disusun Oleh :
Nama : Rakka Gilang Andhika
NPM : 230110130046
Kelas : A

FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
(FPIK)
UNIVERSITAS PADJAJARAN
2013

Kata Pengantar

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya sehingga makalah ini dapat di selesaikan sesuai dengan waktu yang telah di tentukan, dengan judul “Sungai Brantas”.
Dalam penyusunannya makalah ini di buat dengan berbagai study kasus sehingga menghasilkan karya yang bisa dipertanggung jawabkan hasilnya. Penulis mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada pihak terkait yang telah membantu dalam menghadapi berbagai tantangan dalam penyusunan makalah ini.
Penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangan yang mendasar pada makalah ini. Oleh karena itu penulis mengundang pembaca untuk memberikan saran dan kritik yang bersifat membangun demi kesempurnaan makalah ini.
Akhir kata penulis berharap agar makalah ini bermanfaat bagi semua pembaca.

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Di Indonesia terdapat banyak sekali kekayaan alam, berupa lautan yang sangat luas, hutan hujan tropis yang sangat luas, pegunungan, sungai dll. Inilah yang menjadikan Indonesia merupakan Negara yang sangat indah di waktu lalu. Mengapa dahulu ? karena bisa dilihat keadaan Indonesia saat ini sangat memprihatinkan. Banyak bencana dimana – mana karena manusia itu sendiri yang tidak bias memperhatikan dan melestarikan alam yang indah ini. Hampir seluruh bagian alam di Indonesia hancur oleh perbuatan manusia.
Apa yang kita pikirkan jika melihat salah satu kekayaan alam Indonesia yaitu sungai yang sangat banyak dan tersebar di seluruh bagian di Indonesia ? indah bukan ? itulah kelebihan Negara ini dibandingkan dengan Negara – Negara lain di dunia. Tapi apakah kalian tahu permasalahan – permasalahan sungai saat ini ? mungkin semua sudah tahu karena bukti permasalahannya adalah banyaknya terjadi bencana – bencana alam yang merata di seluruh bagian bangsa ini. Terutama permasalahan banjir yang sering sekali melanda negeri ini. Ini semua adalah salah satu factor permasalahan yang ada di sungai yang harus segera diselesaikan. Masalah ini terus berangsur – angsur selama bertahun – tahun, dan mungkin disetiap pergantian kepala Pemerintahan tetap saja masalah ini belum bias diatasi sampai saat ini bahkan bisa dikatakan lebih parah.
Salah satu sungai di Jawa Timur yang terkenal karena permasalahan disekitarnya adalah sungai kali Mas yaitu sungai yang masih merupakan anak dari sungai Brantas. Sungai ini hampir sama dengan sungai yang lain yaitu permasalahan sampah. Bagaimana tidak, disekitarnya pun banyak rumah – rumah warga yang illegal dan membuang sampah rumah tangga ke sungai begitu saja. Sudah tidak aneh lagi jika masyarakat Indonesia membuang sampah ke sungai padahal akibatnya mereka sendiri yang akan menanggung bahkan anak cucu kita kelak.
Untuk itulah permasalahan ini harus segera diselesaikan bukan hanya tugas Pemerintah tetapi kita sebagai masyarakat sekitar sungai kali Mas harus juga melestarikannya. Pada dasarnya tidak ada kata terlambat untuk memperbaiki walaupun butuh waktu bertahun – tahun untuk pembenahan sungai tersebut untuk menjadi sungai yang lebih sehat dan aman.

B. Maksud dan Tujuan

Adapun maksud dan tujuan dalam pembuatan makalah ini adalah :
• Memahami permasalahan – permasalahan yang ada di sungai kali Mas
• Mengetahui factor – factor penyebab terjadinya masalah di sungai tersebut
• Menentukan cara untuk memperbaiki permasalahan di sungai tersebut.

BAB II
PEMBAHASAN

Sungai Kalimas

Sungai kali Mas yang mengalir ke arah Utara Kota Surabaya dari Pintu Air jagir sampai kawasan Tanjung Perak memiliki bentuk sungai yang meliuk dan sebagian melurus khususnya di bagian Utara. Lebar penampang permukaan sungai bervariasi antara 20 m – 35 m. Bagian terlebar ada di Kelurahan Ngagel dengan lebar sungai sekitar 35 m, yaitu di dekat pintu air. Di daerah ini kondisi air termasuk paling bersih sehingga disini air sungai dimanfaatkan oleh warga sekitar untuk aktivitas MCK. Untuk lebar sungai tersempit terdapat di Kelurahan Bongkaran yaitu dekat Jln. Karet dan Jl. Coklat dengan lebar sekitar 20 m. Kedalaman Sungai Kali mas menurut data dari Perum Jasa Tirta adalah antara 1 m – 3 m. Sedangkan kedalaman airnya antara 1 m – 2 m pada saat air laut pasang. Kedalaman sungai yang paling dalam berada pada kawasan “Monkasel” sampai kawasan Genteng.
Secara umum, kegiatan hunian atau kawasan perumahan yang terdapat di sekitar Sungai kali Mas umumnya merupakan perumahan informal, yaitu perumahan kampung. Dan beberapa bagian diantaranya, merupakan perumahan “liar”. Bangunan perumahan baik yang kampung maupun yang liar, banyak menggunakan bahan-bahan bangunan non permanen hingga semi permanen, serta secara umum dalam kondisi yang memprihatinkan (tidak sehat) dan tidak dilengkapi dengan sarana sanitasi (MCK) yang memadai. Beberapa jembatan, sisi bagian bawahnya juga ada yang berubah fungsi menjadi hunian, dan dihuni secara ilegal oleh para pemulung.
Kegiatan perdagangan yang berada di sekitar Sungai Kali Mas baik yang berbatasan langsung maupun yang terpisah jalan / berdekatan, dari sisi pelayanan mempunyai cakupan mulai skala kawasan hingga kota. Sedangkan dari sisi jenis fasilitas dan pola perdagangannya dapat dikelompokkan menjadi tipe perdagangan modern dan tipe perdagangan tradisional.
Fasilitas yang masuk dalam kategori tipe perdagangan modern, bervariasi mulai dari bangunan berskala besar seperti plasa atau trade center dan memiliki layanan skala kota, misalnya Jembatan Merah Plasa, hingga Ruko / Pertokoan. Fasilitas yang dimasukkan dalam tipe perdagangan tradisional, umumnya adalah bangunan pasar, baik yang memiliki barang dagangan spesifik maupun yang campur. Diantaranya Pasar Keputran, pasar bunga kayoon dan pasar ikan hias Jln. Irian Barat serta pasar ikan di Kelurahan Nyamplungan. Pasar-pasar tradisional ini memberikan pengaruh yang cukup signifikan terhadap memburuknya kondisi Sungai Kali Mas saat ini, karena pola kebiasaan pedagang yang menggunakan badan sungai sebagai wadah untuk membuang sampah.

Pada dasarnya, kawasan sepanjang Sungai Kali Mas, dan berada di dalam Garis Sempadan Sungai, umumnya merupakan kawasan ruang terbuka hijau. Tetapi saat ini, kondisinya lebih banyak tidak terawat dan bahkan beberapa pinggiran sungai cenderung longsor, sehingga mengurangi lebar badan sungai. Beberapa tempat juga digunakan sebagai dumping area bagi kegiatan pembuangan sampah (TPS) maupun penumpukan barang dagangan (baik berupa barang bekas maupun produk barang secara umum).
Kegiatan dan fasilitas Industri dan Pergudangan di sekitar Sungai kali mas, berada di sekitar kawasan Jln. Kalimas (baik yang Barat maupun yang Timur). Pada kawasan tersebut, banyak terdapat bangunan pergudangan yang selama inidimanfaatkan untuk mendukung kegiatan perdagangan dan ekspedisi yang berada di Pelabuhan Tanjung Perak maupun Pelabuhan Rakyat Kalimas.
Secara umum, lahan dan area di sekitar Sungai Kali Mas (yang berbatasan langsung dengan pinggir sungai, baik yang bertanggul maupun tidak bertanggul)khususnya area sempadan sungai merupakan Tanah Negara yang penguasaannya di bawah kewenangan atau otoritas Perusahaan Umum (Perum) Jasa Tirta. Oleh karena itu, segala bentuk pemanfaatan lahan di area tersebut, secara administratif harus berkoordinasi dengan Perum Jasa Tirta. Sedangkan untuk kegiatan yang dilakukan di area tersebut, diperlukan pula rekomendasi atau koordinasi dengan instansi / dinas yang secara fungsionalmemiliki kompetensi dengan kegiatan termaksud. Diluar area tesebut diatas, yang berdekatan dengan Sungai Kalimas, terdapat beberapa lahan yang dimiliki oleh perorangan atau badan yang status lahannya berupa Tanah Hak Milik dan ada juga yang berupa Hak Guna Bangunan.
Di sekitar Sungai Kali Mas, khususnya yang di bagian Utara, terdapat banyak peninggalan bangunan lama yang menurut perda no. 5 tahun 2005 berpotensi sebagai bangunan cagar budaya. Kelurahan Bongkaran merupakan satu kelurahan yang paling banyak memiliki bangunan cagar budaya di wilayahnya. Bangunan cagar budaya tersebut tersebar di Jln. Karet dan Jln. Kembang Jepun.
Secara umum, potensi yang saat ini ada pada lingkup kawasan / lokasi penelitian, antara lain adalah:

1. Terkait dengan Badan Sungai:

• Keberadaan dan kesediaan penduduk / warga setempat beserta sistem sosialnya dalam pengelolaan Sungai Kali Mas

• Penciptaan ruang publik bagi warga kota
• Sebagai tempat pemancingan
• Sebagai tempat mencari cacing darah bagi pakan ikan
• Pengembangan wisata air
• Pengembangan olah raga air
• Pengembangan transportasi air
• Ketersediaan air baku untuk PDAM
• Alur Sungai Kali Mas yang relatif panjang (12 km)
• Jaringan utama drainase kota
• Tempat penampungan air hujan / banjir
• Sumber air baku
• Koordinasi antar instansi pemerintah daerah tk.I dan tk.II, dalam penggunaannya
• Koordinasi antar instansi Teknis atau antar dinas
• Koordinasi antara Pemkot, pemprov dan masyarakat

2. Terkait dengan Daerah Sempadan Sungai:
• Menghubungkan antara Sungai Kalimas dengan Cagar Budaya yang ada di sekitar kawasan tersebut
• Memelihara sejarah perkembangan kota
• Penciptaan ruang publik bagi warga kota
• Pengembangan daerah penunjang wisata air
• Pengembangan daerah penunjang olah raga air
• Pengembangan pasar tradisional ramah lingkungan
• Penunjang bagi pengembangan fasilitas ekonomi di sekitarnya.
• Ruang Terbuka Hijau
• Sebagai halaman depan bagi bangunan di sekitar Sungai Kali Mas.
• Dumping area bagi pengerukan sungai.
• Jalan inspeksi
• Dermaga
• Koordinasi antar instansi pemerintah daerah tk.I dan tk.II, dalam penggunaannya
• Koordinasi antar instansi Teknis atau antar dinas
• Koordinasi antara Pemkot, pemprov dan masyarakat.

BAB III
PENUTUP

Kesimpulan

Pada dasarnya setiap permasalahan untuk setiap sungai adalah sama yaitu sampah. Yang menjadi masalah lagi adalah jika kita tidak bisa menjaga dan merawat sungai – sungai tersebut. Alangkah bijak jika semua manusia mau melestarikan sungai ataupun semua kekayaan alam yang ada di bumi ini. Mungkin tidak akan terjadi bencana di bumi ini yang diakibatkan oleh prilaku manusia itu sendiri. Permasalahan ini nukan hanya masalah satu atau dua orang saja, tetapi semua orang apalagi yang tinggal di sekitar daerah sungai Kali Mas tersebut. Pemerintah dengan program – program briliannya dan masyarakat dengan keinginannya akan menjadi satu baik jika semua mau bersatu dan bekerja sama.
Sudah saatnya permasalahan ini diselesaikan walaupun masalah ini sangat besar dan terlalu rumit tetapi jangan bingung harus mulai darimana, mulailah dari diri kita sendiri, mulailah dari hal terkecil, dan mulailah saat ini juga.

PEMBAHASAN

Fitoplakton merupakan nama untuk plankton tumbuhan atau plankton nabati.Ukurannya sangat kecil, tak dapat dilihat dengan mata telanjang. ). Fitoplankton umumnya berupa individu bersel tunggal, tetapi ada juga yang membentuk rantai. Filum – filum yang sebagian besarnya hidup di tawar adalah Cyanophyta yakni alga berpigmen hijau biru, Chlorophyta yang berpigmen hijau, dan Euglenophyta yang memiliki bintik mata sejati.

Fitoplankton hanya dapat dijumpai pada lapisan permukaan saja karena mereka hanya dapat hidup di tempat-tempat yang mempunyai sinar matahari yang cukup untuk melakukan fotosintesis.

2.1 Sistematika Fitoplankton yang Hidup di Perairan Tawar
Fitoplankton yang sebagian besar hidupnya di air tawar , antara lain:

2.1.1 Cyanophyta
Cyanophyta adalah nama ilmiah untuk ganggang hijau-biru. Dinamakan demikian karena jenis yang pertama kali ditemukan berwarna biru kehijauan. Cyanophyta juga dikenal dengan nama cyanobacteria, myxophyta, dan blue green alga (BGA). Cyanophyta dimasukkan ke dalam kingdom monera bersama bakteri karena selnya prokariot.Menurut Sumich (1992) Cyanophyta umumnya ditemukan melimpah didaerah intertidal dan estuari tetapi dapat dijumpai pula diperairan tropis dan sub tropis. Cyanophyta hanya memiliki satu kelas yaitu cyanophyceae. Kelas ini terdiri dari 3 ordo, yaitu Chroococcales, Chamaesiphonales, Hormogonales.
a) Ordo Chroococcales
Berbentuk tunggal atau kelompok tanpa spora, warna biru kehijau-hijauan.Umumnya alga ini membentuk selaput lender pada cadas atau tembok basah.Setelah pembelahan sel-sel tetap bergandengan dengan perantaraan lendir tadi dan dengan demikian terbentuk kelompok atau koloni. Contoh genus Chrococcus, Gloecapsa, merismopedia, mycrocystis.

b. Ordo Pleurocapsales
Pleurocapsales yang uniseluler atau kecil termasuk bentuk kolonial. Beberapa bahkan mungkin terdiri dari sel-sel parenchymatous alas terlampir pendek bercabang cabang atau filamen. Reproduksi dengan pembelahan sel dan endospores. Contoh genus: Cyanocystis,Chamaesiphon dan Pleurocapsa.

c. Ordo Oscillatoriales
Tidak menghasilkan spora.Seluruhnya filament,sebagian mempunyai heterocyst, sebagian lagi tidak. Reproduksi : Fragmentasi,akineta ( bila diawali dengan kodisi nutrien yang tinggi. Contoh genus : Oscillatoria, Lyngbya, Spirulina, Athrosphira.

d. Ordo Nostocales
Ordo Nostocales berserat yang menyebar terutama oleh pembentukan hormogonia. Setiap percabangan adalah palsu, heterocysts dan dapat menghasilkan akineta. Contoh genus : Nostoc, Anabaena, Tolypothrix.

e. Ordo Stigonematales
Berserat termasuk yang Stigonematales cyanobacteria yang menyebar terutama oleh pembentukan hormogonia. Bercabang,heterocysts dan akinetes. Contoh genus: Stigonema, Hapalosiphon, dan Fischerella.

2.1.2 Chlorophyta
Chlorophya adalah kelompok alga berdasarkan zat warna atau pigmentasinya. Disebut alga hijau karena pigmen dominan yang dikandungnya berwarna hijau. Pigmen berwarna hijau tersebut adalah klorofil. Pada anggota phylum Chlorophyta, bentuk dari kloroplasnya bermacam-macam. Banyak spesies Chlorophyta uniseluler hidup sebagai plankton, mendiami tanah basah dan salju, atau bersimbiosis dengan organisme lain. Sebagian besar hidup di air tawar. Alga hijau ada yang hidup soliter dan ada yang berkoloni. Bentuk sel Alga hijau bermacam-macam. Alga hijau uniseluler dapat bergerak bebas karena memiliki flagela. Banyak diantara anggota divisi ini yang benar-benar menyerupai tumbuhan. Chlorophyta terdapat 500 genus dan 8000 spesies.chlorophyta memiliki 1 kelas, yaitu chlorophyceae dan ada empat ordo, yaitu:

1. Ordo Volvocales
Umumnya nucleaete, sel sempurna (punya mitokondria, badan golgi,reticulum endoplasma, organel),ada yang unisel, koloni dan filamen.Aada yang berflagel (unisel jumlah flagelnya 1,2,4,8 koloni jumlah 2 atau 4) ada yang tidak punya flagel. Pada umumnya Fototaksin positiv (mendekati/mengikuti arah matahari), negativ (menjauhi arah matahari). Mempunyai 5 famili :

• Polyblepharidaceae
– Memiliki banyak genus, ada di air payau, tawar dan laut.
– UniSel, dinding sel tebal dan tidak punya dinding sel

• Chlamydomonadaceae
– Umumnya unisel, berdinding tebal, hiduo di air tawar, payau, laut dan memiliki 2 atau 4 flagel. Contoh genus: Chlamydomonas, Polytoma, Tetraselmis, Carteria (flagel 4)

• Phacotaceae
– Memiliki dinding sel-sel tebal yang disebut lorika atau membran yang mengandung manganatau besi.
– Unisel, flagel umunya 2
– Contoh genus Phacotus dan Pteromonas

• Volvocaceae
– Umumnya koloni, diselaputi oleh gelatin masif, dinding sel mengandung selulosa jumlah flagel 2
– Bentuk koloni bulat, speris atau elipsolid
– Jumlah sel dalam koloni ada yang seragam ada yang berbeda
– Memiliki banyak anggota
Contoh genus Pandorina, Platidorina, Gonium,Pledorina, Eudorina, Volvulina, Volvox, (ukuran sel bervariasi)

• Spondylomoraceae
– Koloni tidak diselaputi glatin
– Hanya memiliki sedikit anggota
– Memiliki flagel 2
– Contoh genus Spondylomorum dan Dyrobutrys

2. Ordo Chlorococcales
Ada yang unisel/koloni. Non motile (tidak bergerak jadi tidak punya flagel). Memiliki 4 family:

• Chlorococcaceae
Berbentuk kokus dan dalam koloni berbentuk speris
Contoh genus: Chlorococcum dan neochloris

• Oocystaceae
Memiliki penyebaran yang luas, unisel, tidak bergerak karena tidak menghasilkan zoospora. Contoh genus: chlorella, ankistrodesmus, oocystis, golenkinia

• Hydrodictiaceae
Umunya koloni, dapat hidup di air tenang, maupun sedikit mengalir, seluruhnya hidup di air tawar.
Contoh genus: hydrodition, pediastrum, sorastrum.

• Scenedesmaceae
Umunya koloni, hidup di air tawar. Contoh genus: scenedesmus, coelastrum

3. Ordo Zygnematales
Umumnya unisel, koloni, filamen, atau desmid. Tidak berflagel. Hidup di air tawar atau payau. Yang berbentuk koloni ada yang menghasilkan lendir yang mengapung dan menimbulkan bau busuk. Memiliki 3 family:

• Zygnemataceae
Punya banyak anggota, dinding sel diselaputi lendir, umumnya filamen, hidup di air tawar. Contoh genus: zynema, syrogonium, meugeotia, spyrogyra, (flamen dengan jumlah species terbanyak >275 species)

• Desmidiaceae
Unisel, koloni atau filamen. Umumnya placoderm desmid. Sel tersusun atas dua semi sel yang persis. Dinding sel terdiri dari 2 lapis diliputi lendir. Hidup diperairan sedikit asam (pH 5-6). Contoh genus closterium, desmidium, cosmarium, micrasterias, staurastrum, hyalotheca

• Mesotaeniaceae
Jumlah anggota tidak terlalu banyak. Umumnya sarccoderm desmid. Contoh genus mesotanium, spirotogenia, netrium dan cylondroctis.

4. Ordo Tetrasporales
Hidupnya unisel / koloni. Tidak memiliki flagel. Memiliki 2 family

• Palmelaceae
Sangat mirip dengan chlamydomonadaceae tapi tidak berflagel. Contoh genus palmella, gloeococcus dan gloecystis.

• Tetrasporaceae
Hidup berkoloni. Memiliki psedoflagel (tidak dapat bergerak) pada kutub anterior. Contoh genus tetraspora, apiocystis

2.1.3 Euglenophyta
Phylum Euglenophyta memiliki anggota sekitar 800 spesies. Beberapa spesies Euglenophyta memiliki kloroplas dan dapat melakukan fotosintesis seperti halnya tumbuhan, beberapa spesies tidak memiliki kloroplas dan hidup secara heterotrof. Euglenophyta yang dapat berfotosintesis mengandung klorofil a, b, karoten, dan terkadang pigmen antofil. Euglenophyta umumnya hidup di air tawar, seperti kolam atau danau dan memiliki flagel yang berfungsi sebagai alat gerak di air. Bintik mata berfungsi sebagai penerima cahaya dan memungkinkan Euglena bergerak menuju intensitas cahaya lebih tinggi sehingga meningkatkan fotosintesis. Euglena tidak memiliki dinding sel, namun memiliki pembungkus tubuh yang kuat dan lentur terbuat dari protein di atas membran plasmanya, disebut pelikel. Euglenophyta hanya memiliki 40 genus dan ± 800 spesies yang berasal hanya dari satu kelas yaitu Euglenophyceae yang terdiri atas 3 ordo, yaitu:

1. Euglenales yang memiliki 1 Famili yaitu Euglenaceae dan terdiri atas 3 genus yaitu Euglena, Phacus, Trachelomonas

2. Peranemales/Eutreptiales memiliki 1 famili Eutreptiaceae dan terdiri atas 3 genus yaitu Astacia, Peranema, Hyalophacus

3. Rhabdomonadales terdiri atas 1 famili dan 1 genus yaitu Rhabdomonadacea dan Petalomonas

2.2 Morfologi Fitoplankton di PerairanTawar

2.2.1 Cyanophyta
Ciri-ciri umum yang dimiliki oleh Cyanophyta adalah :
– Soliter & berkoloni
– Unisel : punya flagellum untuk pergerakan.
– Eukariotik
– Mempunyai kloroplas
– Fotoautotrof
– Mempunyai struktur dalam kloroplas yg disebut Pirenoid – untuk menyimpan cadangan makanan.
Cyanophyta atau sering disebut ganggang hijau biru adalah organisme prokariotik dan karenanya tidak terikat membran organel. Lebih erat kaitannya dengan bakteri daripada algae lain, mereka sering disebut sebagai cyanobacteria. Ada yang bersel tunggal, bersel banyak, dan ada juga yang hidup berkoloni, umumnya berupa filament, yang tersusun dari deretan sel, trikom, dan selubung.Selain memiliki klorofil dan karetenoid, Cyanophyta juga memiliki pigmen fikobilin yang menyebabkan warnanya menjadi hijau kebiruan. Ganggang hijau biru yang berupa filament memiliki struktur berupa sel yang menebal di dalam filamennya yang dinamakan heterosista. Fungsi utama heterosisata adalah mengubah nitrogen menjadi ammonia melalui proses fiksasi nitrogen.Alga ini mempunyai klorofil a dan pigmen biru (fikosianin). Klorofil tidak terdapat dalam kloroplas, melainkan pada membran tilakoid. Oleh karena memiliki klorofil maka dapat berfotosintesis, maka alga ini dapat menghasilkan gula dan oksigen.Inilah sifat yang tidak dimiliki oleh bakteri pada umumnya. Pigmen fikosianin mengakibatkan warna hijau kebiruan. Beberapa dari alga ini ada juga yang berwarna cokelat, hitam, kuning, merah, dan hijau. Warna merah disebabkan oleh pigmen fikoeritrin sedangkan warna kuning disebabkan oleh pigmen karoten.

• Struktur Sel Cyanophyta
o Dinding Sel
Dinding sel mengakibatkan sel memiliki bentuk yang tetap. Di sebelah luar dinding sel terdapat selubung lender yang berfungsi mencegah sel darikekeringan.selain itu, lender dapat memudahkan sel bergerak, karena beberapa ganggang ini dapat bergerak denagn gerakan osilasi (maju mundur). Belum dpat dipastikan apa yang menyebabkan ganggang ini dapat bergerak.
o Membran Sel
Berfungsi mengatur keluar masuknya zat dari dank e dalam sel. Terdapat pelipatan membrane sel kea rah dalam membentuk lamella fotosintetik/ membrane tilakoid. Pada membrane tilakoid inilah terdapat klorofil. Jadi berbeda dengan sel eukariotik yang memiliki klorofil di dalam kloroplas, ganggang ijau biru tidak mempunyai kloroplas.
o Sitoplasma
DNA terdapat pada satu lokasi di dalam sitoplasma, namun tidak memiliki membrane inti. Karena itulah ganggang hijau biru digolongkan ke dalam prokariotik.
o Mesosom dan Ribosom
Organel lain yang tidak tercantum dalam gambar adalah ribosom, ribosom merupakan organel untuk sintesis protein, sedangkan mesosom merupakan penonjolan membrane sel kea rah dalam yang berperan sebagai penghasil energi.

• Ukuran dan Bentuk Sel
Cyanophyta mempunyai ukuran sekitar 1-60 µm. Cyanophyta yang berukuran paling besar adalah Oscillatoria princeps. Ukuran tubuh Cyanophyta yang bervariasi berkaitan dengan bentuknya yang juga bervariasi. Bentuk tubuh Cyanophyta ada yang bulat dan ada yang berbentuk benang (filamen). Cyanophyta bentuk bulat merupakan Cyanophyta uniseluler yang hidup soliter atau berkolobi.
Cyanophyta bentuk benang disebut juga trikoma. Cyanophyta bentuk benang merupakan Cyanophyta multiseluler. Pada Cyanophyta bentuk benang, misalnya Anabaena, terdapat tiga macam sel utama, yaitu heterokista, akinet, dan baeosit. Heterokista merupakan sel berdinding tebal yang berguna untuk mengikat nitrogen. Akinet adalah sel berdinding tebal yang berfungsi untuk pertahanan diri. Sedangkan baeosit adalah sel-sel bulat kecil hasil reproduksi. Baeosit juga berfungsi melakukan fotosintesis.

• Struktur dan Fungsi Sel Cyanophyta
Struktur dan fungsi sel Cyanophyta mirip dengan struktur dan fungsi sel bakteri. Dinding selnya memiliki susunan serupa dengan bakteri Gram negatif, yaitu mengandung lapisan peptidoglikan yang tipis. Bagian luar dinding selnya mengandung lapisan lendir. lapisan lendir ini pada beberapa jenis Cyanophyta dapat membantu gerakan dengan cara meluncur.
Sitoplasma Cyanophyta tidak memliki banyak organel serta tidak memiliki membran inti (prokariotik). membran fotosintetiknya (membran tilakoid) mengandung pigmen klorofil, karoten, dan pigmen tambahan. Pigmen tambahan berupa fikosianin yang berwarna biru dan fikoeritrin berwarna merah.
Pigmen-pigmen tersebut yang menyebabkan warna Cyanophyta beraneka ragam dari hijau,merah, ungu, sampai kehitaman. Sehingga Cyanophyta sering juga disebut ganggang hijau-biru. Tubuh Cyanophyta juga memiliki vakuola gas yang memungkinkannya mengambang dekat permukaan air, yang memiliki intesitas cahaya matahari yang tinggi. Cyanophyta membutuhkan cahaya matahari untuk proses fotosintesis.

2.2.2 Chlorophyta

• Susunan Tubuh
Struktur tubuh bervariasi baik dalam ukuran, bentuk maupun susunannya. Untuk mencakup sejumlah besar variasi tersebut, maka chlorophyta dapat dikelompokkan sebagai berikut:
 Sel uniseluler dan motil (contoh :Chlamydomonas)
 Sel uniseluler dan non motil (contoh :Chlorella) •
 Sel senobium (koloni yang mempunyai jumlah sel tertentu sehingga mempunyai bentuk yang relatif tetap)
 Koloni tak beraturan (contoh :tetraspora)
 Filamen (ada yang bercabang dan tidak bercabang)
 Heterotrikus (filamen barcabang bentuknya terbagi menjadi prostate dan erect)
 Foliaceus atau parenkimatis (filamen yang pembelahan sel vegetatif terjadi lebih dari satu bidang
 Tubular (talus yang memiliki banyak inti tanpa sekat melintang)

• Susunan Sel
Dinding sel Dinding sel tersusun atas 2 lapisan, lapisan dalam yang tersusun atas selulosa dan lapisan luar tersusun atas pektin tetapi beberapa ordo Volvocales
dindingnya tidak mengandung selulosa, melainkan tersusun oleh glikoprotein. Dinding sel caulerpales mengandung xylan atau mannan. Banyak jenis chlorophyceae mempunyai tipe ornamentasi dinding yang berguna dalam klasifikasi.

• Kloroplas
Chlorophyta memiliki pigmen berwarna hijau yang disebut dengan klorofil. Klorofil dalam alga hijau terkumpul dalam suatu organel sel yang disebut kloroplas. Kloroplas terbungkus oleh sistem membran rangkap. Pigmen yang terdapat dalam kloroplas yaitu klorofil a dan klorofil b, beta karoten serta berbagai macam xantofil (lutein, violaxanthin, zeaxanthin) kloroplas dalam sel letaknya mengikuti bentuk dinding sel. Pada umumnya satu kloroplas setiap sel tetapi pada Siponoles zygnemales terdapat lebih dari satu kloroplas setiap sel. Bentuk kloroplas sangat bervariasi.Variasi bentuk kloroplas adalah sebagai berikut: Bentuk mangkuk ( ex:Clamydomonas), Bentuk sabuk ( ex:Ulotrix), Bentuk cakram ( ex:Chara) Bentuk anyaman (ex:Oedogonium), Bentuk spiral (ex:Spyrogyra), Bentuk bintang (ex:Zygnema), dan Bentuk lembaran .
Amilum dari chlorophceae seperti pada tumbuhan tingkat tinggi, tersusun sebagai rantai glukosa tak bercabang yaitu amilose dan rantai yang bercabang amilopektin. Sering kali amilum tersebut terbentuk dalam granula bersama dengan badan protein dalam plastida disebut pirenoid. Tetapi beberapa jenis tidak mempinyai pirenoid merupaka golongan chlorophyceae yang tinggi tingkatannya.Jumlah pirenoid umumnya dalam tiap sel tertentu dapat digunakan sebagai bukti taksonomi.
Pergerakan dengan flagella Pada umumnya sel alga hijau baik sel vegetatif maupun sel generatif ditemukan adanya alat gerak. Flagella pada kelas chlorophyceae selalu bertipe whiplash (akronomatik) dan sama panjang (isokontae) kecuali pada bangsa oedogoniales memiliki tipe stefanokontae. Flagella dihubungkan dengan struktur yang sangat halus disebut aparatus neuromotor, merupakan granula pada pangkal dari tiap flagella disebut blepharoplas.Tiap flagella terdiri dari axonema yang tersusun oleh 9 dupklet mikrotubula mengelilingi bagian tengah terdapat dua singlet mikrotubula. Struktur semacam ini dikenal sebagai susunan 9+2.Flagella tersebut dikelilingi oleh selubung plasma.

• Alat Gerak
Pergerakan dengan sekresi lendir Dalam monografi tentang desmid. Pergerakan tersebut disebabkan oleh adanya stimulus cahaya yang diduga oleh adanya sekresi lendir melalui porus dinding sel pada bagian apikal dari sel. Selama pergerakan kedepan bagian kutub berayun dari satu sisi ke sisi lain sehingga lendir bagian belakang seperti berkelok-kelok.

2.2.3 Euglenophyta
Euglenophyta umumnya berwarna hijau karena mengandung klorofil,sel berbentuk oval memanjang,di salah satu ujungnya terdapat mulut sel,dari mulutnya muncul satu flagela (cambuk) yang berfungsi sebagai alat gerak, dan mempunyai bintik mata yang terletak di dekat mulut sel yang berfungsi untuk membedakan antara gelap dan terang. Kebanyakan dari Euglenoid bersifat autotrof karena dapat berfotosintesis, sebagian kecil ada juga yang bersifat heterotrof. Ciri paling menonjol dari protista ini adalah tubuhnya uniselluler (bersel tunggal), berwarna hijau terang dan sangat indah.
Susunan sel Susunan tubuhnya dibatasi oleh perikel yang merupakan membran plasma yang menebal, ada yang kaku contohnya Phacus dan ada yang lentur contohnya Euglena dan Paranema. Pada yang bersifat lentur periplas juga sebagai alat gerak, gerak periplas ini juga disebut dengan gerak euglenoid. Organisme ini mempunyai tingkat perkembangan lebih tinggi daripada Cyanophyta karena sudah mempunyai inti yang tetap dan mempunyai khloroplast seperti pada tumbuhan tinggi, karena itu Euglena dapat melangsungkan fotosintesis dan tumbuh seperti halnya pada tumbuhan tinggi. Beberapa euglenoid berfotosintesis dan yang lain tidak. Anggota-anggota yang berpigmen memiliki kloroplas yang berisi klorofil a dan b. Hasil fotosintesis disimpan sebagai paramilon, sebuah polimer glukosa yang berbentuk butiran dalam sitoplasma.
Dinding sel tidak dibungkus oleh dinding selulosa, melainkan oleh perikel berprotein, yang berada didalam plasmalema.Pada kebanyakan Euglenoid, perikel itu bersifat lentur sehingga memungkinkan perubahan bentuk sel, tetapi pada beberapa jenis, perikel ini kaku sehingga sel memiliki bentuk tetap. Ujung anterior dari sel berupa sitostoma, sel terbentuk dari ujung depan sel euglenoid melekuk kedalam membentuk saluran yang ujung dalamnya meluas menjadi rongga membulat membentuk reservoar.
Cara Euglena memperoleh makanan adalah sebagai organisme yang menyerupai tumbuhan, Euglena dapat membuat makanan sendiri dengan melakukan fotosintesis. Dengan bantuan cahaya matahari, makhluk hidup ini dapat mengubah klorofil menjadi energi. Selain berfotosintesis, makhluk hidup ini dapat pula memasukkan bahan makanan melalui mulut sel yang dimilikinya sehingga Euglena dapat disebut sebagai organisme fotoautotrof dan organisme heterotrof.

2.3 Metode Reproduksi Fitoplankton di Perairan Tawar
2.3.1 Cyanophyta
Perkembangbiakan dilakukan dengan pembelahan sel, fragmentasi, dan pembentukan spora.
a. Pembelahan sel
Melalui cara ini sel dapat langsung terpisah dan tetap bergabung membentuk koloni, misalnya Gloeocapsa. Sel membelah menjadi 2 yang saling terpisah sehingga membentuk sel – sel tunggal, pada beberapa generasi sel – sel membelah searah dan tidak saling terpisah (bergabung membentuk koloni) sehingga membentuk filamen yang terdiri atas deretan mata rantai sel yang disebut trikom. Tempat – tempat tertentu dari filamen baru setelah mengalami dormansi. Heterokist dapat mengikat nitrogen bebas di udara contoh pada Gleocapsa. Heterokist adalah sel yang pucat, kandungan selnya terlihat homogen dan memiliki dinding yang transparan. Heterokist terbentuk oleh penebalan dinding sel vegetatif.Sedangkan akinet terbentuk dari penebalan sel vegetatif sehingga menjadi besar dan penuh dengan cadangan makanan (granula cyanophycin) dan penebalan-penabalan eksternal oleh tambahan zat yang kompleks.
b. Fragmentasi
Fragmentasi Fragmentasi adalah cara memutuskan bagian tubuh tumbuhan yang kemudian membentuk individu baru. Fragmentasi terjadi pada cyanophyta yang berbentuk benang (filamen). Fragmentasi terutama pada ganggang Oscillatoria. Pada filamen yang panjang, bila salah satu selnya mati, maka sel mati itu membagi filamen menjadi dua bagian atau lebih.Masing-masing bagian disebut Hormogonium. Bila hormogonium terlepas dari filament induk maka akan menjadi individu baru, misalnya pada plectonema boryanum.
c. Spora
Pembentukan Akineta Akineta disebut juga spora istirahat yang fungsinya hampir mirip dengan endospora pada bakteri.Akinet memiliki dinding tebal dan kuat sehingga tahan terhadap kondisi yang tidak menguntungkan, seperti kekeringan, panas, dingin, atau kurang makanan. Pada keadaan yang kurang menguntungkan akan terbentuk akinet yang sebenarnya merupakan sel vegetatif. Akinet membesar dan tebal karena penimbunan zat makanan. Pada kondisi yang cocok, akinet akan pecah dan tumbuh menjadi individu baru. Contoh:
Chamaesiphon comfervicolus.

2.3.2 Chlorophyta
Perkembangbiakan pada chlorophyta terjadi dengan 2 cara yaitu:
 Secara aseksual
a. Perkembanganbiakan vegetatif pada chlorophyta dengan fragmentasi tubuhnya dan pebelahan sel.
b. Perkembanganbiakan secara aseksual dapat terjadi dengan pembentukan spora:
– Zoospora yaitu sel berflagel 2 contohnya Chlamydomonos
– Aplanospora yaitu spora yang tidak bergerak contohnya Chlorococcu
– Autospora yaitu aplanospora yang mirip dengan sel induk contohnya Chlorella
 Secara seksual
Melalui konjugasi yaitu perkembangbiakan secara kawin contohnya spirogyra.
– Isogami yaitu peleburan dua gamet yang bentuk dan ukurannya sama.
– Anisogami yaitu peleburan dua gamet yang ukurannya tidak sama.
– Oogami yaitu peleburan dua gamet yang satu kecil dan bergerak (sebagai sperma) yang lain besar tidak bergerak (sebagai sel telur)
Beberapa contoh dari reproduksi sexual:
– Isogami : Chlorococcum, Chlamydomonos, Hydrodictyon
– Anisogami : Chlamydomonas, Ulva
– Oogami : Chlamydomonas, Valva, Spirogya, Aedogonium

2.3.3 Euglenophyta
 Aseksual
– Pembelahan biner, pembelahan membran secara longitudinal dimulai dari ujung anterior .
– Membentuk kista (sel vegetative membulat dan berdinding tebal)
– Autogami (fusi antara nucleus anak-anak sel) 2.
 Seksual
Adanya konjugasi tetapi ini sangat jarang ditemukan.

 

FITOPLANKTON DI PERAIRAN LAUT
DAN PERAIRAN PAYAU
Tugas ini disusun untuk memenuhi salah satu tugas
Mata Kuliah Planktonologi

Gambar

Disusun Oleh Kelompok 1 Kelas A:
Andi Mulyadi 230110130006
Safira Utami 230110130032
Debora Romaito H 230110130033
Rifki Syarif HR 230110130044
Rakka Gilang Andhika 230110130046
Muhammad Rizki 230110130054
Sri Sintya Rahayu 230210130005
Ade kurnia S 230210130018
Ridho Achtantio 230210100035
Rizaldy M 230210100011

FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
UNIVERSITAS PADJADJARAN
2013-2014

FITOPLANKTON DI PERAIRAN LAUT
DAN PERAIRAN PAYAU
Golongan fitoplankton membnetuk sejumlah biomassa di laut. Selain itu ada beberapa yang tinggal di perairan payau atau disebut juga daerah estuaria. Kelompok ini hanya diwakili beberapa filum saja. Sebagian besar bersel satu dan mikroskopik, dan mereka termasuk filum Chrysophyta dan Pyrrophyta. Berikut adalah penjelasannya :
1. Sistematika Fitoplankton yang Hidup di Perairan Laut dan Payau
1.1 Filum Chrysophyta
Filum Chrysophyta, yakni alga kuning-hijau meliputi diatom dan kokolitofor.Chrysophyta (kri-SO-fa-ta) adalah berasal dari akar Yunani yang berarti dua emas (chryso – χρυσό), dan tanaman (nabati φυτό). Warna yang berasal dari yang dominasi warna emas dari kedua Pigmen.Chrysophytes adalah, seperti namanya, yang artinya alga keemasan. Warna keemasan dari kloroplast chrysophyta (kromoplast) merupakan akibat dari kombinasi kedua pigmen,khususnya β-carotene ,fucoxanthin dan lainnya xanthophylls. Dalam chrysophyta, prinsip fotosintesis pigmen biasanya terdiri dari klorofil A dan C1/C2 dan karotenoid fukosantin. Pengelompokan chrysophyta menunjukkan perbedaan struktur kloroplas dan sering kali terdapat tiga thylakoids disekitar periphery kloroplas (girdle lamena).
Ganggang keemasan (Chrysophyta) merupakan alga yang dominan hidup di air laut. Tubuh ada yang bersel satu dan ada yang bersel banyak. Alga ini digolongkan ke dalam 3 kelas, berdasarkan pada persediaan karbohidrat, struktur kloroplas dan heterokontous flagella. yaitu:
a. Kelas alga Hijau-Kuning (Xanthophyceae)
b. Kelas alga keemasan (Chrysophyceae)
c. Kelas Diatom (Bacillariophyceae)
Berdasarkan pembagian di atas diuraikan satu persatu.
A. Kelas alga Hijau-Kuning (Xanthophyceae)
Alga ini memiliki klorofil (pigmen hijau) dan xantofil (pigmen kuning) karena itu warnanya hijau kekuning-kuningan. Contoh: Vaucheria. Vaucheria tersusun atas banyak sel yang berbentuk benang, bercabang tapi tidak bersekat. Filamen mempunyai banyak inti dan disebut Coenocytic. Alat gerak berupa dua buah flagel. Contoh yang termasuk kedalam kelas Xanthophyceae

Filum : Chrysophyta
Kelas : Xanthophyceae
Ordo : Vaucheriales
Family : Tribonemataceae
Genus : Tribonema
Spesies : Tribonema sp

B. Kelas Alga Coklat-Keemasan (Chrysophyceae)
Alga ini memiliki pigmen keemasan (karoten) dan klorofil. Tubuh ada yang bersel satu, contohnya Ochromonas dan bentuk koloni, contohnya Synura. Chrysophytes dengan emas-coklat chloroplasts, berisi chlorophylls a dan c, dan mayoritas carotenes dan xanthophylls, termasuk fucoxanthin. Susunan tubuh, Berbentuk sel tunggal dan berbenruk koloni Alat gerak: terdiri dari flagel dan jumlahnya tidak sama tiap marga, contoh: synura, dan syracosphaera, mempunyai dua flagel yang sama panjangnya. Dinobryon dan ocromonas, mempunyai dua flagel yang tidak sama panjangnya.

C. Kelas Diatom (Bacillariophyceae)
Salah satu genus dari Chrysophyta adalah Diatom. Diatom, termasuk kelas Bacillariophyceae, bersifat uniselular, dan ada yang merupakan koloni dengan bentuk yang bermacam-macam. Kelas Bacillariophyceae termasuk fitoplankton yang hidup di perairan payau. Keanekaragaman plankton estuari sangat rendah. Kekeruhan yang tinggi dan kecepatan penggelontoran (pergantian air) merupakan faktor penyabab. Fitoplankton didominasi oleh jenia diatom, namun jenis dinoflagellata menjadi dominan pada musim-musim panas. Jenis diatom yang dominan termasuk Skeletonema, Asterrionella, Chaetoceros, Nitzchia, Thallasionema, dan Mellosira.Selnya bilateral atau radier simetris. Dinding sel terdiri atas lapisan dalam berupa pektin yang lunak, dan lapisan luar berupa panser berisi zat kersik. Sel diatom mempunyai inti dan kromatofora yang berwarna kuning coklat. Kromatofora mengandung beberapa macam zat warna, antara lain: klorofil-a, karotin, santofil dan karotenoid menyerupai fikosantin; tetapi ada juga golongan yang tidak berwarna.

1.2 Pyrrophyta
Pyrrophyta adalah alga uniselular (bersel satu) dengan dua flagel yang berlainan, berbentuk pita, keluar dari sisi perut dalam suatu saluran. Mengandung pigmen (klorofil A,C2 dan piridinin,sementara yang lain memiliki klorofil A,C1,C2 dan fucosantin) yang dapat berfotosintesis. Hanya dinoflagellata yang memiliki kemampuan untuk berfotosintesis. Berwarna kuning coklat.
Alga yang termasuk alga api ini disebut Dino Flagellata, tubuh tersusun atas satu sel memiliki dinding sel dan dapat bergerak aktif. Ciri yang utama bahwa di sebelah luar terdapat celah dan alur, masing-masing mengandung satu flagel. Alga api berkembangbiak dengan membelah diri, kebanyakan hidup di laut dan sebagian kecil hidup di air tawar. Contohnya adalah Peridinium. Alga api yang hidup di laut memiliki sifat fosforesensi yaitu memiliki fosfor yang memancarkan cahaya.
Pyrrhophyta memiliki kelas Dinophyceae (Dinoiflagellates) yang terdiri dari 3 ordo,yakni :
1. Order: Gymnodiniales
Family 1: Gymnodiniaceae
Genus: Gymnodinium (G. caudatum, G. fuscum, G. palustre)

2. Order : Peridiniales
Family : Glenodiniaceae
Genus : Glenodinium (G. armatum, G. borgei, G. gymnodinium, G. palustre, G. quadridens)

Genus : Hemidinium (H. nasutum)

Family : Peridiniaceae
Genus: Peridinium (P. cinctum, P. getunensa, P. inconspicuum)

Family : Ceratiaceae
Genus: Ceartium (C. carolinianum, C. cornutum, C. hirundinella)

3. Order : Dinococcales
Family 5: Dinococcaceae
Genus: Cystodinium (C. cornifax)

2. Morfologi Fitoplankton di Perairan Laut dan Perairan Payau
2.1 Chrysophyta

Mastigonema dibentuk dalam gelembung antar sel. Dalam chrysophyta, prinsip fotosintesis pigmen biasanya terdiri dari klorofil A dan C1/C2 dan karotenoid fukosantin. Diatom merupakan komponen besar planktonik dan komonitas benthic di samudera dan air jernih. Kadang-kadang diatom dikelompokkan menjadi tiga jenis berdasarkan strategi ekologi (kuhnet, 1981): diatom, diatom benthic (periphytic) dan diatom meroplanktonic (tycoplanktonic).
Kelompok ini paling beragam dalam komposisi pigmennya, dinding selnya, dan tipe flagella selnya. Dan mengandung klorofil a , klorofil c, karoten dan xantofil.
a. Bentuk tubuh
Chrysophyta kebanyakan bersel satu (uniseluler) dan bersel banyak (multiseluler) dan tubuhnya biasanya berbentuk seperti benang.
Pigmen, Chrysophyta berwarna keemasan, warna keemasan pada Chrysophyta disebabkan oleh karoten dan xantofil. Disamping itu Chrysophyta mempunyai pigmen fotosintesis termasuk klorofil dan karotenoid seperti fukoxantin dan diadinoxantin.
Chrysophyta memiliki klorofil A dan C dan klorofil tersebut tersimpan didalam kloroplas yang berbentuk cakram atau lembaran
b. Cadangan makanan
Cadangan makanan pada Chrysophyta berupa tepung krisolaminarin. Dan bahan simpanan utamanya adalah minyak dan krisolaminarin (leukosin) dan kanjinya tidak menimbun.
c. Struktur Sel
• Dinding sel
Chrysophyta umumnya tidak berdinding sel. Bila ada dinding selnya maka terdiri dari lorika (ex.Dinobryon dan kephryon). Atau tersusun dari lempengan silicon (ex. Sinura dan mallomonas) atau tersusun dari cakram kalsium karbonat (ex. Syracospoera). Struktur selnya tidak mempunyai dinding selulosa dan membrannya menunjukkan kewujudan silica.

• Isi Sel
Pada Chrysophyta isi selnya (berinti tunggal memiliki plastida yang terdiri dari 1 atau 2).
• Vakuola Kontraktil
Terdapat satu atau dua fakuola kontraktil dalam sel (tergantung pada spesies) yang terletak dekat dasar dari flagel. Masing-masing fakuola kontrakil terdiri atas vesikel kecil yang berdenyut dengan interfal yang teratur, mengeluarkan isinya dari sel. Fakuola kontraktil yang terdapat pada alga yang berflagel fungsi utamanya adalah osmoregulator.
• Badan Golgi
Badan golgi terletak di antara inti dan kontraltil fakuola. Badan golgi adalah organela yang terdapat pada sel eukariotik, baik hewan maupun tumbuhan yang strukturnya terdiri dari tumpukan fesikel bentuk cakram atau kantung.
• Nukleus
Nukleus dan kloroplas dihubungkan oleh membran kloroplas ER yang mana berhubungan dengan pembungkus inti.
d. Kloroplas
Kloroplas pada Chrysophyta berwarna coklat keemasan. Chrysophyta menunjukkan perbedaan struktur kloroplas dan sering kali terdapat tiga thylakoids disekitar periphery kloroplas (girdle lamina). Kloroplas terdiri dari dua membrane (CER), jarak periplastida antara dua kloroplas dan retikulumendoplasma sempit dan kurang adanya perbedaan struktur.
e. Ribosom
Ribosom pada Chrysophyta terdapat pada permukaan luar CER.
f. Alat gerak
Chrysophyta memiliki alat gerak yang terdiri dari flagel dan jumlahnya tidak sama tiap marga (struktur dasar flagel pada alga mirip dengan flagel pada mahluk hidup lain. Susunan benang flagel menunjukkan pola 9+2 dengan tipe akronematik (whiplash) dan pantonematik (tinsei).
Kedudukan dan keadaan flagelumnya berbeda, selnya boleh menjadi uniflagerum atau biflagerum. Jika biflagelat, flagelumnya mungkin sama panjang atau tidak. Tingkat flagenta yang paling tinggi yaitu heterokontois. Susunan tubuhnya ada yang berbentuk sel tunggal dan berbentuk koloni.
Sel heterokontous mempunyai 2 flagel yaitu flagel licin dengan bulu kaku seperti pipa atau mastigonema dalam dua baris.
g. Habitat
habitatnya kebanyakan di air laut dan untuk kelas Bacillariophyceae ada yang hidup di perairan payau.
2.2 Pyrrophyta
a. Susunan Tubuh
Berbentuk Sel Tunggal, contoh : Peridinium dan Ceratium. Berbentuk Filamen yang bercabang. contoh : Dinotrix dan Dinoclammn Susunan Sel :Anggota Pyrrophyta banyak yang ditemukan tanpa adanya dinding sel, sedangkan anggota yang memiliki dinding sel terdiri dari selulosa dan lempeng-lempeng. Contoh : Glenodinium dan Peridinium Terdapat lekukan pada tubuh selnya
Terdapat butir-butir kromatin yang berupa untaian (hal ini merupakan ciri khas dari alga api), Pigmen ; Kloroul a,  Karoten, Xantofil: Berupa Peridinin, Dinoxantin, Diadinoxandn dan Neodinoxantin.

b. Struktur Sel
Pembagian pyrrophyta dalam 2 golongan berdasarkan pada ada tidaknya penutup sel (ampiesma) yaitu yang telanjang (unarmored) dan mempunyai penutup sel (theca). Pada theca terdapat pelat-pelat seperti baja dengan komponen utama sellulosa. Jumlah dan letak pelat digunakan sebagai dasar dalam pemberian nama Peridinium.
Mempunyai bintik mata (stigma), berupa kumpulan butir lipid yang mengandung pigmen karetinoid.
Tubuh dinoflagellata primitif pada umumnya berbentuk ovoid tapi asimetri, mempunyai dua flagella, satu terletak di lekukan longitudinal dekat tubuh bagian tengah yang disebut sulcus dan memanjang ke bagian posterior. Sedangkan flagella yang lain ke arah transversal dan ditempatkan dalam suatu lekukan (cingulum) yang melingkari tubuh atau bentuk spiral pada beberapa belokan. Lekukan tranversal disebut girdle, merupakan cincin yang sederhana dan jika berbentuk spiral disebut annulus. Flagellum transversal menyebabkan pergerakan rotasi dan pergerakan kedepan, sedangkan flagellum longitudinal mengendalikan air ke arah posterior.
Sel Dinoflagellata terbagai secara transversal oleh cingulum menjadi epiteka dan hipoteka. Pada Peridinium, epiteka tersusun atas 2 seri yaitu apical dan precingular. Pada beberapa genus terdapat seri pelat yang tidak sempurna pada permukaan dorsal dengan 1-3 pelat interkalar anterior . Hipoteka tersusun atas 2 seri transversal yaitu cingular dan antapikal juga sering terdapat seri yang tidak sempurna yaitu interkalar posterior.
– Dinding Sel
Dinding sel pada umumnya mengandung selulose, hal ini akan memberikan struktur karakteristik dari teka amfisema adalah nama yang digunakan untuk lapisan terluar khusus dari sel Dinophyceae. Semua tipe mempunyai membran plasa yang berkesinambungan dengan membran flagel pada bagian luar. Pada umumnya terdapat sejumlah pori dalam amfisema dengan trikosit dalam tipe pori.
Gelembung thecal berada pada lapisan bawah sel membran. Mereka adalah gelembung flattened, yang mana melingkupi piringan yang jelas dari seluosa atau mingkin kekurangan kandungan yang jelas, ukuran, jumlah dan susunan dari jenis piringan thecal berbeda antara masing-masing dinoflagelata dan ini merupakan hal yang penting dalam sistem taksonomi. nesmokont memiliki dua piringan besar, sementara dinokont menunjukkan variasi yang, dapat dipertimbangkan. Beberapa dinokont memiliki jumlah tertentu, biasanya piringan thecal yang tidak jelas bentuknya, sementara yang lain adalah piringan besar yang jelas, dan disebut dengan nama “armored”. Dalam upaya untuk mengidentifikasi pola evolusi, secara psikologis menggunakan sejumlah piringan thecal, tetapi tidak disctujui apakah pada kondiai primitif memiliki piringan kccil dan pcmbcsaran piring dan reduksi dalam jumlah yang dapat terjadi, atau apakah beberapa piringan primitif dan meningktit jumlahnya dari yang terjadi.
Gelembung thecal mungkin mendasari mikrotubula, sebuah pellicle dari fitnous material dan penambahan membran (kadang-lcndang dipertimbangkan termasuk sel membran). Juga yang berhubungan dengan theca adalah trichocysts dan getah yang dapat menghasilkan gelembung. Trichocysts adalah gelembung yang mengandung batang cristalin, yang mana dapat melepaskan, dan agaknya sebagai fungsi pertahauan.
Nukleus dari dinoflagelata menunjukkkan setuju sifat yang berbeda dari kondisi yang biasa di eukariot. Nukleus dilingkupi dengan pembungkus, sebagaimana pada sel eukariot, tetapi didalam mikrograph elekron, kromosom terlihat sebagai struktur yang berbentuk batang. Berbeda dengan kondisi yang biasa pada nuclei eukariot, kromosom dinoflagelata mengikat nuclear pembungkus. Dinoflagelata nukleus mempertimbangkan mewakili kondisi primitif diantara organisme eukaroid dan kadang-kadang disebut dengan mesokaryotic atau dinokarytic untuk membedakan itu dengan kondisi-kondisi eukayotic yang lain.

c. Habitat
Pyrrophyta dominan di lautan (dominan) tetapi ada beberapa ratus spesies yang lain yang berada di air segar. Pyrrophyta memiliki variasi nutrisi yang besar dari autototropik ke bentuk heterotropik yang mana terdapat vertebrata parasit dan ikan atau alga phagocytiza yang lain.
3. Metode Reproduksi Fitoplankton di Perairan Laut dan Payau
3.1 Chryssophyta
Perkembangbiakan pada Chrysophyta terjadi secara generatif dan vegetatif.
Vegetatif
Dengan membelah secara longitudinal dan fragmentasi terjadi menjadi 2 macam yaitu:
1). Koloni memisah menjadi 2 atau lebih (sel tunggal melepaskan diri dari koloni kemudian membentuk koloni yang baru).
2). Sporik dengan membentuk 2 oospora (untuk sel yang tidak berflogel) dan statospora (tipe spora yang unik yang ditemukan pada Chrysophyta, dengan bentuk speris dan bulat, dinding spora bersilla, tersusun atas 2 bagian yang saling tumpang tindih, mempunyai lubang atau pore ditutupi oleh sumbat yang mengandung gelatin).
Generatif
Secara gametik dengan membentuk auxospora, dengan cara:
• Partogenesis
Sel induk tidak membelah hanya intinya saja yang membelah secara mitosis, diawali dari mitosis pertama. Kemudian inti melebur, dilanjutkan mitosis ke dua yang pada akhirnya dinding sel pecah dan inti diselubungi lendir dan membentuk dinding baru (auxospora).

• Pedogami (perkawinan anak)
Sel dengan satu inti membelah secara meiosis menjadi dua sel anak dan sel anak ini akan menjadi membentuk 4 inti, plasma sel memisah dengan masing – masing dua inti, dua inti pertama mengalami degenerasi. Dua inti yang kedua mengadakan penggabungan (perkawinan anak), membentuk auxospora.

• Konjugasi
 Konjugasi anisogami
Satu sel dengan satu inti membelah secara meiosis membentuk menjadi 4 inti. 2 inti mengalami degenerasi dan 2 inti bersifat fungsional. 2 inti yang fungsional mengadakan pembelahan sel lagi membentuk 4 inti yang terdiri dari 2 inti besar dan 2 inti kecil. Inti kecil bergabung dengan inti kecil (auxospora).
 Konjugasi isogami
Pada prinsipnya proses konjugasi isogami sama dengan anisogami. Perbedaanya pada ukuran inti hasil pembelahan adalah sama besar.
 Oogami
Oogami dilakukan oleh sel telut (non motil), gamet jantan (motil) yang mendatangi gamet betina (sel telur), mengadakan pembelahan meiosis dan membentuk anteridium.
 Autogami
Inti sel membelah secara mitosis menjadi 2 inti, dilanjutkan dengan pembelahan meiosis membentuk 4 inti, 2 inti mengalami degenerasi dan 2 inti bergabung membentuk auxospora.
3.2 Pyrrophyta
Pyrrophyta memiliki 2 cara perkembangbiakan, yaitu secara aseksual dan seksual.
a. Secara Aseksual
Yaitu dengan pembelahan sel yang bergerak. Jika sel memiliki panser, maka selubung akan pecah. Dapat juga dengan cara protoplas membelah membujur, lalu keluarlah dua sel telanjang yang dapat mengembara yang kemudian masing – masing membuat panser lagi. Setelah mengalami waktu istirahat zigot yang mempunyai dinding mengadakan pembelahan reduksi, mengeluarkan sel kembar yang telanjang.
Dengan pembelahan biner, yaitu pembelahan sel dengan sel anak mendapatkan sebagian dari sel induk (sel anak yang membentuk dinding baru). Contoh : Peridinium.
b. Secara Seksual
Dalam sel terbentuk 4 isogamet yang masing-masing dapat mengadakan perkawinan dengan isogamet dari individu lain.
Sporik, yaitu dengan zoospora contohnya Gloeonidium dan aplanospora (contohnya Gleonodinium).

3.2 Perbedaan Fitoplankton di Air laut dan Payau
Fitoplankton yang hidup di air laut bisa dibilang banyak,namun untuk di daerah perairan payau hanya fitoplankton tertentu saja. Salinitas merupakan faktor yang juga menentukan distribusi dan kemelimpahan phytoplankton di estuari. Estuari merupakan kawasan yang terpengaruh oleh dua kondisi lingkungan yang berbeda, yaitu air laut dan air tawar. Pengaruh dari air laut dan air tawar ini memberikan dampak pada fluktuasinya salinitas di kawasan estuari. Fitoplankton air payau merupakan fitoplankton yang hidup di perairan salinitas rendah (0,5 – 30,0 ‰).

 

 

 

 

 

 

KESIMPULAN
 Fitoplankton yang hidup di perairan laut dan perairan payau hanya 2 filum saja yaitu filum Chrysophyta dan Pyrrophyta.
 Filum Chrysophyta terdiri dari 3 kelas yaitu kelas alga Hijau-Kuning (Xanthophyceae), kelas alga keemasan (Chrysophyceae) dan kelas Diatom (Bacillariophyceae). Pada kelas Bacillariophyceae ada jenis fitoplankton yang hidup di air payau yaitu jenis diatom. Filum Pyyrophyta ada 3 ordo yaitu ordo Gymnodiniales,ordo Peridiniales, dan ordo Dinococcales.
 Chrysophyta kebanyakan bersel satu (uniseluler) dan bersel banyak (multiseluler) dan tubuhnya biasanya berbentuk seperti benang. memiliki klorofil A dan C dan klorofil tersebut tersimpan didalam kloroplas yang berbentuk cakram atau lembaran. Pyrrophyta berbentuk sel tunggal. Terdapat butir-butir kromatin yang berupa untaian (hal ini merupakan ciri khas dari alga api), Pigmen ; Kloroul a,  Karoten, Xantofil: Berupa Peridinin, Dinoxantin, Diadinoxandn dan Neodinoxantin.
 Reproduksi pada Chrysophyta ada yang seksual dan aseksual. Begitupun pada Pyrrophyta ada yang seksual dan aseksual.

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA
Ramadhani Fi Sabila. Chrysophyta dan Peranan Bagi Kehidupan : Bandung http://www.scribd.com/doc/59338507/chrysophyta-e (diakes pada tanggal 27 Maret 2014)
Sediadi Agus. 1999. Ekologi Dinoflagelata : LIPI http://www.oseanografi.lipi.go.id/sites/default/files/oseana_xxiv%284%2921-30.pdf (diakses pada tanggal 27 Maret 2014)
Dianti Sri. 2013. Ciri-ciri Alga Emas kelas Chrysophyta. ( http://www.sridianti.com/ciri-ciri-alga-emas.html) diakses pada tanggal 26 maret 2014 )
Dani Irfan. 2013. Filum Alga Api pyyrophyta : Padang
( http://pustaka.pandani.web.id/2013/11/filum-alga-api-pyrrophyta.html) diakses pada tanggal 26 Maret 2014

 

v\:* {behavior:url(#default#VML);}
o\:* {behavior:url(#default#VML);}
w\:* {behavior:url(#default#VML);}
.shape {behavior:url(#default#VML);}

Normal
0
false

false
false
false

EN-US
X-NONE
X-NONE

/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-qformat:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin:0cm;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:12.0pt;
mso-bidi-font-size:11.0pt;
font-family:”Times New Roman”,”serif”;
mso-bidi-font-family:”Times New Roman”;
mso-bidi-theme-font:minor-bidi;}

KATA PENGANTAR

 

Puji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan rahmat dan karunianya, sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas Laporan Akhir Praktikum mata kuliah Avertebrata air ini.

Laporan Akhir ini merupakan salah satu tugas mata kuliah Avertebrata Air di program studi Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Padjajaran.

Penulis menyampaikan terima kasih dan penghargaan yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang sudah mendukung  penyusunan laporan akhir ini. Kepada team dosen Avertebrata Air yang telah memberikan materi tentang avertebrata air, team asisten dosen yang selalu memberikan pengarahan mengenai praktikum ini, kepada teman – teman dan anggota kelompok praktikum yang selalu membantu dalam proses pembuatan laporan akhir ini.

Selanjutnya hal lain yang penting adalah kami sangat mengharapkan kritik dan saran dari pembaca sehingga akan menumbuhkan rasa syukur kami kepada rahmat Allah SWT dan dalam hal perbaikan laporan akhir ini ke depannya, karena penulis menyadari pembuatan laporan ini masih jauh dari kekurangan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

A.  Latar Belakang

 

            Dalam kehidupan sehari – hari tidak jarang kita menemukan hewan – hewan yang beragam di bumi ini. Banyaknya hewan – hewan di bumi ini tidak terlepas dari peran Alloh SWT sebagai pencipta alam semesta ini. Yang mana hanya Dia yang Maha Mengetahui segala sesuatu yang telah diciptakannya. Bahkan karena keterbatasan akal manusia, kebanyakan hewan di muka bumi ini tidak pernah diketahui oleh manusia. Apalagi sekitar kurang lebih 1 juta spesies hewan di lautan belum diberi nama. Bisa dibayangkan aneka jenis hewan yang beragam tersebut.

            Pada kingdom animalia dikenal istilah vertebrata dan avertebrata. Yaitu hewan bertulang belakang dan tidak bertulang belakang. Yang mana mempunyai kelas – kelas yang beragam di dalamnya. Dalam perairan juga ada istilah vertebrata dan avertebrata. Jika ditinjau lagi vertebrata kebanyakan orang telah banyak mengetahui, tetapi untuk avertebrata masih belum dibahas terlalu dalam karena spesiesnya yang sangat banyak. Sehingga dilakukanlah penelitian untuk mengkaji lebih dalam tentang avertebrata di perairan.

            Banyak sekali kelas – kelas untuk avertebrata air diantaranya adalah Cnidaria, Bivalvia, Echinodermata, Arthropoda, dan sebagainya. Beberapa spesies mungkin sudah diketahui dan masih banyak lagi yang belum diketahui. Walaupun untuk setiap daerah untuk spesies – spesies tertentu memiliki nama daerah tersendiri, namun tidak mengetahui nama ilmiah spesies tersebut. Seperti contoh nama ilmiah dari kerang darah yaitu anadara sp, gurita yaitu octopus sp, ubur – ubur yaitu aurelia sp, dan lain sebagainya. Pada dasarnya nama ilmiah memang terlihat lebih sukar untuk dihafal tetapi untuk itulah praktikum kali ini supaya mempermudah memahami hal tersebut.

            Ada pun dari beberapa kelas tersebut memiliki karakteristik yang berbeda sehingga sebagai mahasiswa patut untuk mengetahui hal tersebut, persamaan dan perbedaannya, ataupun dari ciri – ciri, habitat, cara makan, sistem pernafasan, pencernaan dan lain sebagainya. Itu merupakan hal – hal yang perlu diketahui untuk dapat menentukan suatu spesies masuk ke dalam genus, ordo, famili, atau kelas yang mana. Karena pada dasarnya untuk menentukan suatu spesies masuk ke dalam kelas mana itu tidak asal menentukan dan tidaklah mudah, perlu ada penelitian yang lebih mendalam.

            Pembudidaya di negeri ini masih sangat sedikit. Kebanyakan para nelayan adalah nelayan tangkap di laut atau di sungai dan muara yang besar. Ini tidaklah hal yang terlalu baik. Mengapa demikian ? Karena jika dipikirkan bahwa arti dari tangkap adalah mengambil hasil tanpa adanya istilah pembibitan yang dalam prosesnya seperti budidaya yang mirip dengan daur ulang. Berbeda dengan budidaya yang justru mengandalkan hasil dari pembibitan yang dilakukan oleh pembudidaya itu sendiri. Bahkan prediksi untuk tahun 2020 yang akan menguasai adalah perikanan budidaya bukannya yang lain, jika dibandingkan untuk tangkap semakin hari bisa dikatakan semakin menurun jumlah produksinya, untuk wirausaha perikanan pun itu tergantung pada perikanan tangkap atau budidaya, berbeda dengan budidaya yang akan terus berlangsung dalam waktu cukup lama jika benar – benar mahir dalam prosesnya. Selain itu, juga bisa dijadikan sebagai contoh yang akan menjadikan mahasiswa ingin mencoba menjadi seorang pengusaha muda utamanya dalam budidaya yang di praktikan kali ini. Dan mahasiswa tersebut bisa membuka lapangan pekerjaan dan mengurangi pengangguran yang ada di Indonesia. Inilah pentingnya pengetahuan dari orang yang telah sukses sebelumnya.

B.   TUJUAN

 

Adapun beberapa tujuan dari praktikum ini adalah :

Ø  Dapat menentukan nama ilmiah dari spesies yang ditemukan.

Ø  Memahami ciri – ciri dari berbagai kelas yang telah dipelajari.

Ø  Dapat menentukan kelas, famili, ordo, dan genus dari hewan yang ditemukan.

Ø  Mengetahui habitat alami dari spesies yang ditemukan.

Ø  Memahami prosedur pembudidayaan tambak udang vanamei.

Ø  Mengetahui hal-hal yang dibutuhkan dalam mempersiapkan tambak udang vanamei.

Ø  Dapat mempelajari proses budidaya tambak udang vanamei.

C.   WAKTU DAN TEMPAT

Adapun waktu dan tempat pelaksanaan praktikum akhir adalah :

Hari, tanggal               :           Minggu, 8 Desember 2013

Waktu                         :           07.30 sd selesai.

Tempat                        :           Pantai Pangandaran

Bab II

KAJIAN PUSTAKA

 

1.    Cnidaria

A)    Pengertian

Dari sudut etimologi, kata Cnidaria berasal dari bahasa Yunani “cnidos” yang berarti “jarum penyengat“. Filum yang terdiri atas sekitar 9.000 spesies hewan sederhana yang hanya ditemukan di perairan, kebanyakan lingkungan laut. Cnidaria juga disebut Coelenterata karena mempunyai rongga besar di tengah-tengah tubuh. Coelenterata berasal dari kata coilos (berongga) dan enteron (usus). Jadi, semua hewan yang termasuk filum ini mempunyai rongga usus (gastrovaskuler) yang berfungsi untuk pencernaan. Coelentarata merupakan golongan hewan diploblastik, karena tubuhnya secara essensial hanya tersusun atas dua lapisan sel, yaitu ektodermis (epidermis) dan gastrodermis (endodermis). Diantara kedua lapisan tersebut terdapat lapisan non seluler disebut mesoglea, dan pada lapisan ini tersebar sel-sel saraf. Pada lapisan ektodermis terdapat sel knidoblast. Di dalam knidoblast terdapat nematokist (paling banyak pada tentakel) yaitu alat yang berfungsi untuk melumpuhkan dan mempertahankan diri dari musuhnya, disebut juga alat penyengat.

Mereka memiliki dua bentuk tubuh dasar: medusa yang berenang dan polip yang sesil, keduanya simetris radial dengan mulut dikelilingi oleh tentakel berknidosit.

      1.      Fase Polip

Daur hidup Cnidaria mengalami fase polip dan fase medusa. Pada fase polip hidupnya menempel di batuan perairan. Terlihat pada Gambar 2(a) bentuknya seperti silinder dengan ujung yang satu terdapat mulut yang dikelilingi tentakel dan ujung lain buntu untuk melekatkan diri. Polip ini umumnya hidup secara soliter atau menyendiri, tetapi ada pula yang membentuk koloni, karena dia melekat jadi tidak dapat bergerak bebas. Polip yang membentuk koloni mempunyai beberapa macam bentuk menurut fungsinya, yaitu polip untuk makan yang disebut gastozoid. Polip yang digunakan untuk pembiakan dengan menghasilkan medusa disebut gonozoid dan polip untuk pertahanan. Koloni dari beberapa bentuk polip disebut polimorfisme.

      2.       Fase Medusa

Pada fase medusa, Cnidaria hidup melayang-layang di perairan. Bentuk tubuhnya tampak seperti payung/lonceng dengan tantakel pada bagian tepi yang melingkar, tampak transparan, dan berenang bebas. Di bagian tengah permukaan bawahnya terdapat mulut. Bentuk tubuh lainnya seperti bunga mawar dan mendapat julukan “mawar laut”. Fungsi dari medusa adalah untuk berkembang biak secara seksual, jadi pada fase medusa ini akan menghasilkan sperma dan ovum. Tidak semua Cnidaria mempunyai bentuk polip dan medusa, ada yang hanya mempunyai bentuk polip saja.

http://saifulfuadi.files.wordpress.com/2012/04/gbr2.jpg?w=590

Gambar 2: (a) Bentuk polip (b) Medusa

B)    Ciri – Ciri

Ciri-ciri umum dari hewan ini adalah:

1. Bentuk tubuh biasanya simetri radial.

2. Tubuh bersel banyak dan bentuknya simetris radial.

3. Tidak memiliki kepala, pangkal tubuh berbentuk cakram, lubang mulut dikelilingi tentakel.

4. Coelenterata belum memiliki alat peredaran darah, pernafasan dan ekskresi

5. Sifat jenisnya hermaprodit.

6. Bentuk Tubuh Coelentarat.

7. Setiap hewan Coelentarata mempunyai rongga gastrovaskuler. Rongga gastrovaskuler Coelentarata bercabang-cabang yang dipisahkan oleh septum/penyekat dan belum mempunyai anus.

8. Tubuh tidak bersegmen, diploblastik.

9. Rongga tubuh berfungsi sebagai alat pernafasan.

10. Rangka disusun oleh zat kapur atau zat tanduk.

11. Habitat umumnya dilaut, tetapi ada juga yang di air tawar.

12. Hampir semua coelenterata hidup di laut, tetapi beberapa diantaranya hidup di air tawar. Ada beberapa hidup bebas, tetapi beberapa terikat pada suatu obyek.

13. Mempunyai 2 bentuk stadium / fase hidup yaitu polip dan medusa.

C)    Habitat

Habitat dari cnidaria kebanyakan adalah di laut hampir seluruhnya hidup di laut hanya sekitar 14 spesies yang hidup di air tawar. Biasanya hidup di perairan dangkal, dan melekat pada substrat ataupun berenang bebas.

D)    Klasifikasi

Para ahli taksonomi membagi Cnidaria menjadi tiga kelas, yaitu Hydrozoa, Scyphozoa, dan Anthozoa. Bagaimana ciri-ciri dari ketiga kelas tersebut?

http://saifulfuadi.files.wordpress.com/2012/04/gbr3.jpg?w=590

Gambar 3: Beberapa hewan Cnidaria

1.            Hydrozoa

Kebanyakan hidup di laut dan berkoloni (berkelompok), kadang-kadang hidup soliter (terpisah), dan ada yang hidup di air tawar. Siklus hidup meliputi 2 bentuk, yaitu polip dan medusa. Rongga gastrovaskuler tidak dilengkapi dengan stomedium. Hydrozoa yang soliter mempunyai bentuk polip, sedangkan yang berkoloni dengan bentuk polip dominan dan beberapa jenis membentuk medusa. Contoh Hydra sp., Physalia pelagica, dan Obellia.

         a. Hydra

Berdasarkan pengamatan dapat kita lihat bentuk Hydra seperti kantung, berongga, dan tidak bersekat. Hidupnya secara soliter di air tawar. Makanannya berupa hewan-hewan kecil misalnya jentik nyamuk, udang, kerang. Hydra bereproduksi secara aseksual dan seksual. Agar lebih jelas, lihatlah Gambar 4!

 http://saifulfuadi.files.wordpress.com/2012/04/gbr4.jpg?w=590

Gambar 4:  Hydra dengan alat perkembangbiakannya

           b. Obelia

Obelia merupakan jenis Cnidaria yang hidup di air laut dan hidup secara berkoloni. Tubuhnya mempunyai rangka luar yang mengandung kitin. Hidupnya sebagai koloni polip, yaitu polip hidrant yang berfungsi untuk makan dan polip gonangium yang berfungsi membentuk medusa dan dapat menghasilkan alat reproduksi. Agar lebih jelas, amati daur hidupnya pada Gambar 5!

 http://saifulfuadi.files.wordpress.com/2012/04/gbr5.jpg?w=590

Gambar 5: Daur hidup Obelia

           c. Physalia

Physalia mempunyai bagian tubuh sebagai pelampung, hidupnya sebagai koloni polip yaitu ada polip untuk makan (gastrozoid), polip untuk reproduksi (gonazoid) dan polip untuk menangkap mangsa (daktilozid).

http://saifulfuadi.files.wordpress.com/2012/04/gbr6.jpg?w=590

Gambar 6: Siklus hidup ubur-ubur

2.            Schyphozoa

Scypozoa dikenal sebagai true medusa atau Jellyfish. Fase polip mereduksi, sedangkan fase medusa dominan dan berukuarn besar, terapaung atau melekat pada suatu objek. Bentuk tubuh Scyphozoa menyerupai mangkuk atau cawan, sehingga sering disebut ubur-ubur mangkuk. Umbrella pada tepinya ada incisura dan umumnya bagian tepi terbagi menjadi 8 lobi. Pada tiap incisura ada alat indera yang disebut tentaculosyt atau rhopalia.

Contoh hewan kelas ini adalah Aurellia aurita, berupa medusa berukuran garis tengah 7 – 10 mm, dengan pinggiran berlekuk-lekuk 8 buah. Hewan ini banyak terdapat di sepanjang pantai.

Seperti Obelia, Aurellia juga mengalami pergiliran keturunan seksual dan aseksual. Aurellia memiliki alat kelamin yang terpisah pada individu jantan dan betina. Pembuahan ovum oleh sperma secara internal di dalam tubuh individu betina.

Hasil pembuahan adalah zigot yang akan berkembang menjadi larva bersilia disebut planula. Planula akan berenang dan menempel pada tempat yang sesuai. Setelah menempel, silia dilepaskan dan planula tumbuh menjadi polip muda disebut skifistoma. Skifistoma kemudian membentuk tunas-tunas lateral sehingga Aurellia tampak seperti tumpukan piring dan disebut strobilasi. Kuncup dewasa paling atas akan melepaskan diri dan menjadi medusa muda disebut Efira. Selanjutnya efira berkembang menjadi medusa dewasa.

3.            Anthozoa

Anthozoa berasal darikata Anthos = bunga, zoon = binatang. Anthozoa berarti hewan yang bentuknya seperti bunga atau hewan bunga. Hidup di laut, soliter atau berkoloni. Anggota kelas ini merupakan polip yang menetap dengan melekatkan diri pada substrat yang terdapat di dasar laut. Fase medusanya mereduksi. Bila dibandingkan, polip Anthozoa berbeda dengan polip pada Hydrozoa. Kelas Anthozoa meliputi Mawar Laut (Anemon Laut) dan Koral (Karang).

Contoh: Fungia sp. (kerang cendawan), Favites sp., Acropora sp., Tubipora musica, Galaxea sp., Atipathes sp. (akar bahar), Gorgonia sp.

http://saifulfuadi.files.wordpress.com/2012/04/gbr7.jpg?w=590

Gambar 7: Anthozoa

E)     Sistem Reproduksi

1. Aseksual (vegetatif)

Dilakukan dengan membentuk kuncup pada kaki pada fase polip. Makin lama makin besar, lalu membentuk tentakel. Kuncup tumbuh disekitar kaki sampai besar hingga induknya membuat kuncup baru. Semakin banyak lalu menjadi koloni.

2. Seksual (generatif)

Dilakukan dengan peleburan sel sperma dengan sel ovum (telur) yang terjadi pada fase medusa. Letak testis di dekat tentakel sedangkan ovarium dekat kaki. Sperma masak dikeluarkan lalu berenang hingga menuju ovum. Ovum yang dibuahi akan membentuk zigot. Mula-mula zigot tumbuh di ovarium hingga menjadi larva. Larva bersilia (planula) berenang meninggalkan induk dan membentuk polip di dasar perairan.

 

F)     Sistem Respirasi dan Ekskresi

  • Tidak ada anggota dari filum Cnidaria memiliki organ pernapasan seperti paru-paru atau insang. Sebenarnya, Cnidaria tidak membutuhkan sistem pernapasan.
  • Hal ini karena, setiap sel tubuh mereka selalu langsung bersentuhan dengan air tawar yang mengalir. Jadi, setiap saat, oksigen segar dan karbon dioksida basi dapat dengan mudah menyebar ke dalam dan dari tubuh organisme itu.
  • Demikian pula, Cnidaria tidak perlu sistem ekskretoris baik. Setiap jenis limbah atau bahan basi dieliminasi dari tubuh mereka melalui kulit dengan difusi.
  • Respirasi dan pertukaran gas dalam Cnidaria berlangsung selama seluruh permukaan tubuh mereka. Lapisan epitel pada organisme menyerap oksigen dan melepaskan karbon dioksida ke-air sekitarnya. Pertukaran ini terjadi baik melalui rongga gastrovascular atau difusi melalui kulit tersebut.

Difusi adalah proses di mana ada gerakan dari suatu zat dari daerah konsentrasi tinggi bahwa zat ke daerah konsentrasi rendah, sampai keadaan kesetimbangan dicapai.

G)    Sistem Saraf

Pada Coelenterata akuatik seperti Hydra, ubur – ubur dan anemon laut pada mesoglea yang terletak diantara epidermis (ektoderm) dan gastrodermis (endoderm) terdapat sistem saraf diffus karena sel – sel saraf masih tersebar saling berhubungan satu sama lain menyerupai jala yang disebut saraf jala. Sistem saraf ini terdiri atas sel-sel saraf berkutub satu, berkutub dua, dan berkutub banyak yang membentuk sistem yang saling berhubungan seperti jala. Meskipun demikian impuls dari satu sel ke sel lainnya lewat melalui sinaps. Saraf jala sudah merupakan sistem sinaps tapi tidak mempunyai ciri – ciri sinaps.

H)    Cara Mendapatkan Makan

Coelenterata hidup di perairan yang jernih yang mengandung partikel-pertikel organik, plankton atau hewan-hewan kecil. Jika terdapat hewan kecil, misal jentik nyamuk menempel pada tentakel dan mengenai sel knidoblast, maka sel tersebut mengeluarkan racun. Jentik akan lemas lalu tentakel membawanya ke mulut.

Di bawah mulut terdapat kerongkongan pendek lalu masuk ke rongga gastrovaskuler untuk dicerna secara ekstraseluler (luar sel). Sel-sel endoderma menyerap sari-sari makanan. Sisa-sisa makanan akan dimuntahkan melalui mulut. Setiap hewan Coelentarata mempunyai rongga gastrovaskuler. Rongga gastrovaskuler Coelentarata bercabang-cabang yang dipisahkan oleh septum/penyekat dan belum mempunyai anus.

I)       Peranan dan Manfaat Cnidaria

Banyak sekali manfaat Cnidaria ini dalam kehidupan. Ubur-ubur sering dimanfaatkan oleh orang Jepang untuk bahan makanan dan sebagai bahan kosmetik. Beberapa jenis hewan Anthozoa dapat membentuk karang yang bentuknya bervariasi dan sangat indah sehingga dapat dimanfaatkan sebagai objek yang berkaitan dengan pariwisata. Ada juga jenis Anthozoa yang membentuk rangka dari zat tanduk yang sering dikenal sebagai akar bahar (Euplexaura antipathes) yang kerangkanya dapat digunakan sebagai gelang. Kita seharusnya bersyukur sebab di negara kita Indonesia, banyak sekali keindahan alam yang dapat dijadikan objek wisata sehingga dapat meningkatkan taraf perekonomian penduduk di sekitar tempat wisata itu. Selain itu, bangsa kita menjadi lebih terkenal, misalnya dengan adanya Taman Laut Bunaken di Menado, Pasir Putih di Jawa Timur, dan Taman Laut di Bali.

2.    Gastropoda

 

A)  Pengertian

Gastropoda berasal dari gaster artinya perut, dan podos artinya kaki. Jadi Gastropoda adalah hewan yang bertubuh lunak, berjalan dengan perut yang dalam hal ini disebut kaki. Gastropoda merupakan salah satu kelas dari filum moluska. Gastropoda merupakan kelas yang sangat beragam dan melimpah dalam filum Mollusca. 60.000 sampai 80.000 jenis dalam kelas Gastropoda yang hidup di bumi. Dalam kelompok ini termasuk siput, keong, abalone, conches, periwinkles, whelks. Hewan ini tersebar di seluruh permukaan bumi, baik di darat, di air tawar, maupun di air laut. Pada umumnya, hewan ini bersifat herbifor, sering memakan sayuran budidaya sehingga merugikan manusia. Namun, akhir-akhir ini beberapa gastropoda telah dicobakan menjadi bahan makanan, karena kandungan proteinnya tinggi, misalnya bekicot (achatina fulica) dan beberapa jenis siput.

Tubuhnya lunak, berlendir, dan bermantel, biasanya dilindungi oleh cangkang zat kapur. Selain melindungi tubuh, cangkang ini juga berfungsi untuk melindungi organ yang ada di dalam isi perut. Cangkang yang melindungi merupakan rangka skeleton yang disebut Body Case sehingga aman dilingkungan.

B)   Ciri – Ciri

Ciri-ciri Gastropoda :
a. Gastropoda artinya hewan ang menggunakan perutnya sebagai kaki atau alat geraknya.
b. Gastropoda memiliki jumlah spesies yang paling besar.
c. Hewan ini memiliki lidah parut dan zat tanduk untuk menghancurkan makanannya
d. Cangkoknya berbentuk kerucut terpilin.
e. Pada waktu larva tubuhnya berbentuk simetris bilateral tetapi dalam perkembangannya mengalami pembengkokan sehingga membentuk lingkaran.
f. Pada waktu dewasa, anusnya berada di sebelah atas mulutnya.
g. Larvanya bernafas dengan insang dan pada waktu dewasa bernafas dengan paru-paru.
h. Sifatnya hemafrodit.

C)   Habitat

Gastropoda umumnya hidup di air laut, diperairan dangkal dan perairan dalam. Ada yang hidup di atas tanah yang berlumpur dan tergenang air, ada pula yang menempel pada akar atau batang, dan memanjat seperti pada Littoria, Cassidula, Cerithiidae, dan lain – lainnya.

Conus lebih banyak variasinya, ada yang menempel di atas terumbu karang di bawah karang, ada yang di atas pasir ataupun membenamkan diri di dalam pasir. Murex ada yang di atas terumbu karang, dibalik karang atau di atas pasir.

D)  Klasifikasi

Gastropoda memiliki beberapa sub kelas diantaranya :

a.       Prosabranchia

Memiliki dua buah insang yang terletak di anterior, sistem saraf terpilin membentuk angka delapan, tentakel berjumlah dua buah. Cangkang umumnya tertutup oleh operkulum. Contohnya : Trochus sp.

 

b.      Ophistobranchia

Kelompok gastropoda ini memiliki dua buah insang yang terletak di posterior, nefridia berjumlah satu buah, jantung satu ruang dan organ reproduksi berumah satu. Kebanyakan hidup di laut. Contoh : Aplysia sp.

 

c.       Pulmonata

Bernafas dengan paru – paru, cangkang berbentuk spiral, kepala dilengkapi dengan satu atau dua pasang tentakel, sepasang diantaranya mempunyai mata. Rongga mentel terletak di interior, organ reproduksi hermaprodit atau berumah satu. Contoh : Achatina.

E)   Sistem Reproduksi

Setiap individu Gastropoda mempunyai alat kelamin jantan dan betina (Hermaprodit). Gastropoda yang melangsungkan perkawinannya dengan cara sel telur setelah dibuahi oleh sperma akan terjadi zigot dan menjadi telur. Telur ini akan dikeluarkan dari saluran telur satu persatu dari saluran telur siput betina. Gastropoda yang hidup di laut mengamankan telur-telurnya dengan meletakkan di dalam selaput agar-agar. Bentuk selaput perlindungan ini bermacam-macam banyak diantaranya yang berbentuk kapsul dan setiap kapsul dapat berisi satu sampai ratusan telur didalamnya. Ada induk yang menjaga tetlurnya tetapi ada pula yang meninggalkan telurnya.

F)    Sistem Ekskresi

Menggunakan sebuah ginjal, mengeluarkan zat-zat sisa dari rongga Pericardial yang mengelilingi jantung dan membuangnya ke dalam rongga mantel.

G)  Sistem Respirasi dan Peredaran Darah

Pada gastropoda darat, pernafasan menggunakan sebuah paru-paru yang disebut “Pulmonate”, pada Gastropoda yang hidup di air tempat pulmonate itu ditempati oleh insang, paru-paru merupakan anyaman pembuluh darah pada dinding luar. Udara masuk dan keluar melalui porus respiratorius. Darah yang berasal dari tubuh mengalami aerasi di dalam paru-paru dan kemudian dipompakan oleh jantung melalui arteri ke arah kepala, kaki dan viscera (alat-alat dalam).

H)  Sistem Saraf

Sistem saraf ganglion secara rapat berpasangan dengan saraf serebral (dorsal dari faring dan bukal), saraf kaki, saraf jerohan. Saraf-saraf dari ganglia itu melanjut ke seluruh sistem organ.

I)      Sistem Pencernaan

Sistem pencernaan mulai dari mulut terus ke faring yang berotot. Pada bagian dorsal faring terdapat sebuah rahang dan di bagian ventral terdapat radula. Dari faring terus ke esophagus, kemudian ke tembolok tipis (crop), lambung, usus halus yang berkelok-kelok dan berakhir di anus. Disebelah kanan dan kiri tembolok tipis terdapat kelenjar ludah yang menuangkan ludah ke dalam faring.

3.    Bivalvia

A)  Pengertian

Bivalvia adalah kelas dalam moluska yang mencakup semua kerang – kerangan: memiliki sepasang cangkang (nama “bivalvia” berarti duacangkang). Nama lainnya adalah Lamellibranchia, Pelecypoda, atau bivalva. Ke dalam kelompok ini termasuk berbagai kerang, kupang, remis, kijing, lokan, simping, tiram, serta kima, meskipun variasi di dalam bivalvia sebenarnya sangat luas.

Bivalvia mempunyai dua keping atau belahan yaitu belahan sebelahkanan dan kiri yang disatukan oleh suatu engsel bersifat elastis disebut ligamen dan mempunyai satu atau dua otot adductor dalam cangkangnya yang berfungsi untuk membuka dan menutup kedua belahan cangkang tersebut. Untuk membedakan belahan kanan dan balahan kiri cangkang terkadang mengalami kesulitan, hal ini biasa terjadi pada bivalvia yang hidup menempel pada benda keras misalnya pada karang, karena pertumbuhan bivalvia ini mengikuti bentuk dari permukaan karang tersebut sehingga bentuknya tidak wajar. Bivalvia tidak memiliki kepala, mata serta radula di dalam tubuhnya, tubuh bivalvia hanya terbagi menjadi tiga bagian utama yaitu kaki, mantel,dan organ dalam. Kaki dapat ditonjolkan antara dua cangkang tertutup, bergerak memanjang dan memendek berfungsi untuk bergerak dan merayap.

B)   Ciri – Ciri

C)  Habitat

Menurut Kastoro (1988) ditinjau dari cara hidupnya, jenis-jenis bivalvia mempunyai habitat yang berlainan walaupun mereka termasuk dalam satu suku dan hidup dalam satu ekosistem. Bivalvia pada umumnya hidup membenamkan dirinya dalam pasir atau pasir berlumpur dan beberapa jenis diantaranya ada yang menempel pada benda-benda keras dengan semacam serabut yang dinamakan byssal threads. Demikian pula Nontji(1987), bivalvia hidup menetap di dasar laut dengan cara membenamkan diridi dalam pasir atau lumpur bahkan pada karang-karang batu. Akan tetapi pada beberapa spesies bivalvia seperti Mytillus edulis dapat hidup di daerah intertidal karena mampu menutup rapat cangkangnya untuk mencegahkehilangan air (Nybakken, 1992).

Menurut Odum (1988), dalam Samingan dan Srigondo (1993) bahwa binatang infauna seringkali memberikan reaksi yang mencolok terhadap ukuran butir atau tekstur dasar laut, sehingga habitat Molusca dari berbagail ereng pasir lumpur akan berbeda. Menurut Kastoro (1988) ditinjau dari cara hidupnya, jenis-jenis pelecypoda mempunyai habitat yang berlainanwalaupun mereka termasuk dalam satu suku dan hidup dalam satu ekosistem.

Nontji (1993), menyatakan bahwa “pelecypoda hidup menetap didasar laut dengan cara membenamkan diri di dalam pasir atau lumpur adapula yang menempel di pohon bahkan pada karang-karang batu”. Pada beberapa spesies pelecypoda seperti Mytillus edulis dapat hidup di daerah intertidal karena mampu menutup rapat cangkangnya untuk mencegah kehilangan air (Nybakken, 1992).

D)  Klasifikasi

Kelas Bivalvia termasuk salah satu kelas dari phylum Molusca yangmemiliki empat ordo yaitu Protobranchia, Taxodonata, Dysodonta dan Pseudolamellibranchia. Kebanyakan hidup di laut terutama di daerah littoral, beberapa di daerah pasang surut dan air tawar. Beberapa jenis laut hidup sampai kedalaman 5000 m (Swit, 1993). Suwignyo (1998) membagi Bivalvia dalam 3 sub kelas diantaranya :

1.    Sub kelas Protobranchia

Umumnya primitif; filamen insang pendek dan tidak melipat; permukaan kaki datar dan menghadap ke ventral; otot aduktor 2 buah. Contoh : Yoldia dan Nucula.

Yoldia

2. Sub kelas Lamellibranchia

Filamen insang memanjang dan melipat, seperti huruf W; antara filament dihubungkan oleh cilia (filabranchia) atau jaringan (eulamellibranchia). Contoh : Mytillus dan Pinctada.

Mytillus

3.    Sub kelas Septibranchia.

Insang termodifikasi menjadi sekat antara rongga inhalant rongga suprabranchia, yang berfungsi seperti pompa. Umumnya hidup di lautdalam seperti : Cuspidularia dan Poromya.

                                             

 

 

E)   Sistem Reproduksi

Hewan seperti kerang air tawar ini memiliki kelamin terpisah atau berumah dua. Umumnya pembuahan dilakukan secara eksternal. Dalam kerang air tawar, sel telur yang telah matang akan dikeluarkan dari ovarium. Kemudian masuk ke dalam ruangan suprabranchial. Di sini terjadi pembuahan oleh sperma yang dilepaskan oleh hewan jantan. Telur yang telah dibuahi berkembang menjadi larva glochidium. Larva ini pada beberapa jenisada yang memiliki alat kait dan ada pula yang tidak. Selanjutnya larva akan keluar dari induknya dan menempel pada ikan sebagai parasit, lalu menjadikista. Setelah beberapa hari kista tadi akan membuka dan keluarlah Mollusca muda. Akhirnya Mollusca ini hidup bebas di alam.

F)    Sistem Pencernaan

Sistem pencernaan dimulai dari mulut, kerongkongan, lambung, ususdan akhirnya bermuara pada anus. Anus ini terdapat di saluran yang sama dengan saluran untuk keluarnya air. Sedangkan makanan golongan hewan kerang ini adalah hewan-hewan kecil yang terdapat dalam perairan berupa protozoa diatom dll. Makanan ini dicerna di lambung dengan bantuan getah pencernaan dan hati. Sisa-sisa makanan dikeluarkan melalui anus.

G)  Sistem Sirkulasi

Sistem sirkulasi terdiri atas jantung, aorta anterior dan aorta dorsal. Jantung terletak di bagian dorsal di dalam perikard  dan terdiri atas dua aurikel dan ventrikel. Dari ventrikel muncul dua aorta, yakni aorta anterior yang memasok darah ke kaki, lambung dan mantel; serta aorta posterior yang memasok darah ke rectum dan mantel.

H)  Sistem Ekskresi

Sistem ekskresi berua ginjal yang terletak di bawah perikard. Ginjal berfungsi membuang limbah dari darah dan dari cairan perikard.

I)      Sistem Saraf

Sistem saraf terdiri atas tiga ppasang ganglion, yakni ganglion cerebral di sisi esophagus, ganglion pedal pada kaki dan ganglion visceral di bawah otot adductor posterior. Masing-masing pasangan ganglion dihubungkan oleh saraf penghubung. Pada setiap ganglion dilepaskan saraf ke organ dan juga terdapat kommisur serebropedal dan serebroviceral.

J)       Cara Mendapatkan Makanan

Makanan berupa organisme atau zat-zat terlarut yang berada dalam air. Makanan diperoleh melalui tabung sifon dengan cara memasukkan air ke dalam sifon dan menyaring zat-zat terlarut. Air dikeluarkan kembali melalui saluran lainnya. Makin dalam kerang membenamkan diri makin panjang tabung sifonnya.

K)  Peranan

Selama ini orang mengenal kerang air tawar ( Anodonta woodiana ) atau kijing taiwan sebagai makanan dan bahan baku kerajinan. Sebagai makanan, kerang merupakan sumber protein. Namun seperti yang sudah banyak dibahas di media massa, manusia perlu berhati-hati sebelum menyantap kerang. Kerang air tawar baru layak santap bila kondisi lingkungan ia tinggal relatif bersih dari pencemaran. Bila lingkungan perairan di mana ia tinggal tercemar, bisa-bisa bukan protein yang didapat melainkan racun yang bisa mematikan.
Akumulasi logam berat pada tubuh manusia akan menimbulkan berbagai dampak yang membahayakan kesehatan. Di antaranya adalah kerapuhan tulang, rusaknya kelenjar reproduksi, kanker, kerusakan otak, dan keracunan akut pada sistem saraf pusat. Perairan yang tercemar logam berat tidak saja terjadi di Surabaya. Muara sungai ( daerah estuari ) besar di Jawa Tengah sarat dengan logam berat, seperti kromium, kadmium, timbal, mangan, seng, besi, dan fenol.

Nilai ekologis kerang justru karena sering menyerap logam berat di perairan, kerang sebenarnya memiliki nilai ekologis yang luar biasa. Kerang air tawar yang tinggal di dasar kolam atau danau ternyata bisa dimanfaatkan untuk “melahap” polutan termasuk logam berat yang tersuspensi dalam perairan. Di samping itu, kemampuan hidupnya yang relatif lebih tahan terhadap polutan dibanding ikan-mampu hidup dalam lumpur yang kering saat musim kemarau-membuat kerang amat tepat dimanfaatkan sebagai pembersih lingkungan.  Apalagi, kerang bisa membersihkan polutan logam berat relatif cepat. Penelitian terhadap kemampuan kerang dalam membersihkan logam berat ini telah dilakukan Laboratorium Biokimia Institut Pertanian Bogor. Metodenya sebagai berikut: lima, sepuluh, lima belas, dan dua puluh ekor kerang yang relatif seragam ukuran dan umurnya masing-masing dimasukkan ke dalam larutan polutan besi (Fe) 10 ppm, tembaga (Cu) 2 ppm, timbal (Pb) 0,5 ppm, dan kadmium (Cd) 0,1 ppm, serta campuran semua logam berat tersebut (Fe, Cu, Pb, dan Cd dengan konsentrasi seperti di atas). Dari keempat hasil penelitian tersebut, terbukti bahwa kerang mampu menurunkan polutan logam berat pada air tawar secara nyata. Pengaruh jumlah kerang tampak tidak berbeda nyata dikarenakan konsentrasi logam berat yang kecil dan jumlah kerang relatif besar.

Mengenal kerang putih/kijing taiwan, kerang jenis Anodonta woodiana ini berasal dari Taiwan. Karena itu ia dikenal juga dengan sebutan kerang atau kijing taiwan. Kerang ini masuk ke Indonesia tanpa sengaja. Ia ikut terbawa saat Indonesia mengimpor ikan mola ( Hypophthalmichtys molitrix ) dari Taiwan sekitar akhir 1960-an hingga awal 1970-an. Hewan ini tergolong filter feeder yaitu jenis hewan yang mendapatkan makanan dengan jalan menyaring air yang masuk ke dalam tubuhnya. Volume air yang dapat disaring oleh kerang adalah 2,5 liter per individu dewasa per jam. Makanan yang masuk bersama air tadi digerakkan, diperas, lalu dicerna dengan bantuan cilia (rambut getar) pada tubuhnya. Cilia mampu bergerak 2-20 kali per detik. Makanan kerang dapat berupa zooplankton, fitoplankton, bakteri, flagellata, protozoa, detritus, alga, dan berbagai zat yang tersuspensi dalam perairan tempat tinggalnya. Alat pencernaannya berturut-turut terdiri dari mulut yang tidak berahang atau bergigi, sepasang labial palps yang bercilia, oesofagus, lambung, usus, rektum, dan anus. Selain alat pencernaan, di dalam tubuh kerang terdapat pula hati yang menyelubungi dinding lambung, ginjal, pembuluh darah, dan pembuluh urat saraf.

4.    Echinodermata

A)  Pengertian

Filum Echinodermata (dari bahasa Yunani untuk kulit berduri) adalah sebuah filum hewan laut yang mencakup bintang laut, Teripang, dan beberapa kerabatnya. Kelompok hewan ini ditemukan di hampir semua kedalaman laut. Filum ini muncul di periode Kambrium awal dan terdiri dari 7.000 spesies yang masih hidup dan 13.000 spesies yang sudah punah.

Echinodermata adalah filum hewan terbesar yang tidak memiliki anggota yang hidup di air tawar atau darat. Hewan-hewan ini juga mudah dikenali dari bentuk tubuhnya: kebanyakan memiliki simetri radial, khususnya simetri radial pentameral (terbagi lima). Walaupun terlihat primitif, Echinodermata adalah filum yang berkerabat relatif dekat dengan Chordata (yang di dalamnya tercakup Vertebrata), dan simetri radialnya berevolusi secara sekunder. Larva bintang laut misalnya, masih menunjukkan keserupaan yang cukup besar dengan larva Hemichordata.

Banyak di antara anggotanya yang berperan besar dalam ekosistem laut, terutama ekosistem litoral pantai berbatu, terumbu karang, perairan dangkal, dan palung laut. Spesies bintang laut Pisaster ochraceus misalnya, menjadi predator utama di ekosistem pantai berbatu di pesisir barat Amerika Utara, spesifiknya mengendalikan populasi tiram biru (Mytilus edulis)sehingga spesies yang lain dapat menghuni pantai tersebut dan bivalvia tersebut tidak mendominansi secara berlebihan. Contoh lain adalah Acanthaster planci yang memakan polip karang di perairan Indo-Pasifik. Kendati sering dianggap desktruktif, ada beberapa teori yang mengatakan bahwa A. planci sebenarnya adalah predator yang penting untuk ekosistem terumbu karang, sehingga terjadi rekruitmen karang baru yang menggantikan koloni-koloni tua, juga mengurangi tekanan kompetisi antara satu spesies karang dengan yang lain.

B)   Ciri – Ciri

Adapun ciri – ciri dari filum echinodermata ini yaitu :

a)      Semua echinodermata hidup di air laut;

b)      Tubuhnya berbentuk bilateral simetri, sedangkan setelah dewasa bentuk tubuhnya menjadi radial simetri dan memiliki tubuh (organ tubuh) lima atau kelipatannya

c)      Tidak ada kepala;

d)     Tidak bersegmen;

e)      Tubuh memiliki banyak kaki tabung yang befungsi untuk bergerak dan menangkap makanan;

f)       Tubuh ditutupi oleh epidermis yang di sokong oleh skeleton yang tetap dan spina;

g)      Sistem pencernaan sederhana (beberapa di antaranya dilengkapi dengan anus), rongga tubuh bersilia, biasanya luas, di isi dengan/mengandung sel bebas (amoebosit);

h)      Respirasi dengan papulae, kaki tabung atau dengan pohon respirasi;

i)        Jenis kelamin terpisah, gonat besar, fertilisasi eksternal, telur banyak, larva mikroskopik, bersilia, biasanya berenang bebas, mengalami metamorfosis;

j)        Sebagian besar spesies mampu bergerak dengan merangkak dan sangat lambat;

k)      Tampilan khusus anggota filum ini seluruhnya memiliki duri. Tepat dibawah kulitnya, duri dan lempeng kapurnya membentuk kerangka;

l)        Tubuhnya berkembang dalam bidang lima antimere yang memancar dari sebuah cakram pusat dimana mulutnya berada di tengah;

m)    Mereka memiliki sistem peredaran air yang terdiri dari sederet tabung berisi cairan yang dipakai dalam pergerakan;

C)   Habitat

Echinodermata merupakan hewan yang hidup bebas. Habitat umumnya di dasar laut, daerah pantai hingga laut dalam. Hewan ini termasuk hewan benthonic yang bergerak merayap di dasar perairan atau berdiam diri menunggu mangsa. Beberapa jenis banyak terdapat ditempat terbuka atau kurang tersembunyi dan ada pula yang senang bersembunyi di celah-celah karang.

Umumnya hidup soliter tetapi pada kondisi tertentu (sepeti menghindari matahari langsung atau pengeringan berlebih) beberapa individu mengumpul pada tempat tertentu untuk pertahanan diri. Melimpah pada permukaan yang keras, berbatu, berpasir atau didasar yang lunak. Sedangkan spesies yang lain ditemukan berada di dasar laut yang berbatu. Kebanyakan hewan Echinodermata adalah nokturnal yang aktif di malam hari.

D)  Klasifikasi

·         Kelas Asteroidea

·         Kelas Echinoidea

·         Kelas Ophiuroidea

·         Kelas Crinoidea

·         Kelas Holoturoidea

Ø  Kelas Asteroidea

Asteroidea merupakan spesies Echinodermata yang paling banyak jumlahnya, yaitu sekitar 1.600 spesies.Asteroidea juga sering disebut bintang laut.Contoh spesies ini adalah Acanthaster sp., Linckia sp., dan Pentaceros sp.Tubuh Asteroidea memiliki duri tumpul dan pendek.Duri tersebut ada yang termodifikasi menjadi bentuk seperti catut yang disebut Pediselaria.Fungsi pediselaria adalah untuk menangkap makanan serta melindungi permukaan tubuh dari kotoran.Pada bagian tubuh dengan mulut disebut bagian oral, sedangkan bagian tubuh dengan lubang anus disebut aboral.Pada hewan ini, kaki ambulakral selain untuk bergerak juga merupakan alat pengisap sehingga dapat melekat kuat pada suatu dasar.

Sistem ambulakral Asteroidea terdiri dari :
– Medreporit adalah lempengan berpori pada permukaan cakram pusat dibagian dorsal tubuh.
– Saluran cincin terdapat di rongga tubuh cakram pusat
– Saluran radial merupakan cabang saluran cincin ke setiap lengan
– Kaki ambulakral merupakan juluran saluran radial yang keluar.

Anggota Asteroidea memiliki kemampuan regenerasi yang sangat besar.Setiap bagian lengannya dapat beregenerasi dan bagian cakram pusat yang rusak dapat diganti.Asteroidea merupakan hewan dioseus, organ kelamin berpasangan pada setiap lengan, dan fertilisasi terjadi di luar tubuh.

Linckia sp

 

Ø  Kelas Echinoidea

Tubuh hewan ini dipenuhi oleh duri tajam. Duri ini tersusun dari zat kapur. Duri ini ada yang pendek dan ada pula yang panjang seperti landak.Itulah sebabnya jenis hewan inisering disebut landak laut. Jenishewan ini biasanya hidup disela-sela pasir atau sela-selabebatuan sekitar pantai atau didasar laut. Tubuhnya tanpa lengan hampir bulat atau gepeng. Ciri lainnya adalah mulutnya yang terdapat di permukaan oral dilengkapi dengan 5 buah gigi sebagai alat untuk mengambil makanan. Hewan ini memakan bermacammacam makanan laut, misalnya hewan lain yang telah mati, atau organisme kecil lainnya. Alat pengambil makanan digerakkan oleh otot yang disebut lentera arisoteteles. Sedangkan anus, madreporit dan lubang kelamin terdapat di permukaan atas.

Diadema

 

Ø  Kelas Ophiuroidea

Hewan ini jenis tubuhnya memiliki 5 lengan yang panjang-panjang. Kelima tangan ini juga bisa digerak-gerakkan sehingga menyerupai ular. Oleh karena itu hewan jenis ini sering disebut bintang ular laut (Ophiuroidea brevispinum). Mulut dan madreporitnya terdapat di permukaan oral. Hewan ini tidak mempunyai anus, sehingga sisa makanan atau kotorannya dikeluarkan dengan cara dimuntahkan melalui mulutnya. Hewan ini hidup di laut yang dangkal atau dalam. Biasanya bersembunyi di sekitar batu karang, rumput laut, atau mengubur diri di lumpur/pasir. Ia sangat aktif di malam hari. Makanannya adalah udang, kerang atau serpihan organisme lain (sampah).

Bintang ular

Ø  Kelas Crinoidea

Jenis Echinodermata ini yang hampir menyerupai tumbuhan. Memang sekilas hewan ini mirip tumbuhan bunga. Ia memiliki tangkai dan melekat pada bebatuan, tak beda seperti tumbuhan yang menempel di bebatuan. Ia juga memiliki 5 lengan yang bercabang-cabang lagi mirip bunga lili. Oleh karena itu hewan ini sering disebut lili laut (Metacrinus sp). Ciri lainnya mulut dan anus hewan ini terdapat di permukaan oral dan tidak mempunyai madreporit. Hewan ini sering ditemukan menempel dengan menggunakan cirri (akar) pada bebatuan di dasar laut. Ia juga bisa berenang bebas, sehingga jika lingkungan tidak menguntungkan akan pindah dan menempel pada tempat lain. Jenis lainnya adalah Antedon tenella, dengan tubuhnya kecil-kecil, bentuk piala disebut calyx (kaliks) tanpa tangkai.

Lili laut

Ø  Kelas Holoturoidea

Hewan jenis ini kulit durinya halus, sehingga sekilas tidak tampak sebagai jenis Echinodermata. Tubuhnya seperti mentimun dan disebut mentimun laut atau disebut juga teripang. Hewan ini sering ditemukan di tepi pantai. Gerakannya tidak kaku, fleksibel, lembut dan tidak mempunyai lengan. Rangkanya direduksi berupa butirbutir kapur di dalam kulit. Mulut terletak pada ujung anterior dan anus pada ujung posterior (aboral). Di sekeliling mulut terdapat tentakel yang bercabang sebanyak 10 sampai 30 buah. Tentakel dapat disamakan dengan kaki tabung bagian oral pada Echinodermata lainnya. Tiga baris kaki tabung di bagian ventral digunakan untuk bergerak dan dua baris di bagian dorsal berguna untuk melakukan pernafasan. Selain itu pernafasan juga menggunakan paru-paru air.

Kebiasaan hewan ini meletakkan diri di atas dasar laut atau mengubur diri di dalam lumpur/pasir dan bagian akhir tubuhnya diperlihatkan. Jika makhluk ini diganggu/diberi rangsangan dari luar maka ia akan mengkerut.

teripang

E)   Sistem Reproduksi

Echinodermata mempunyai jenis kelamin terpisah, sehingga ada yang jantan dan betina. Fertilisasi terjadi di luar tubuh, yaitu di dalam air laut. Telur yang telah dibuahi akan membelah secara cepat menghasilkan blastula, dan selanjutnya berkembang menjadi gastrula. Gastrula ini berkembang menjadi larva. Larva atau disebut juga bipinnaria berbentuk bilateral simetri. Larva ini berenang bebas di dalam air mencari tempat yang cocok hingga menjadi branchidaria, lalu mengalami metamorfosis dan akhirnya menjadi dewasa. Setelah dewasa bentuk tubuhnya berubah menjadi radial simetri. Perkembangan telur setelah pembuahan.

F)    Sistem Pernafasan dan Ekskresi

Echinodermata bernafas menggunakan paru-paru kulit atau dermal branchiae (Papulae) yaitu penonjolan dinding rongga tubuh (selom) yang tipis. Tonjolan ini dilindungi oleh silia dan pediselaria. Pada bagian inilah terjadi pertukaran oksigen dan karbondioksida. Ada pula beberapa jenis Echinodermata yang bernafas dengan menggunakan kaki tabung. Sisa-sisa metabolisme yang terjadi di dalam sel-sel tubuh akan diangkut oleh amoebacyte (sel-sel amoeboid) ke dermal branchiae untuk selanjutnya dilepas ke luar tubuh.

G)  Sistem Peredaran Darah

Sistem peredaran darah Echinodermata umumnya tereduksi, sukar diamati. Sistem peredaran darah terdiri dari pembuluh darah yang mengelilingi mulut dan dihubungkan dengan lima buah pembuluh radial ke setiap bagian lengan.

H)  Sistem Saraf

Sistem saraf terdiri dari cincin saraf dan tali saraf pada bagian lengan-lengannya.

I)      Sistem Pencernaan

Sistem pencernaan makanan hewan ini sudah sempurna. Sistem pencernaan dimulai dari mulut yang posisinya berada di bawah permukaan tubuh. Kemudian diteruskan melalui faring, ke kerongkongan, ke lambung, lalu ke usus, dan terakhir di anus. Anus ini letaknya ada di permukaan atas tubuh dan pada sebagian Echinodermata tidak berfungsi. Pada hewan ini lambung memiliki cabang lima yang masing-masing cabang menuju ke lengan. Di masing-masing lengan ini lambungnya bercabang dua, tetapi ujungnya buntu.

J)     Sistem Gerak

Sistem ini berfungsi untuk bergerak, bernafas atau membuka mangsa. Pada hewan ini air laut masuk melalui lempeng dorsal yang berlubang-lubang kecil (madreporit) menuju ke pembuluh batu. Kemudian dilanjutkan ke saluran cincin yang mempunyai cabang ke lima tangannya atau disebut saluran radial selanjutnya ke saluran lateral. Pada setiap cabang terdapat deretan kaki tabung dan berpasangan dengan semacam gelembung berotot atau disebut juga ampula. Dari saluran lateral, air masuk ke ampula. Saluran ini berkahir di ampula.

Jika ampula berkontraksi, maka air tertekan dan masuk ke dalam kaki tabung. Akibatnya kaki tabung berubah menjulur panjang. Apabila hewan ini akan bergerak ke sebelah kanan, maka kaki tabung sebelah kanan akan memegang benda di bawahnya dan kaki lainnya akan bebas. Selanjutnya ampula mengembang kembali dan air akan bergerak berlawanan dengan arah masuk. Kaki tabung sebelah kanan yang memegang objek tadi akan menyeret tubuh hewan ini ke arahnya. Begitulah cara hewan ini bergerak. Di samping itu hewan ini juga bergerak dalam air dengan menggunakan gerakan lengan-lengannya.

K)  Cara Mendapatkan Makanan

Makanan echinodermata berupa kerang, plankton kecil serta bahan lainnya yang mikroskopis atau organisme yang telah mati. Echinodermata memiliki sistem pencernaan makanan yang sudah sempurna. Saluran pencernaan (tractus digestivus) dimulai dari mulut berbentuk pentagonal (actinostoma) yang posisinya berada di bawah permukaan tubuh. Kemudia diteruskan melalui faring, ke kerongkongan, ke lambung, lalu ke usus, dan terakhir di anus. Anus ini letaknya ada di permukaan atas tubuh dan pada sebagian Echinodermata tidak berfungsi.
Pada hewan ini lambung memiliki cabang lima yang masing-masing cabang menuju ke lengan. Di masing-masing lengan ini lambungnya bercabang dua dengan ujung yang buntu. Makanan dibawa oleh lengan atau ditangkap oleh tentakel, kemudian dilewatkan sepanjang alur ambulakral dengan bulu-getar yang bergerak-gerak selanjutnya digiring oleh silia ke dalam mulut.
Beberapa spesies memiliki sebuah tangkai yang tumbuh dari cakram untuk melekatkan hewan pada substrat dasar, akibatnya mulut tetap di atas dan lengan-lengan seperti bulu menciptakan alat seperti jaring untuk menangkap dan mengangkut makanan ke mulut. Ada yang tidak mempunyai tangkai, atau menghilang waktu menjadi dewasa dan dapat menggerakkan lengannya untuk berpindah-pindah.

L)    Manfaat

Berikut manfaat hewan ini bagi manusia dan ekosistem laut yaitu :

Ø  Telur landak laut (Arbacia punctulata) yang banyak dikonsumsi di jepang;

Ø  Keripik dari timun laut yang banyak dijual di Sidoarjo, Jawa timur;

Ø  Mentimun laut setelah dikeringkan dijadikan bahan sup atau dibuat kerupuk;

Ø  Telur bulu babi dapat dimakan;

Ø  Bahan penelitian mengenai fertilisasi dan perkembangan awal. Para ilmuwan biologi    sering menggunakan gamet dan embrio landak laut;

Adapun kerugian yang ditimbulkan akibat adanya hewan-hewan Echinodermata yaitu:

Ø  Dianggap merugikan oleh pembudidaya tiram mutiara dan kerang laut karena bintang Echinodermata merupakan predator hewan-hewan budidaya tersebut;

Ø  Bulu babi dan landak laut bisa sangat merugikan bagi para turis yang ingin menikmati olahraga air, karena duri bulu babi dan landak laut yang beracun bisa menyebabkan kematian jika tidak ditangani secara cepat;

Ø  Juga ada diantara jenis bintang laut yang memakan binatang karang sehingga banyak yang mati; dsb

 

5.    Arthropoda

A)  Pengertian

Kata Arthropoda dari bahasa Yunani yaitu Arthros berarti sendi (ruas) dan podos berarti kaki. Jadi Arthropoda adalah hewan yang mempunyai kaki bersendi-sendi (beruas-ruas). Hewan ini banyak ditemukan di darat, air tawar, dan laut, serta didalam tanah. Hewan ini juga merupakan hewan yang paling banyak jenis atau macam spesiesnya, lebih kurang 75% dari jumlah keseluruhan spesies hewan di dunia yangtelah diketahui. Tubuhnya tertutup dengan kitin sebagai rangka luarnya.

Empat dari lima bagian dari spesies hewan adalah Arthropoda, dengan jumlah di atas satu juta spesies modern yang ditemukan dan rekor fosil yang mencapai awal Cambrian. Arthropoda biasa ditemukan di laut, air tawar, darat, dan lingkungan udara, serta termasuk berbagai bentuk simbiotis dan parasit. Hamper 90% dari seluruh jenis hewan yang diketahui orang adalah Arthropoda. Arthropoda dianggap berkerabat dekat dengan Annelida, contohnya adalah Peripetus di Afrika Selatan.

B)   Ciri – Ciri

Adapun beberapa ciri – ciri dari Arthropoda :

a.       Semua Arthropoda memiliki perpanjangan tubuh (apendiks) bersendi, termasuk kaki dan antenanya. Dengan adanya sendi dan perpanjangan tubuh, maka arthropoda dapat bergerak lebih bebas dan lentur.

b.      Tubuh beruas-ruas yang terbagi atas kepala (caput), dada (thoraks), dan badan belakang (abdomen). Beberapa diantaranya ada yang memiliki kepala dan dada yang bersatu (cephalothoraks).

c.       Memiliki 3 lapisan (triploblastik) yaitu ektoderm, mesoderm dan endoderm dengan rongga tubuh.

d.      Tubuhnya simetri bilateral dan bersegmen-segmen. Pada beberapa spesies, segmen tubuh ada yang menyatu membentuk kepala, dada, dan perut.

e.       Semua Arthropoda memiliki kepala yang terpisah dengan dada. Namun, udang dan laba-laba memiliki kepala dan dada yang menyatu membentuk sepalotoraks.

f.       Memiliki rangka luar (eksoskeleton) yang terbuat dari kitin.

g.      Memiliki mata majemuk. Mata majemuk (faset) terdiri dari ribuan satuan penyusun mata yang disebut omatidium. Beberapa jenis Arthropoda memiliki mata berlensa tunggal yang disebut oselus yang hanya dapat membedakan keadaan gelap dan terang.

h.      Alat pengeluaran arthropoda darat berupa buluh malpigi.

C)   Habitat

Habitat dari filum arthropoda ini bisa ditemukan dihampir seluruh tempat seperti di darat, di gurun, di dalam tanah, di perairan laut dan tawar dll. Untuk Crustcean dapat di temukan di air laut dan air tawar seperti rajungan yang hidup di laut dan kepiting yang hidup di darat.

D)  Klasifikasi

Klasifikasi (penggolongan) ArthoprodaBerdasarkan ciri-ciri yang dimilikinya, Arthropoda dikelompokkan menjadi 4 kelas, yaitu:

1.       Kelas Crustacea (golongan udang).

2.      Kelas Arachnida (golongan kalajengking dan laba-laba).

3.      Kelas Myriapoda (golongan luwing).

4.      Kelas Insecta (serangga).

Hanya disini yang dijelaskan yaitu Crustacea saja. Crustacea adalah hewan akuatik (air) yang terdapat di air laut dan air tawar. Ciri-ciri crustacea adalah sebagai berikut :

Struktur Tubuh :

·         Tubuh Crustacea bersegmen (beruas) dan terdiri atas sefalotoraks (kepala dan dada menjadi satu) serta abdomen (perut).

·         Bagian anterior (ujung depan) tubuh besar dan lebih lebar, sedangkan posterior (ujung belakang)nya sempit

Pada bagian kepala terdapat beberapa alat mulut, yaitu:

1) pasang antena

2)pasang mandibula, untuk menggigit mangsanya

3) pasang maksilla

4)pasang maksilliped

Maksilla dan maksiliped berfungsi untuk menyaring makanan dan menghantarkan makanan ke mulut. Alat gerak berupa kaki (satu pasang setiap ruas pada abdomen) dan berfungsi untuk berenang, merangkak atau menempel di dasar perairan.

Berdasarkan ukuran tubuh nya crustacea dikelompokkan sebagai berikut:

1.      Entomostraca (udang tingkat rendah)

Hewan ini dikelompok menjadi empat ordo, yaitu:

a.       Branchiopoda

b.      Ostracoda

c.       Copepoda

d.      Cirripedia

2.      Malacostraca

Hewan ini dikelompokkan dalam tiga ordo, yaitu:

a.       Isopoda

b.      Stomatopoda

c.       Decopoda

 

 

1.      Entomostraca ( udang tingkat rendah)

 

            Kelompok Entomostraca umumnya merupakan penyusun zooplankton. Mereka juga dapat digunakan sebagai pakan ikan, seperti : Daphnia sp. sebagai pakan ikan hias ; Copepoda sebagai pakan ikan laut. Entomostraca dapat dibagi menjadi 4 ordo yaitu Branchiopoda, Ostracoda, Copepoda, dan Cirripedia.

1)      Branchiopoda

Branchiopoda (kutu air) merupakan kelompok Crustacea kecil yang menjadi salah satu penyusun zooplankton, contohnya seperti Daphnia pulex dan Asellus aquaticus. Mereka memiliki tubuh pucat dan transparan, tetapi tidak mempunyai cephalotorax. Dan hampir semua Branchiopoda hidup di perairan tawar. Keunikan dari ordo ini adalah mereka berkembang biak secara partenogenesis.

 

Daphnia pulex

2)      Ostracoda

Ostracoda merupakan kelompok Crustacea yang terdapat di air tawar maupun air asin. Ostracoda berperan dalam keseimbangan ekosistem sebagai: herbivora dengan memakan ganggang; karnivora dengan memakan Crustacea kecil dan Annelida; scavenger dengan memakan bangkai dan detritus.

Ostracoda memiliki ciri-ciri tubuh yang tidak tampak jelas. Pada tubuhnya,  Ostracoda mempunyai 6 sampai 7 apendik yang beruas-ruas, yaitu antena pertama, antena kedua, maksila pertama, maksila kedua, apendik thorax dan caudal furca. Pada bagian anteriornya, Ostracoda memiliki sebuah mata nauplius. Contoh dari Ostracoda antara lain Cypris candida dan Codona suburdana.

                           

3)      Copepoda

Copepoda merupakan salah satu penyusun zooplankton. Sebagian besar dari Copepoda hidup bebas di perairan, baik di air tawar maupun air laut. Namun 25% dari Copepoda hidup sebagai ektoparasit. Copepoda  bersifat filter feeder yaitu memakan fitoplankton.

Tubuh Copepoda berbentuk silindris dan pendek seperti halnya Branchiopoda, Copepoda  juga memiliki tubuh transparan. Warna merah, ungu, biru dan sebagainya pada Copepoda adalah warna yang ditimbulkan oleh makanan yang dimakan oleh Copepoda. Tubuh Copepoda terdiri dari kepala yang membulat, 6 ruas thorax, dan 3 sampai 5 ruas abdomen. Contoh dari Copepoda  adalah Argulus indicus dan Cyclops.

Cyclops sp

4)      Cirripedia

Cirripedia mempunyai bentuk tubuh yang berbeda dari 3 ordo sebelumnya. Tubuh Cirripedia yang terdiri dari kepala dan dada tertutup oleh karapas yang berbentuk cakram. Dan ruas-ruas tubuhnya tidak terlihat jelas.

Cirripedia ada yang bersifat parasit dan nonparasit. Mereka yang hidup parasit akan menempel di dasar kapal, perahu, dan tiang-tiang yang tertanam di pantai. Cirripedia termasuk filter feeder dengan memakan mikroplankton. Contoh dari Cirripedia adalah Bernakel dan Sacculina.

 

2.      Malakostraca (udang tingkat tinggi)

 

Kelompok ini merupakan kelompok Crustacea yang berukuran besar dibandingkan dengan kelompok Entomostraca. Hewan ini terdapat di air laut maupun air tawar. Malakostraca dan Entomostraca dapat dibedakan dengan melihat ruas-ruas tubuh yang tampak jelas pada kelompok Malakostraca. Malakostraca dibagi menjadi 3 ordo, yaitu Isopoda, Stomatopoda, dan Decapoda.

1)      Isopoda

Isopoda (kutu kayu) merupakan kelompok Malakostraca yang hidup sebagai parasit. Isopoda dikatakan sebagai kutu kayu karena mereka merupakan pengerek lunas perahu-perahu nelayan. Selain sebagai pengerek kayu, Isopoda memakan ganggang, jamur, lumut, dan hewan-hewan yang sudah membusuk. Contoh dari Isopoda adalah  Onicus asellus (kutu perahu) dan Limnoria lignorum.

Onicus asellus

 

2)      Stomatopoda

Stomatopoda (udang belalang) merupakan kelompok Crustacea yang mirip dengan belalang sembah. Mereka mempunyai warna yang mencolok pada tubuhnya. Contoh dari Stomatopoda adalah Squilla empusa.

Stomatopoda

 

3)      Decapoda ( kaki sepuluh)

Decapoda merupakan kelompok Crustacea yang paling banyak ditemukan spesiesnya. Decapoda meliputi jenis udang dan kepiting. Hewan ini terdapat di air tawar, payau, maupun laut.

Decapoda mempunyai morfologi yang tampak  jelas. Mereka mempunyai 3 pasang apendik thorax yang termodifikasi menjadi maksiliped dan 5 pasang apendik thorax berikutnya sebagai kaki jalan atau periopod, sehingga Decapoda disebut juga dengan kaki sepuluh.

 

Dibawah ini beberapa contoh Decapoda yaitu:

a.        Udang

·         Penacus setiferus (udang windu), hidup di air payau.

·         Macrobrachium rasenbengi (udang galah), hidup di air tawar dan payau.

·         Cambarus virilis (udang air tawar).

·         Panulirus versicolor (udang karang), hidup di air laut dan tidak memiliki kaki catut.

·         Palaemon carcinus (udang sotong)

Palaemon carcinus

 

b.      Ketam

·         Portunus sexdentatus (kepiting)

·         Neptunus peligicus (rajungan) / Pagurus sp.

·         Parathelpusa maculata (yuyu)

·         Scylla serrata (kepiting)

·         Birgus latro (ketam kenari)

Scylla serrata

E)   Sistem Pencernaan

Crustacea memiliki alat pencernaan yang lengkap. Alat pencernaannya  yaitu mulut yang terletak di bagian anterior, esophagus, lambung, usus dan anus terletak di bagian posterior Crustacea memiliki cara makan yang beraneka ragam yaitu dengan filter feeder, pemakan bangkai, herbivora, karnivora, dan parasit. Filter feeder dalam menyaring air untuk mendapatkan makanan hal ini menyebabkan mandibel (rahang) dan antenna akan berubah (berevolusi) sesuai dengan fungsinya yaitu mulut untuk menyaring air dan antena untuk melacak makanan dalam air. Pada Crustacea pemakan bangkai, herbivore, dan karnivora memiliki bagian tubuh yang berfungsi untuk mencengkram atau mengambil makanan, misalnya mandibula, maksila, dan maksiliped yang berfungsi untuk memegang, menggigit, dan menggiling makanan.

Biasanya Crustacea aktif di malam hari, pada waktu itu mereka meninggalakan tempat persembunyiannya untuk mencari makanan. Jenis yang hidup di perairan dangkal akan menuju terumbu karang, sedangkan yang hidup di perairan agak dalam akan berkeliaran disekitar tempat persenmbunyiannya untuk mencari makan.

F)    Sistem Saraf

Susunan saraf Crustacea adalah tangga tali. Ganglion otak berhubungan dengan alat indera yaitu antena (alat peraba), statocyst (alat keseimbangan) dan mata majemuk (facet) yang bertangkai.

Alat indra terdiri atas mata majemuk, bintik mata, statocyst, proproceptor, alat peraba dan chemoreceptor. Mata majemuk terdapat pada hampir semua spesies dewasa, biasanya terletak pada ujung tangkai yang dapat digerakkan tetapi adakalanya sessil. Crustacea dengan mata majemuk yang berkembang baik mempunyai kemampuan untuk membedakan ukuran dan bentuk tetapi ketajaman penglihatannya kecil dan gambarnya kasar.

Bintik mata selalu terletak digaris menengah dan khusus terdapat pada stadium larva nauplius; terdiri atas 3 sampai 4 ocelli berbentuk mangkuk pigmen; berfungsi untuk mendeteksi cahaya. Bintik mata diperlukan hewan planktonik untuk menentukan lokasi permukaan air, dan bagi hewan peliang untuk menentukan lokasi permukaan substrat. Statocyst hanya terdapat pada beberapa kelompok Malakostraca. Sepasang statocyst biasa terletak pada pangkaal antenul, uropod atau telson. Propioreceptor merupakan alat indra otot, terdapat pada malacostraca terutama decapoda. Tiap organ terdiri atas sejumlah sel otot yang mengalami modifikasi spesial, berperan membantu mengatur kedudukan apendik, semacam indra gerak yang dirangsang oleh peregangan diantara sel otot, kontraksi otot diskitarnya. Alat peraba biasanya membentuk bulu-bulu dan tersebar di berbagai tempat pada permukaan tubuh, terutama apendik. Chemoreceptor merupakn alat indra untuk mendeteksi zat kimia, terdapat pada kedua pasang antena dan apendik mulut . Esthetasc berbentuk bulu-bulu indra yang panjang dan lembut merupakan chemoreseptor yang umum terdapat kebanyakan crustacea.

G)  Sistem Peredaran Darah

Sistem peredaran darah pada Crustacea disebut sistem peredaran darah terbuka (haemocoelic). Hal ini berarti bahwa darah beredar tanpa melalui pembuluh darah, sehingga terjadi kontak langsung antara darah dan jaringan. Sistem peredaran darah ini menyebabkan hilangnya rongga tubuh, karena darah memenuhi celah antar jaringan dan organ tubuh yang disebut homocoel (rongga tubuh yang dipenuhi darah). Rongga tubuhnya hanya pada rongga ekskresi dan organ perkembangbiakan.

Letak jantung dari Crustacea biasanya terdapat di bagian dorsal toraks atau di sepanjang badan. Darah keluar dari jantung melalui sebuah aorta anterior, arteri abdomen posterior, beberapa arteri lateral dan sebuah arteri ventral. Beberapa Crustacea tidak mempunyai sistem arteri. Pada kebanyakan Malakostraca terdapat jantung tambahan (accessory heart) atau pompa darah untuk menaikan tekanan darah.

H)  Sistem Pernapasan

Pada umumnya Crustacea bernafas dengan insang. Kecuali Crustacea yang bertubuh sangat kecil bernafas dengan seluruh permukaan tubuhnya. Letak insang pada malacostraca biasanya terbatas pada apendik thorax. Aliran air kearah insang umumnya dihasilkan dari gerakan teratur sejumlah apendik. Oksigen dalam peredaran darah terdapat dalam bentuk larutan sederhana atau terikat pada hemoglobin atau hemocyanin. Hemocyanin hanya trrdapat  pada malacostraca.Pigmen pernapasan larut dalam plasma, tetapi adakalanya hemoglobin terdapat dalam otot dan jaringan saraf, bahkan dalam telur beberapa jenis Crustacea.

I)      Sistem Reproduksi

Kebanyakan Crustacea memiliki alat reproduksi yang terpisah (dioceous) atau terdapat individu jantan dan betina, namun pada Crustacea tingkat rendah ada yang bersifat hermaphrodit. Alat kelamin betina terdapat pada pasangan kaki ketiga dan alat kelamin jantan terdapat pada pasangan kaki kelima. Namun pada spesies tertentu ada yang belum dapat diketahui perkembangbiakan dan perkelaminannya.

Gonad biasanya panjang dan sepasang terletak dibagian dorsal toraks dan atau abdomen. Crustacea bereproduksi dengan mengadakan kopulasi (pembuahan). Pada proses kopulasi tersebut individu jantan biasanya memiliki apendiks yang dapat berfungsi untuk memegang betina. Individu jantan akan meletakan massa spermatoforik di bagian sternum udang betina. Peletakan massa spermatoforik tersebut berlangsung sebelum telur dikeluarkan. Pembuahan terjadi saat telur yang dikeluarkan dari celah genital ditarik ke arah abdomen oleh pasangan kaki kelima betina. Pada waktu telur tertarik ke abdomen, sperma keluar dari massa spermatoforik yang tersobek sehingga terjadi pembuahan.

Pembuahan tersebut dapat terjadi secara eksternal maupun internal. Hal ini tergantung pada sifat dari spermatoforiknya. Jika spermatoforknya bersifat kental, pembuahan terjadi secara eksternal. Sedangkan spermatoforik yang bersifat cair memungkinkan untuk masuk ke dalam oviduct (saluran telur) sehingga terjadi secara internal.

Telur yang sudah menetas akan menjadi nauplius yang planktonis. Naulius tersebut mempunyai tiga pasang apendik yaitu antenna pertama, antenna kedua dan mandibula; tubuh belum beruas-ruas; dibagian anterior terdapat mata nauplius.

J)     Peranan

Berbagai jenis Arthropoda memberikan keuntungan dan kerugian bagi manusia.Peran arthropoda yang menguntungkan manusia misalnya dibidang pangan dan sandang yaitu sebagai berikut :
– Sumber makanan yang mengandung protein hewani tinggi.Misalnya Udang windu (Panaeus monodon), rajingan (portunus pelagicus), kepiting (scylla serrata), dan udang karang (panulirus versicolor)
– Penghasil madu, yaitu lebah madu (Apis indica)
– Bahan industri kain sutera, yaitu pupa kupu-kupu sutera (Bombyx mori)

Sementara yang merugikan manusia anatara lain :
– Vaktor perantara penyakit bagi manusia.Misalnya nyamuk malaria, nyamuk demam berdarah, lalat tsetse sebagai vektor penyakit tidur, dan lalat rumah sebagai vektor penyakit tifus.
– Menimbulkan gangguan pada manusia.Misalnya caplak penyebab kudis, kutu kepala, dan kutu busuk
– Hama tanaman pangan dan industri.Contohnya wereng coklat dan kumbang tanduk
– Perusak makanan.Contohnya kutu gabah.

-Perusak produk berbahan baku alam. Contohnya rayap dan kutu buku.

DAFTAR PUSTAKA

http://id.wikipedia.org/wiki/Cnidaria

http://saifulfuadi.wordpress.com/2012/04/24/cnidaria/

http://mftepundu.blogspot.com/2011/02/filum-cnidaria-dan-ctenophora.html

http://intanviona.wordpress.com/2011/10/26/bab-8-hewan-porifera-ctenophora-cnidaria/

http://blog.uad.ac.id/ditades/category/coelenterata-cnidaria/

http://www.biologi-sel.com/2013/06/karakteristik-cnidaria.html

http://sukasukadolilubis.blogspot.com/2012/12/v-behaviorurldefaultvmlo.html

http://imandos.blogspot.com/2012/02/gastropoda-mollusca-bekicot.html

http://caves.or.id/arsip/glossary/gastropoda

http://id.shvoong.com/exact-sciences/2007812-kelas-gastropoda/

http://biologipedia.blogspot.com/2010/09/gastropoda.html

http://newsfisheries.blogspot.com/2007/08/gastropoda.html

http://catatansimon.blogspot.com/2011/04/filum-mollusca.html

http://anjarlatahzan.wordpress.com/2013/07/03/makalah-bivalvia-sebagai-biofilter-polutan/

http://www.academia.edu/3244744/Bivalvia_moluska

http://febrianakurniadisari.wordpress.com/2013/05/16/biologi/

http://auliafirda01.blogspot.com/2012/12/echinodermata-filum-echinodermata-dari.html

http://gurungeblog.com/2008/11/12/mengenal-seluk-beluk-phylum-echinodermata/

http://echinodersexpilo.tumblr.com/

http://biologiins.blogspot.com/2012/11/makalah-echinodermata.html

http://widyarnes.blogspot.com/2011/07/echinodermata.html

http://dhewhy.wordpress.com/2009/07/24/filum-arthropoda/

http://pintarsains.blogspot.com/2011/09/ciri-ciri-filum-arthropoda-lengkap.html

http://musliadiunaya.wordpress.com/2013/01/12/filum-arthropoda/

http://kumala-ayu.blogspot.com/2012/05/phylum-arthropoda.html

http://kiyakataksonomihewan.blogspot.com/2012/05/crustacea.html

v\:* {behavior:url(#default#VML);}
o\:* {behavior:url(#default#VML);}
w\:* {behavior:url(#default#VML);}
.shape {behavior:url(#default#VML);}

Normal
0
false

false
false
false

EN-US
X-NONE
X-NONE

/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;
mso-para-margin-top:0in;
mso-para-margin-right:0in;
mso-para-margin-bottom:10.0pt;
mso-para-margin-left:0in;
line-height:115%;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:11.0pt;
font-family:”Calibri”,”sans-serif”;
mso-ascii-font-family:Calibri;
mso-ascii-theme-font:minor-latin;
mso-hansi-font-family:Calibri;
mso-hansi-theme-font:minor-latin;
mso-bidi-font-family:”Times New Roman”;
mso-bidi-theme-font:minor-bidi;}

MAKALAH

LIMNOLOGI

Pengaruh pH Terhadap Perairan dan Organisme Perairan”

 

Gambar

 

Disusun Oleh :

 

Nama                   :        Rakka Gilang Andhika

NPM           :        230110130046

Kelas          :        Perikanan A ( 2013 )

 

 

FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN

( FPIK )

UNIVERSITAS PADJAJARAN

2013

KATA PENGANTAR

 

 

            Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan nikmat serta hidayah-Nya terutama nikmat kesempatan dan kesehatan sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah mata kuliah “LIMNOLOGI”. Kemudian shalawat beserta salam kita sampaikan kepada Nabi besar kita Muhammad SAW yang telah memberikan pedoman hidup yakni Al-Qur’an dan sunnah untuk keselamatan umat di dunia.

            Makalah ini merupakan salah satu tugas mata kuliah Lmnologi di program studi Perikanan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan di Universitas Padjajaran. Selanjutnya penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada dosen pengajar selaku dosen pembimbing mata kuliah Limnologi dan kepada segenap pihak yang telah memberikan bimbingan serta arahan selama penulisan makalah ini.

            Akhirnya penulis menyadari bahwa banyak terdapat kekurangan-kekurangan dalam penulisan makalah ini, maka dari itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang konstruktif dari para pembaca demi kesempurnaan makalah ini.

 

 

Rancaekek, 18 Maret 2014

Penulis

 

 

Rakka Gilang Andhika

NPM : 230110130046

 

 

 

 

 

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

A.   Latar Belakang

            Dewasa ini, teknologi dan kemajuan jaman adalah hal yan g lumrah terjadi disetiap tempat di muka bumi ini. Dengan majunya perkembangan teknologi di dunia ini adalah akibat banyaknya pertumbuhan penduduk disetiap wilayah. Ini diakibatkan karena sumber daya manusia pun meningkat. Apalagi sekarang pendidikan untuk setiap manusia menjaid prioritas utama di suatu wilayah. Dengan majunya teknologi sesuatu yang dulu mustahil menjadi mungkin saja terjadi. Pengetahuan manusia yang berkembang yang membuat dunia ini begitu berbeda dengan dahulu. Semua kebutuhan manusia menjadi sangat mudah terpenuhi.

            Namun, semua itu tidak lepasnya dari dampak negatif yang terjadi. Permasalahan – permasalahan pun timbul akibat kemajuan teknologi. Akibat keserakahan manusia yang terkena imbas akibat ulah manusia adalah alam. Pencemaran terjadi dimana – mana baik di darat, perairan, udara dan yang lainnya terkena akibat dampak kemajuan teknologi tersebut.

            Salah satunya adalah masalah yang ada di perairan yang saat ini sering terjadi. Ada beberapa indicator yang dapat kita lihat dalam menentukan suatu perairan masih baik atau sudah tercemar yaitu :

1. Faktor fisika : tingkat kejernihan air (kekeruhan), perubahan suhu, warna dan adanya perubahan warna, bau dan rasa, bahan padat (solid), gaya antar listrik, radioaktifitas, dan viskositas.

2. Faktor kimia : zat kimia yang terlarut, perubahan pH, potensial reduksi – oksidasi, alkalinitas, kesadahan, asiditas, kebutuhan oksigen, hydrogen, dan fosfat.

            pH merupakan salah satu hal penting dalam menentukan kualitas air suatu perairan. pH umumnya mengalami peningkatan akibat dari perairan yang sudah tercemar oleh ulah manusia itu sendiri. Itu karena banyaknya limbah, ataupun bahan organic dan anorganik yang mencemari perairan tersebut. Walaupun ada beberapa factor lain yang dapat menyebabkan itu terjadi selain ulah manusia.

            Inilah yang menjadi rumusan masalah yang akan dibahas yaitu pengaruh peningkatan pH terhadap perairan.

 

B.   Maksud dan Tujuan

Adapun maksud dan tujuan dalam pembuatan  makalah  ini adalah :

·         Mengetahui factor fisika dan  kimia sebagai indicator yang mempengaruhi suatu perairan

·         Mengetahui akibat atau pengaruh yang terjadi karena pengaruh factor fisika dan  kimia

·         Mengetahui factor – factor penyebab terjadinya perubahan pH dalam suatu perairan.

 

BAB II

ISI

 

A.   Literatur Kualitas Air

            Kualitas air adalah kondisi kalitatif air yang diukur dan atau di uji berdasarkan parameter-parameter tertentu dan metode tertentu berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku (Pasal 1 keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 115 tahun 2003). Kualitas air dapat dinyatakan dengan parameter kualitas air.

            Kualitas Air merupakan istilah yang menggambarkan kesesuaian atau kecocokan air untuk penggunaan tertentu, misalnya: air minum, perikanan, pengairan/irigasi, industri, rekreasi dan sebagainya. Peduli kualitas air adalah mengetahui kondisi air untuk menjamin keamanan dan kelestarian dalam penggunaannya.

            Menurut Acehpedia (2010), kualitas air dapat diketahui dengan melakukan pengujian tertentu terhadap air tersebut. Pengujian yang dilakukan adalah uji kimia, fisik, biologi, atau uji kenampakan (bau dan warna). Pengelolaan kualitas air adalah upaya pemaliharaan air sehingga tercapai kualitas air yang diinginkan sesuai peruntukannya untuk menjamin agar kondisi air tetap dalam kondisi alamiahnya.

            Kualitas air yaitu sifat air dan kandungan makhluk hidup, zat energi atau komponen lain di dalam air. Kualitas air dinyatakan dengan beberapa parameter yaitu parameter fisika (suhu, kekeruhan, padatan terlarut dan sebagainya), parameter kimia (pH, oksigen terlarut, BOD, kadar logam dan sebagainya), dan parameter biologi (keberadaan plankton, bakteri, dan sebagainya).

            Lima syarat utama kualitas air bagi kehidupan ikan adalah :

1. Rendah kadar amonia dan nitrit

2. Bersih secara kimiawi

3. Memiliki pH, kesadahan, dan temperatur yang sesuai

4. Rendah kadar cemaran organik, dan

5. Stabil

            Pengukuran kualitas air dapat dilakukan dengan dua cara, yang pertama adalah pengukuran kualitas air dengan parameter fisika dan kimia (suhu, O2 terlarut, CO2 bebas, pH, Konduktivitas, Kecerahan, Alkalinitas ).

            Suhu air dipengaruhi komposisi substrat, kecerahan, kekeruhan, air tanah dan pertukaran air, panas udara akibat respirasi dan naungan dari kondisi perairan tersebut.

            Kecerahan suatu perairan menentuan sejauh mana cahaya matahari dapat menembus suatu perairan dan sampai kedalaman berapa proses fotosintesis dapat berlangsung sempurna. Kecerahan yang mendukung adalah apabila pinggan seichi disk mencapai 20-40 cm dari permukaan.

            Novotny dan Olem, 1994 (dalam Effendi, 2003) menyatakan bahwa sebagian besar biota akuatik sensitive terhadap perubahan pH dan menyukai nilai pH sekitar 7 – 8,5. niali pH sangat mempaengaruhi proses biokomia perairan, misalnya proses nitrifikasi akan berakhir jika pH rendah. Sedangkan menurut Haslam, 1995 (dalam Effendi, 2003) menambahkan bahwa pada pH < 4, sebagian besar tumbuhan air mati karena tidak dapat bertolerensi terhadap pH rendah.

            Kelarutan oksigen dalam air tergantung dari suhu air. Kelarutan oksigen dalam air akan berkurang dari 14,74 mg/l pada suhu 0 0C menjadi 7,03 m/l pada suhu 35 0C. dengan kenaikkan suhu air terjadi pula penurunan kelarutan oksigen yang disertai dengan naiknya kecepatan pernapasan organisme perairan, sehingga sering menyebabkan terjadinya kenaikkan kebutuhan oksigen yang disertai dengan turunnya kelarutan gas-gas lain di dalam air.

            Peningkatan suhu sebsar 1 0C akan meningkatkan konsumsi oksigen sekitar 10. Dekomposisi bahan organik dan oksidasi bahan organik dapat mengurangi kadar oksigen terlarut hingga mencapai nol (Brown dalam Effendi, 2003).

            Kasry (1995) mengemukakan bahwa tingginya tingkat CO2 bebas dalam air dihasilkan dari proses perombakan bahan organic dan mikroba. Kadar karbondioksida bebas yang dikehendaki tidak lebih dari 12 mg/l dan kandungan terendah adalah 2 mg/l. Kandungan karbondioksida bebas diperairan tidak lebih dari 25 mg/l dengan catatan kadar oksigen terlarut cukup tinggi.

 

B.   Hubungan Antar Kualitas Air

            Menurut Lesmana (2001), suhu pada air mempengaruhi kecepatan reaksi kimia, baik dalam media luar maupun dalam tubuh ikan.  Suhu makin naik, maka reaksi kimia akan ssemakin cepat, sedangkan konsentrasi gas akan semakin turun, termasuk oksigen. Akibatnya, ikan akan membuat reaksi toleran dan tidak toleran. Naiknya suhu, akan berpengaruh pada salinitas, sehingga ikan akan melakukan prosess osmoregulasi. Oleh ikan dari daerah air payau akan malakukan yoleransi yang tinggi dibandingkan ikan laut dan ikan tawar.

            Manurut Anonymaus(2010), laju peningkatan pH akan dilakukan oleh nilai pH awal. Sebagai contoh : kebutuhan jumlah ion karbonat perlu ditambahkan utuk meningkatkan satu satuan pH akan jauh lebih banyak apabila awalnya 6,3 dibandingkan hal yang sama dilakukan pada pH 7,5. kenaikan pH yang  akan terjadi diimbangi oleh kadar Co2 terlarut dalan air. Sehingga, Co2 akan menurunkan pH.

1. Parameter fisika

a. Suhu

            Pola temparatur ekosistem air dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti intensitas cahaya matahari, pertukaran panas antara air dengan udara sekelilingnya, ketinggihan geografis dan juga oleh faktor kanopi (penutupan oleh vegetasi) dari pepohonan yang tumbuh di tepi. Di samping itu pola temperatur perairan dapat di pengaruhi oleh faktor-faktor anthropogen (faktor yang di akibatkan oleh aktivitas manusia) seperti limbah panas yang berasal dari air pendingin pabrik, penggundulan DAS yang menyebabkan hilangnya perlindungan, sehingga badan air terkena cahaya matahari secara langsung.

            Suhu tinggi tidak selalu berakibat mematikan tetapi dapat menyebabkan gangguan status kesehatan untuk jangka panjang, misalnya stres yang ditandai dengan tubuh lemah, kurus, dan tingkah laku abnormal. Pada suhu rendah, akibat yang ditimbulkan antara lain ikan menjadi lebih rentan terhadap infeksi fungi dan bakteri patogen akibat melemahnya sistem imun. Pada dasarnya suhu rendah memungkinkan air mengandung oksigen lebih tinggi, tetapi suhu rendah menyebabkan stres pernafasan pada ikan berupa menurunnya laju pernafasan dan denyut jantung sehingga dapat berlanjut dengan pingsannya ikan-ikan akibat kekurangan oksigen.

 

 

 

2. Parameter kimia

a.pH

            Organisme akuatik dapat hidup dalam suatu perairan yang mepunyai nilai PH dengan kisaran toleransi antara asam lemah sampai asam lemah sampai basa lemah. PH yang ideal bagi kehidupan organisme akuatik pada umumnya berkisar antara 7 sampai 8,5.Kondisi perairan yang bersifat asam maupun basa akan membahayakan kelangsungan hidup organisme karena akan menyebabkan terjadinya gangguan metabolisme dan respirasi.Disamping itu PH yang sangat rendah akan menyebabkan mobilitas berbagai senyawa logam berat yang bersifat toksik semakin tinggi yang tentunya akan mengancam kelangsungan hidup organisme akuatik.Sementara PH yang tinggi akan menyebabkan keseimbangan antara ammonium dan ammoniak dalam air akan terganggu, dimana kenaikan PH diatas netralakan meningkat konsentrasi ammoniak yang jga sangat toksik bagi organisme.

            Batas toleransi organisme terhadap PH bervariasi tergantung pada suhu, oksigen terlarut, dan kandngan garam-garam ionik suatu perairan.Kebanyakan perairan alami memiliki PH berkisar antara 6-9 . sebagian besar biota perairan sensitif terhadap perubahan PH dan menyukai nilai Phsekitar 7-8,5(Effendi, 2003 dalam).Nilai PH sangat menentukan dominasi fitoplankton. Pada umumnya alga biru lebih menyukai PH netral sampai basa dan respon pertumbuhan negatif terhadap asam(PH<6).Chrysophyta umumnya pada kisaran PH 4,5-8,5 dan pada umumnya diatom pada kisaran PH yang netral akan mengandung keanekaragaman jenisnya.

b. DO

            Kandungan oksigen terlarut merupakan banyaknya oksigen terlarut dalam suatu perairan.Oksigen terlarut merupakan suatu faktor yang sangat penting di dalam ekosistem perairan, terutama sekali dibutuhkan untuk proses respirasibagi sebagian besar organisme air.Kelarutan oksigen di dalam air sangat dipengaruhi terutama oleh suhu.Kelarutan maksimum oksigen di dalam air terdapat pada suhu 0oC, yaitu sebesar 14,16 mg/i O2.Kosentrasi menurun sejalan dengan meningkatnya suhu air.Peningkatan suhu menyebabkan konsentrasi oksigen menurun dan sebaliknya suhu yang semakin rendah meningkatkan konsentrasi oksigen terlarut.

            Sanusi(2004) dalam Yazwar(2008) mengatakan bahwa nilai DO yang berkisar diantara 5,45-7,00 mg/l cukup baik bagi proses kehidupan biota perairan.Barus(2001) dalam Yazwar(2008), menegaskan bahwa nilai oksigen terlarut di perairan sebaiknya berkisar antara 6,3 mg/l, makin rendah nilai DO maka makin tinggi tingkat pencemaran suatu ekosistem perairan tersebut.Untuk menghitung konsentrasi DO dalam perairan dapat di hitung dengan rumus;

DO= (V ( titran) x N ( titran) x 8 x 1000)/ V Botol titran-4

Dimana:

V( titran)= Volum larutan yang di pakai saat titrasi (ml)

N( titran)= Konsentrasi Na-thiosulfat 0,025 N

V botol DO= Volum bool yang di gunakan untuk menampung sampel

c. CO2

            Istilah karbondioksida bebas atau free CO2 digunakan untuk menjelaskan CO2 yang terlarut dalam air, selain yang berada dalam bentuk terikat sebagi ion bikarbonat(HCO3-) dan ion karbonat(CO32-).CO2 bebas menggambarkan keberadaan gas CO2 diperairan yang membentuk kesetimbangan dengan CO2 di atmosfer.Nilai CO2 yang terukur biasanya berupa CO2 bebas.

            Karbondioksida sangat diperlukan untukproses fotosintesis yaitu sebagai sumber karbon. Kandungan karbondioksida di setiap kedalaman nilainya selalu menurun. Pada kedalaman 0-2 m nilainya berkisar antara 4,99-6,59, pada kedalaman 2-4 m nilainya berkisar antara 4,39- 6,39 danpada kedalaman 4-6 m nilainya berkisar antara 4,32-5,99 mg/l.

d. TOM

            Tingginya kadar TOM karena habitat tersebut berupa rawa dan ditumbuhi vegetasi air yang banyak memasok serasah. Pergerakan air yang lemah serta adanya aliran inlet dari Sungai lain, juga menunjang tingginya komponen debu dan liat pada sedimen yang akan banyak menyimpan TOM. Sedimen dengan ukuran partikel lebih halus umumnya memiliki kandungan bahan organik lebih tinggi dibandingkan dengan ukuran partikel yang lebih besar. Semakin halus tekstur substrat semakin besar kemampuannya menjebak bahan organic.

            Kadar TOM dalam sedimen mencirikan tingkat kesuburan suatu perairan.Kadar TOM <17% ( dari berat kering sedimen) menunjukkan tipe oligotrof, sedangkan kadar TOM >30 % mencirikan type eutrofik.

5. Amonia

            Amonia di perairan bersumber dari pemecahan nitrogen organik (protein dan urea) dan nitrogen anorganik (tumbuhan dan biota perairan yang telah mati) oleh mikroba jamur (proses amonifikasi). Amonia jarang ditemukan pada perairan yang mendapat cukup pasokan oksigen. Kadar amonia di perairan alami biasanya tidak lebih dari 0,1 mg/liter.

            Amonia banyak digunakan dalam proses produksi urea, industri bahan kimia,serta industri bubur kertas. Kadar amonia yang tinggi dapat merupakan indikasi adanya pencemaran bahan organik yang berasal dari limbah domestik, industri, dan limpahan pupuk (run off) pupuk pertanian .

            Efendi (2000) dalam S.Y. Srie Rahayu, dkk(2007) mengatakan bahwa, feses biota akuatik merupakan limbah aktivitas metabolisme yang banyak mengeluarkan amoniak. Pescod(1973) mengatakan bahwa batas toleransi maksimum fitoplankton terhadap kandungan amonia di perairan adalah 0,2 mg/l.

f. Nitrat

            Keberadaan nitrat diperairan sangat dipengaruhi oleh buangan yang dapat berasal dari industri, bahan peledak, pirotekni, dan pemupukan. Secara alamiah kada nitrat biasanya rendah namun kadar nitrat dapat menjadi tinggi sekali dalam air tanah di daerah yang di beri pupuk yang di beri nitrat/ nitrogen.

            Kadar nitrit di perairan relatif kecil karena segera dioksidasi menjadi nitrat.Kadar nitrat di perairan alami hampir tidak pernah lebih dari 0,1 mg/liter.Kadar nitrat yang lebih dari 5 mg/liter menggambarkan terjadinya pencemaran antropogenik yang berasal dari aktivitas manusia. Pada perairan yang menerima limpasan dari daerah pertanian yang banyak mengandung pupuk, kadar nitrat dapat mencapai 1.000 mg/liter.

g. Orthofosfat

            Fosfat merupakan unsur yang sangat esensial sebagai bahan nutrien bagi berbagai organisme akuatik.Fosfat merupakan unsur yang penting dalam aktivitas pertukaran energi dari organisme yang di butuhkan dalam jumlah sedikit(mikronutrien), sehingga fosfat berperan sebagi faktor pembatas bagi pertumbuhan organisme. Peningkatan konsentrasi fosfat dalam suatu ekosistem perairan akan meningkatkan pertumbuahan algae dan tumbuhan hewan lainnya secara cepat.Peningkatan yang menyebabkan terjadinya penurunan kadar oksigen terlarut, diikuti dengan timbulnya anaerob yang menghasilkan berbagai senyawa toksik misalnya methan, nitrat, dan belerang.

            Ortofosfat merupakan bentuk fosfor yang dapat dimanfaatkan secara langsung oleh tumbuhan akuatik. Sumber fosfor lebih sedikit dibandingkan dengan sumber nitrogen di perairan dan keberadaan fosfor di perairan alami biasanya relatif sedikit dengan konsentrasi yang relatif kecil dibandingkan nitrogen. Sumber antropogenik fosfor di perairan adalah limbah industri dan domestik, yaitu fosfor yang berasal dari deterjen. Limpasan dari daerah pertanian yang menggunakan pupuk juga memberikan konstribusi yang cukup besar bagi keberadaan fosfor .

C.   pH

            Derajat keasaman atau pH merupakan suatu indeks kadar ion hidrogen (H+) yang mencirikan keseimbangan asam dan basa. Derajat keasaman suatu perairan, baik tumbuhan maupun hewan sehingga sering dipakai sebagai petunjuk untuk menyatakan baik atau buruknya suatu perairan (Odum, 1971). Nilai pH juga merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi produktifitas perairan (Pescod, 1973). Nilai pH pada suatu perairan mempunyai pengaruh yang besar terhadap organisme perairan sehingga seringkali dijadikan petunjuk untuk menyatakan baik buruknya suatu perairan (Odum, 1971). Biasanya angka pH dalam suatu perairan dapat dijadikan indikator dari adanya keseimbangan unsur-unsur kimia dan dapat mempengaruhi ketersediaan unsur-unsur kimia dan unsur-unsur hara yang sangat bermanfaat bagi kehidupan vegetasi akuatik. Tinggi rendahnya pH dipengaruhi oleh fluktuasi kandungan O2 maupun CO2. Tidak semua mahluk bisa bertahan terhadap perubahan nilai pH, untuk itu alam telah menyediakan mekanisme yang unik agar perubahan tidak terjadi atau terjadi tetapi dengan cara perlahan (Sary, 2006). Tingkat pH lebih kecil dari 4, 8 dan lebih besar dari 9, 2 sudah dapat dianggap tercemar. Disamping itu larutan penyangga merupakan larutan yang dibentuk oleh reaksi suatu asam lemah dengan basa konjugatnya ataupun oleh basa lemah dengan asam konjugatnya. Reaksi ini disebut sebagai reaksi asam-basa konjugasi, yaitu Larutan ini mempertahankan pH pada daerah asam (pH < 7). Untuk mendapatkan larutan ini dapat dibuat dari asam lemah dan garamnya yang merupakan basa konjugasi dari asamnya. Adapun cara lainnya yaitu mencampurkan suatu asam lemah dengan suatu basa kuat dimana asam lemahnya dicampurkan dalam jumlah berlebih. Campuran akan menghasilkan garam yang mengandung basa konjugasi dari asam lemah yang bersangkutan. Pada umumnya basa kuat yang digunakan seperti natrium, kalium, barium, kalsium, dan lain-lain. Larutan penyangga yang sedangkan pH yang tinggi mengindikasikan perairan basa. Larutan penyangga yang bersifat basa Larutan ini mempertahankan pH pada daerah basa (pH > 7). Untuk mendapatkan larutan ini dapat dibuat dari basa lemah dan garam, yang garamnya berasal dari asam kuat. Adapun cara lainnya yaitu dengan mencampurkan suatu basa lemah dengan suatu asam kuat dimana basa lemahnya dicampurkan berlebihi. Secara pH parameter ntuk kehidupan ikan-ikan tersebut adalah 6,5-8,4.

Reaksi kimia yang terjadi (asam dan basa)

            Penambahan asam (H+) akan menggeser kesetimbangan ke kiri. Dimana ion H+ yang ditambahkan akan bereaksi dengan ion CH3COO- membentuk molekul CH3COOH.

CH3COO-(aq) + H+(aq) → CH3COOH(aq)

a. Pada penambahan basa

            Jika yang ditambahkan adalah suatu basa, maka ion OH- dari basa itu akan bereaksi dengan ion H+ membentuk air. Hal ini akan menyebabkan kesetimbangan bergeser ke kanan sehingga konsentrasi ion H+ dapat dipertahankan. Jadi, penambahan basa menyebabkan berkurangnya komponen asam (CH3COOH), bukan ion H+. Basa yang ditambahkan tersebut bereaksi dengan asam CH3COOH membentuk ion CH3COO- dan air.

CH3COOH(aq) + OH-(aq) → CH3COO-(aq) + H2O(l)

2. Larutan penyangga basa

            Adapun cara kerjanya dapat dilihat pada larutan penyangga yang mengandung NH3 dan NH4+ yang mengalami kesetimbangan. Dengan proses sebagai berikut:

b. Pada penambahan asam

            Jika ditambahkan suatu asam, maka ion H+ dari asam akan mengikat ion OH-. Hal tersebut menyebabkan kesetimbangan bergeser ke kanan, sehingga konsentrasi ion OH- dapat dipertahankan. Disamping itu penambahan ini menyebabkan berkurangnya komponen basa (NH3), bukannya ion OH-. Asam yang ditambahkan bereaksi dengan basa NH3 membentuk ion NH4+.

NH3 (aq) + H+(aq) → NH4+ (aq)

Fungsi pH

            Derajat keasaman ini Ph sangat penting sebagai parameter kualitas air karena ia mengontrol tipe dan laju kecepatan reaksi beberapa bahan di dalam air. Selain itu ikan dan mahluk-mahluk akuatik lainnya hidup pada selang pH tertentu, sehingga dengan diketahuinya nilai pH maka kita akan tahu apakah air tersebut sesuai atau tidak untuk menunjang kehidupan mereka. Fluktuasi pH air sangat di tentukan oleh alkalinitas air tersebut. Apabila alkalinitasnya tinggi maka air tersebut akan mudah mengembalikan pH-nya ke nilai semula, dari setiap “gangguan” terhadap pengubahan pH. Dengan demikian kunci dari penurunan pH terletak pada penanganan alkalinitas dan tingkat kesadahan air. Apabila hal ini telah dikuasai maka penurunan pH akan lebih mudah dilakukan.

Keberadaan pH di suatu perairan

            Derajat Keasaman (pH) sangat penting sebagai parameter kualitas air yaitu diberbagai perairan:

a. Laut

            Air laut mempunyai kemampuan menyangga yang sangat besar untuk mencegah perubahan pH. Perubahan pH sedikit saja dari pH alami akan memberikan petunjuk terganggunya sistem penyangga. Hal ini dapat menimbulkan perubahan dan ketidak seimbangan kadar CO2 yang dapat membahayakan kehidupan biota laut. pH air laut permukaan di Indonesia umumnya bervariasi dari lokasi ke lokasi antara 6.0 – 8,5. Perubahan pH dapat mempunyai akibat buruk terhadap kehidupan biota laut, baik secara langsung maupun tidak langsung. Akibat langsung adalah kematian ikan, burayak, telur, dan lain-lainnya, serta mengurangi produktivitas primer. Akibat tidak langsung adalah perubahan toksisitas zat-zat yang ada dalam air, misalnya penurunan pH sebesar 1,5 dari nilai alami dapat memperbesar toksisitas NiCN sampai 1000 kali.

b. Danau

            Perairan danau nilai pH berkisar pH 6,7 – 8,6 hal ini dkarenakan karena kedalaman danau dangkal sehingga pH tanah sangat mempengaruhinya.

 

c. Waduk

            Perairan waduk nilai pH berkisar 5,7-10,5 hal ini dikarenakan Pengkuran pH dan konduktivitas menunjukkan bahwa penurunan pH sejalan dengan kedalaman, diikuti kenaikan konduktivitas. Hal ini disebabkan proses dekomposisi bahan organik menyebabkan terbentuknya senyawasenyawa asam organik yang akan menurunkan pH, dan pelepasan senyawa anorganik yang akan memperkaya kandungan ion dalam perairan sehingga meningkatkan konduktivitas.

d. Sungai

            Nilai derajat keasaman (pH) suatu perairan mencirikan keseimbangan antara asam dan basa dalam air dan merupakan pengukuran konsentrasi ion hidrogen dalam larutan (Saeni, 1989). Sebagian besar biota akuatik sensitive terhadap perubahan pH dan menyukai nilai pH sekitar 7-8,5 .

            Derajat Keasaman (pH) sangat penting sebagai parameter kualitas air karena pH mengontrol tipe dan laju kecepatan reaksi beberapa bahan di dalam air. Selain itu organisme akuatik dapat bertahan hidup pada kisaran ph tertentu. Fluktuasi pH sangat ditentukan oleh alkaliniitas air tersebut. Suatu perairan yang produktif dan mendukung kelangsungan hidup organisme akuatik terutama ikan menurut PP No. 82 (2001) yaitu berkisar 6-9. Syarat Hidup dan Kebiasaan Hidup. Ikan sangat toleran terhadap derajat keasaman (pH) air. Ikan ini dapat bertahan hidup di perairan dengan derajat keasamaan yang agak asam (pH rendah) sampai di perairan yang basa (pH tinggi) dengan pH 5-9. Kandungan oksigen yaitu 02 terlarut yang dibutuhkan bagi kehidupan patin adalah 3-6 ppm. Kadar karbondioksida (CO2) yang bisa ditoleran adalah 9-20 ppm. Tingkat alkalinitas yang dibutuhkan 80-250 ppm. Secara sederhana, pengertian pH menunjukkan kondisi asam atau basa dari suatu perairan. Derajat keasaman juga merupakan indikator yang dapat mempengaruhi ketersediaan unsur-unsur lain yang sangat dibutuhkan untuk pertumbuhan ikan. Nilai pH yang rendah mengindikasikan bahwa perairan asam, sedangkan pH yang tinggi mengindikasikan perairan basa. Kedua kondisi ini tidak baik untuk kegiatan budidaya. Perubahan pH secara mendadak ditandai dengan berenangnya ikan sangat cepat. Bila terjadi penurunan pH secara terus-menerus, akan keluar lendir yang berlebihan atau iritasi kulit sehingga ikan akan mudah diserang penyakit. Kondisi yang baik untuk ukuran keasaman perairan budidaya berada pada kisaran pH 6 —8 (R. Eko Prihartono, 2004). pH atau kadar keasamaan air yang baik untuk budidaya lobster air tawar adalah berada pada angka 6 sampai 8. (lihat gambar skala pH berikut). Kadar keasaman ini dapat dijaga dengan total alkanitas, jumlah plankton yang tidak berlebihan dan kebersihan dari das.

Perubahan  pH di Perairan

            Tingkat keasaman (pH) perairan merupakan parameter kualitas air yang penting dalam ekosistem perairan tambak. Faktor- faktor yang Perubahan pH di perairan yaitu:

1.      Aktivitas fotosintesis

2.      Aktivitas respirasi

            Fotosintesis memerlukan karbon di oksida, yang oleh komponen autotrof akan dirubah menjadi monosakarida. Penurunan karbon dioksida dalam ekosistem akan meningkatkan pH perairan. Sebaliknya, proses respirasi oleh semua komponen ekosostem akan meningkatkan jumlah karbon dioksida, sehingga pH perairan menurun (Wetzel, 1983). Nilai pH perairan merupakan parameter yang dikaitkan dengan  konsentrasi karbon dioksida (CO2) dalam ekosistem. Semakin tinggi konsentrasi karbon dioksida, pH perairan semakin rendah. Konsetrasi karbon dioksida ditentukan pula oleh keseimbangan antara proses fotosintesis dan respirasi. Fotosintesis merupakan proses yang menyerap CO2, sehigga dapat meningkatkan pH perairan. Sedangkan respirasi menghasilkan CO2 kedalam ekosistem, sehingga pH perairan menurun. Karbon dioksida dalam ekosistem perairan dihasilkan melalui proses respirasi oleh semua organisme dan proses perombakan bahan organik dan anorganik oleh bakteri.

            Selain dari itu pH di perairan dari yang tinggi ke pH rendah dapat disanggah oleh unsur calsium yang terdapat dalam air asli itu sendiri. Apabila suatu perairan kadar calsium dalam bentuk Ca(HCO3)2 cukup tinggi, maka daya menyanggah air terhadap pergoncangan pH menjadi besar.Unsur Ca didalam air membentuk dua macam senyawa yaitu:

1.   Senyawa kalsium carbonat (CaCO3) yang tidak dapat larut

2.   Senyawa kalsium bicarbonat atau kalsium hidrogen karbonat (Ca(HCO3)2) yang dapat larut dalam air.

            Faktor yang menentukan besar kecilnya kemampuan penyanggah pergoncangan asam (pH) adalah banyaknya Ca (HCO3)2 di dalam air.

            Proses terjadinya penyanggahan asam didalam air adalah sbb: Kalau dalam suatu perairan, CO2 terambil, maka mula-mula pH air akan naik, akan tetapi pada saat yang bersamaan Ca(HCO3)2 yang larut dalam air itu akan pecah.

            Sehingga dalam air itu terjadi pembentukan CO2 yang baru, selanjutnya pH air mempunyai kecenderungan untuk turun lagi. Berdasarkan proses tersebut diatas, kadar Ca yang terkandung dalam air menjadi berkurang. Kalsium bikarbonat yang terbentuk pada pemecahan itu akan mengendap berupa endapan putih didasar perairan, pada daun-daun tanaman air dsb. Sebaliknya, apabila terbentuk gas CO2 yang banyak didalam air maka mula-mula pH air mempunyai kecenderungan untuk turun akan tetapi dengan segera gas CO2 yang berkeliaran bebas itu akan diikat oleh CaC03 yang sulit larut dalam air . Sehingga jumlah CO2 bebasnya akan berkurang, akibatnya pH air mempunyai kecenderungan untuk naik, sehingga kecenderungan pH untuk turun dapat disanggah.Jadi jumlah Ca (HCO3 )2 dalam air merupakan salah satu unsur dari baik buruknya perairan sebagai lingkungan hidup.

Penyebab Utama Penurunan pH di Hatchery

            Dalam usaha budidaya  di hatchery, pertumbuhan organisme budidaya sangat dipengaruhi oleh kualitas air dan jumlah pakan yang di berikan. Jumlah pakan yang di berikan tergantung  tingkat konsumsi dan kebiasaan makan dari organisme  budidaya itu sendiri.   Jika takaran atau dosis pakan yang di berikan sesuai maka proses pertumbuhan organisme budidaya  dapat berlangsung dengan baik. Tetapi jumlah pakan yang diberikan tidak sesuai takaran atau dosis yang di tentukan maka laju pertumbuhan organisme budidaya akan terhamabat.

            Selain dari itu juga, jika jumlah pakan yang diberikan, melebihi takaran atau dosis  untuk kebutuhan konsumsi organisme budidaya, maka  jumlah pakan yang lebih tersebut akan mengendap didasar bak pemeliiharaan (hatchery). Sehingga apabila proses ini berjalan terus maka lama kelamaan jumlah endapan pakan di dasar bak semakin meningkat dan mengalami pembusukan. Sehingga dengan peningkatan endapan pakan yang ada di dasar hatchery tersebut maka akan menyebabkan terjadinya penurunan pH. Sehingga perairan budidaya hatchery tersebut akan mengalami tingkat keasaman.

Pengaruh Perubahan  pH Terhadap Kesehatan Ikan

            Pescod (1973) menyatakan bahwa toleransi untuk kehidupan ikan terhadap pH bergantung kepada banyak faktor meliputi suhu, konsentrasi oksigen terlarut, adanya variasi bermcam-macam anion dan kation, jenis dan daur hidup biota. Perairan basa (7 – 9) merupakan perairan yang produktif dan berperan mendorong proses perubahan bahan organik dalam air menjadi mineral-mineral yang dapat diassimilasi oleh fotoplankton (Suseno, 1974).

            pH air berfluktuasi mengikuti kadar CO2 terlarut dan memiliki pola hubungan terbalik, semakin tinggi kandungan CO2 perairan, maka pH akan menurun dan demikian pula sebaliknya. Fluktuasi ini akan berkurang apabila air mengandung garam CaCO3 (Cholik et al., 2005). pH air yang tidak optimal akan berpengaruh, meningkatkan daya racun hasil metabolisme seperti NH3 dan H2S.

            Adanya peningakatan daya racun hasil metabolisme tersebut maka dapat menyebabkan kondisi tubuh  ikan terganggu, misalnya:

                Ikan mengalami sters

                Tidak memiliki nafsu makan

                Cara berenangnya tidak stabil, dan gelisah

                Tidak mampu berkembang biak atau bertelur.

                 Pertumbuhan terhambat

            Dengan melihat Kondisi ikan yang terganggu tersebut maka organisme pathogen  penyebab penyakit seperti jamur, bakteri, parasit dan virus, mempunyai kesempatan untuk masuk dan menyerang ikan tersebut. Dan jika serangan organisme pathogen tersebut tidak di tanggulangi atau tidak di cegah dengan baik maka ikan yang terkena serangan  tersebut akan mengalami kematian.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

 

KESIMPULAN

 

            Beberapa factor yang menjadi indicator pengaruh terhadap perairan dibagi menjadi dua macam, yaitu factor kimia dan fisika. Factor fisika diantaranya : tingkat kejernihan air (kekeruhan), perubahan suhu, warna dan adanya perubahan warna, bau dan rasa, bahan padat (solid), gaya antar listrik, radioaktifitas, dan viskositas. Faktor kimia diantaranya : zat kimia yang terlarut, perubahan pH, potensial reduksi – oksidasi, alkalinitas, kesadahan, asiditas, kebutuhan oksigen, hydrogen, dan fosfat.

            Akibat pengaruh factor fisika dan kimia pada perairan adalah dampaknya akan langsung mengenai organisme di perairan  tersebut. Seperti pengaruh  pH terhadap perairan adalah mengakibatkan adanya racunikan di perairan tersebut mengakibatkan meningkatnya daya racun hasil metabolisme seperti NH3 dan H2S. Adanya peningakatan daya racun hasil metabolisme tersebut maka dapat menyebabkan kondisi tubuh  ikan terganggu, misalnya : Ikan mengalami stress, tidak memiliki nafsu  makan, cara berenangnya tidak stabil dan gelisah, tidak mampu berkembang biak atau bertelur, pertumbuhan terhambat.

            Adapun faktor- factor yang mempengaruhi perubahan  pH di perairan  yaitu akibat dari aktivitas fotosintesis dan aktivitas respirasi.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

http://chyrun.blogspot.com/2014/02/pengaruh-co2-terhadap-ph-perairan.html

http://blogerowncieunieq.blogspot.com/2011/02/pencemaran-air-dengan-ph-sebagai.html

http://aludinkedang.blogspot.com/2011/06/ph-derajat-keasaman-perairan.html

http://rainadpa.blogspot.com/2010/01/derajat-keasaman-ph-sebagai-parameter.html

http://teddyseptiadi.blogspot.com/2011/10/pengaruh-ph-terhadap-kualitas-air.html

https://www.facebook.com/genofsone/posts/145482778971644

http://alfian-arby92.blogspot.com/2012/01/literatur-kualitas-air.html

http://mengukurkualitasair007.blogspot.com/

 

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah puji serta syukur kita panjatkan kepada Alloh SWT dan solawat serta salam kita curahkan kepada Nabi besar Muhammad SAW karena dengan rahmat dan hidayahnya, materi pembuatan makalah ini bisa diselesaikan dalam tempo yang telah ditentukan. Selain daripada itu, pembuatan makalah ini pun atas bantuan dan dorongan dari keluarga serta teman-teman semua dan menjadikan ini sebagai motivasi untuk kami supaya bisa menyelesaikan makalah ini sebagai salahsatu tugas dari pelajaran Pengantar Ilmu Perikanan (PIP).
Dalam pembuatan makalah ini, kami sebagai penyusun memberikan sedikit informasi tentang seputar perikanan dan ilmu kelautan sebagaimana tugas yang telah disampaikan. Informasi ini pun kami dapat dari berbagai sumber yang telah kami rangkum supaya menjadi kesatuan yang kompleks, sistematis, dan mudah dipahami oleh pembaca. Untuk lebih spesifiknya kami membahas tentang perikanan budidaya di Indonesia.
Besar harapan kami agar pembuatan makalah ini bermanfaat untuk pembaca dan khususnya kami sebagai penyusun. Walaupun kami sadari banyak sekali kekurangan yang terdapat dalam makalah ini mohon untuk dimaklumi.

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ………………………………………………………………….. i
DAFTAR ISI ……………………………………………………………………………….. ii
BAB I …………………………………………………………………………………………. iii
PENDAHULUAN :
A. Perairan Indonesia……………………………………………………………….. 1
B. Sumber Daya Perikanan Indonesia ……………………………………… 3
BAB II ………………………………………………………………………………………… iv
ISI :
A. Budidaya Perikanan Indonesia …………………………………………… 5
B. Permasalahan Budidaya Perikanan Indonesia …………………….. 7
C. Budidaya Ikan Guppy ………………………………………………………… 9
BAB III ………………………………………………………………………………………… v
Penutup :
Kesimpulan …………………………………………………………………………………. 16
Kritik dan Saran …………………………………………………………………………. 18
Daftar Pustaka …………………………………………………………………………….. 19

BAB I
PENDAHULUAN
A. Perairan Indonesia
Indonesia adalah negara kepulauan yang memiliki wilayah perairan yang sangat luas yang terdiri dari 17.508 pulau dengan panjang garis pantai 81.290 km. Luas wilayah laut Indonesia sekitar 5.176.800 km2. Ini berarti luas wilayah laut Indonesia lebih dari dua setengah kali luas daratannya. Sesuai dengan Hukum Laut Internasional yang telah disepakati oleh PBB tahun 1982, wilayah perairan Indonesia dibagi menjadi tiga wilayah laut/zona laut yaitu zona Laut Teritorial, zona Landas kontinen, dan zona Ekonomi Eksklusif.
Batas laut Teritorial ialah garis khayal yang berjarak 12 mil laut dari garis dasar ke arah laut lepas. Sebagaimana yang kita ketahui garis dasar/garis pangkal adalah adalah garis khayal yang menghubungkan titik-titik dari ujung-ujung pulau. Penentuan garis pangkal ditentukan dengan garis air rendah.

Gb. 1. Ilustrasi Garis Pangkal Kepulauan & Batas Laut Teritori.
Jika ada dua negara atau lebih menguasai suatu lautan, sedangkan lebar lautan itu kurang dari 24 mil laut, maka garis teritorial di tarik sama jauh dari garis masing-masing negara tersebut. Laut yang terletak antara garis dengan garis batas teritorial di sebut laut teritorial. Laut yang terletak di sebelah dalam garis dasar disebut laut internal.

Gb. 2. Ilustrasi batas wilayah perairan dua negara.
Indonesia mempunyai wilayah yang sangat luas yang membentang dari barat ke timur sepanjang 5.110 km dan membujur dari utara ke selatan sepanjang 1.888 km.Dengan wilayah seluruhnya mencapai 5.193.252 km2 yang terdiri atas 1.890.754 km2 luas daratan dan 3.302.498 km2 luas lautan.Luas daratan Indonesia hanya sekitar 1/3 dari luas seluruh Indonesia sedangkan 2/3-nya berupa lautan.

Negara Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia. Luas wilayah Indonesia seluruhnya adalah 5.193.250 km2 Dua pertiga wilayah Indonesia merupakan perairan atau wilayah laut. Luas wilayah perairan di Indonesia mencapai 3.287.010 km2 Adapun wilayah daratan hanya 1.906.240 km2.
Wilayah laut teritorial merupakan laut yang masuk ke dalam wilayah hukum Negara Indonesia. Berdasarkan ”Territoriale Zee en Maritieme Kringen Ordonante” tahun 1939, wilayah teritorial Laut Indonesia ditetakkan sejauh 3 mil diukur dari garis luar pantai.
Ketetapan tersebut sangat merugikan negara Indonesia. Oleh karena laut menjadi penghubung pulau-pulau yang tersebar di wilayah Indonesia. Wilayah laut teritorial yang ditetapkan hanya sejauh 3 mil diukur dari pantai, banyak wilayah laut bebas di perairan Indonesia. Akibatnya, kapal dari negara lain bebas keluar masuk perairan Indonesia. Mereka juga mengambil sumber daya alam yang terdapat di laut.
UNCLOS (United Nations Conference of the Law Of Sea) atau Konferensi Hukum Laut Internasional yang diselenggarakan pertama kali pada tahun 1958 di Geneva. Deklarasi Juanda kemudian diperkuat dengan Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1960.
Pada Konferensi Hukum Laut Internasional, tahun 1982, di Jamaika, wilayah perairan Indonesia mendapat pengakuan dari dunia internasional. Dengan demikian, wilayah perairan Indonesia meliputi Wilayah Laut Teritorial, Zona Ekonomi Eksekutif (ZEE), dan Batas Landas, Kontinen.

a. Wilayah Laut Teritorial.
Wilayah laut teritorial Indonesia ditetapkan sejauh 12 mil diukur dari garis pantai terluar. Apabila laut yang lebarnya kurang dari 24 mil dikuasai oleh dua negara maka penentuan wilayah laut teritorial tiap-tiap negara dilakukan dengan cara menarik garis yang sama jauhnya dari garis pantai terluar.
b. Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE)
Zona Ekonomi Eksklusif yaitu perairan laut yang diukur dari garis pantai terluar sejauh 200 mil ke arah laut lepas. Apabila Zona Ekonomi Eksklusif suatu negara berhimpitan dengan Zona Ekonomi Eksklusif negara lain maka penetapan melalui perundingan dua negara. Di dalam zona ini, bangsa Indonesia mempunyai hak untuk memanfaatkan dan mengolah segala sumber daya alam yang terkandung di dalamnya.
c. Batas Landas Kontinen
Batas landas kontinen adalah garis batas yang merupakan kelanjutan dari benua yang diukur dari garis dasar laut ke arah laut lepas hingga kedalaman 200 meter di bawah permukaan air laut. Sumber daya alam yang terkandung di dalam Landas Kontinen Indonesia merupakan kekayaan Indonesia. Pemerintah Indonesia berhak untuk memanfaatkan sumber daya alam tersebut.
B. Sumber Daya Perikanan Indonesia
Indonesia memiliki potensi sumber daya alam yang melimpah. Berbagai upaya dan cara dilakukan oleh masyarakat dan negara untuk memanfaatkannya. Sumber daya alam merupakan modal utama bagi suatu negara untuk kesejahteraan rakyat. Indonesia memiliki luas laut mencapai ribuan kilometer, dengan potensi sumber daya alam yang besar. Seperti yang telah dijelaskan bahwa luas wilayah perairan Indonesia mencapai 2/3 dari luas keseluruhan negara Indonesia maka secara logika sumber daya alam Indonesia sangatlah besar.
Di Indonesia sebenarnya pemanfaatan sumber daya alam di daratan sudah hampir mencapai 80% mungkin lebih. Tetapi ternyata untuk sumber daya perairan Indonesia masih belum optimal pemanfaatannya yaitu sekitar 30% saja. Hal ini membuktikan bahwa dunia perikanan Indonesia masih besar potensinya untuk dikembangkan bahkan Indonesia sendiri bisa menjadi negara maju dengan dunia perikanan ini.
Jika kita teliti kita bisa lihat negara negara maju seperti contohnya Jepang. Mengapa Jepang bisa menjadi negara maju? Selain dari teknologi mereka yang sudah sangat maju, alasan lainnya mereka mempunyai banyak industri industri perikanan seperti pengolahan pengolahan perikanan, budidaya perikanan, teknologi penangkapan yang jauh lebih modern daripada Indonesia. Hal inilah yang menyebabkan indonesia semakin tertinggal bahkan “terpuruk” dari negara negara lain. Jika di telusuri luas perairan negara Jepang lebih kecil dari Indonesia tapi mereka bisa menjadi negara yang maju. Jika mereka bisa mengapa kita tidak? Padahal jelas negara kita lebih kaya akan sumber daya alamnya. Pertanyaan itulah yang harus kita pikirkan tidak hanya oleh Pemerintah tapi juga masyarakat Indonesia bagaimana caranya meningkatkan produktifitas perikanan di negara ini.
Di negara Indonesia ini ada beberapa cara dalam pemanfaatan sumber daya perikanan, yaitu sebagai berikut :
a) Perikanan tangkap
b) Budidaya perikanan
c) Teknologi atau industri perikanan
Adapun itu semua demi menghasilkan produk perikanan yang menjadi tujuan atau berguna untuk :
• untuk memenuhi nutrisi pangan
• sebagai penambah dari sumber pendapatan
• untuk memenuhi pasokan bahan bahan industri
• sebagai sumber devisa bagi negara
• dan terakhir sebagai rekreasi atau hiburan
Adapun hal hal yang menunjang atau membantu terperolehnya hal hal tersebut yaitu :
 Sosial Ekonomi Perikanan
– Pemasaran
– Sosial ekonomi
 Riset pendidikan
 Industri penunjang
– Industri penunjang
– Perahu, pakan, jaring dll
Untuk sumberdaya perairan bisa di temukan di beberapa habitat yaitu :
a. Laut
– Perairan pantai
– Perairan lepas pantai
– Perairan payau
b. Darat
– Rawa
– Danau : tektonik dan vulkanik
– Waduk
– Sungai
– Genangan

BAB II
ISI
A. Budidaya Perikanan Indonesia
Budidaya perikanan adalah suatu kegiatan yang dilaksanakan dan direncanakan oleh manusia yang meliputi seluruh sistem yang tergolong sistem produksi atau hasil produk berupa produk perikanan.
Dalam budidaya perikanan terdapat sitem yang tidak dapat dipisahkan yaitu berupa proses yaitu :

1. Input
1) Benih
Benih merupakan salah satu bagian atau bahan yang harus dipersiapkan dalam proses budidaya perikanan, karena hal terpenting yang akan menjadi produk itu sendiri yaitu dari benih itu sendiri. Benih juga merupakan modal utama ketika akan mempersiapkan alat dan bahan yang akan digunakan dalam budidaya.
2) Pakan
Pakan juga salahsatu hal yang penting demi memenuhi kebutuhan hidup benih yang tadi telah disiapkan, ketika berbicara pakan maka tidak ada gunanya jika kita hanya mempunyai benihnya saja, otomatis ini akan berkaitan erat antara keduanya.

3) Pestisida
Pestisida disini untuk mencegah hama yang akan merusak pada hasil produksi kelak, jadi antisipasi sebelum itu terjadi memang sangat penting. Karena memang banyak sekali parasit yang akan merusak pada benih selain itu akibat dari bakteri dan virus juga menyebabkan ikan – ikan menjadi terserang penyakit.
4) Teknologi
Teknologi disini tujuannya untuk mempermudah pekerja dalam mengerjakan setiap proses dalam budidaya tersebut. Contohnya peralatan modern akan sangat mempermudah pekerjaan dibandingkan secara manual. Oleh karena itu teknologi juga sebagai input yang sangat menguntungkan demi mencapai produk hasil yang sangat menguntungkan.
5) Tenaga kerja
Seperti halnya teknologi, tenaga kerja juga sangat penting dalam membantu pekerjaan tersebut. Jumlah pekerja dapat disesuaikan dengan kebutuhan pada usaha budidaya kita seberapa banyak membutuhkan pekerja. Diusahakan untuk pemula tidak terlalu banyak atau bisa meningkat jika usaha itu pun meningkat. Dan juga yang terpenting kita hitung pendapatan bulanan agar kita tahu seberapa banyak pekerja yang kita butuhkan.
2. Proses
1) Pembenihan
Pembenihan adalah proses dari penyiapan benih. Pembenihan merupakan proses persiapan dari benih yang akan di budidayakan. Pembenihan tidak boleh asal pilih, karena kualitas pada benih akan disaring pada proses ini, dalam artian pembenihan disini akan memisahkan antara benih yang siap dikembangkan dan mana yang tidak. Karena jika benih tersebut jelek maka akan terganggu dalam proses pembesaran. Dampaknya adalah banyak ikan yang terhambat (kerdil), mudah terserang penyakit, dan akan terjadi pembibitan dengan kualitas anakan yang jelek. Maka dari itu, pembenihan merupakan faktor penting dalam proses budidaya.
2) Pembibitan
Pembibitan merupakan proses lanjutan dari pembenihan. Jika pembenihan berhasil makan selanjtnya pun juga harus diperhatikan masalah pembibitan, karena ini pun mempengaruhi pada hasil produk nantinya.
3) Pembesaran
Proses ini adalah proses yang mendekati tingkat akhir sebelum hasil. Tetapi proses pembesaran ini bisa juga tidak dilakukan karena terkadang ada konsumen yang memesan ikan atau hasil produk dengan ukuran yang maih kecil atau tidak terlalu besar. Hal itulah yang menyebabkan proses ini bisa iya atau tidak. Proses ini dibantu dengan kualitas air yang baik, nutrisi pakan yang baik, pencegahan terhadap hama dsb.

3. Output
1) Produk untuk konsumsi
Ini adalah bagian terakhir setelah kita bekerja dari mulai menyiapkan segala suatu hal demi hasil produk yang baik yang kita inginkan. Produk konsumsi biasanya tidak terlepas juga dari bantuan pemasaran tetapi, ketika usaha kita telah maju biasanya konsumen sendiri yang datang bukan kita yang repot memasarkan. Produk hasil konsumsi pun kita harus sortir kembali karena terkadang ada produk yang tidak terlalu bagus atau (BS). Hal ini disebabkan tadi akibat kurangnya perhatian atau penanganan budidaya dari pekerja.
B. Permasalahan Budidaya Perikanan Indonesia
Ketika berbicara suatu hal, pasti hal tersebut akan mempunyai sebuah masalah bahkan beberapa masalah. Di dunia umum perikanan banyak masalah yang timbul dari sektor Pemerintah atau pun sektor masyarakat Indonesia. Seperti dari sektor Pemerintah sendiri sebetulnya terkadang Pemerintah kita kurang mengelola sumber daya alam di perikanan atau kelautan. Bahkan cenderung dibiarkan begitu saja. Tapi ketika perairan kita sumber dayanya di ambil baru Pemerintah kita menggembor – gemborkannya seperti pertanda perang. Padahal saya sendiri yakin jika Peerintah itu sendiri kuat dalam mempertahankannya dan dalam pengawasannya saya yakin tidak akan ada hal seperti itu. Kita terlalu terlena dengan keadaan alam yang sudah enak sehingga kebanyakan kita menunggu untuk mengimport dan itu hal yang sangat aneh menurut saya.
Tak terlepas di dunia perikanan khususnya budidaya perikanan yang akan dibahas kali ini, itupun terdapat masalah masalah di dalamnya. Masalah ini pun tidak terlepas dari kondisi perikanan di Indonesia saat ini yang belum maju. Kondisi inilah yang menjadi faktor munculnya masalah masalah yang begitu banyak yang belum maksimal diatasi sampai saat ini. Berikut adalah masalah perikanan budidaya di Indonesia :
1) Permasalahan pertama adalah permasalahan yang umum bagi masyarakat Indonesia yaitu modal yang lumayan atau cukup besar dalam mempersiapkan semua hal yang menyangkut budidaya seperti benih, pakan, pestisida dll. Hal ini kendala yang harus dipikirkan bagaimana supaya modal kecil tapi untung bisa sangat banyak. Ini bukan sekedar PR Pemerintah tapi juga masyarakat Indonesia. Modal memang bisa terlebih dahulu meminjam tetapi yang jadi resiko mungkin ketika usaha pertama gagal karena budidaya dalam makalah ini dimaksudkan untuk pemula. Sebaiknya pikirkan kembali cara penanaman modal ini, mungkin saja bisa dengan berbagai investasi dari rekan – rekan yang nantinya untung bisa dibagi dua atau tiga atau juga lebih.
2) Permasalahan umum selanjutnya adalah ketersediaan lahan. Mengapa ini menjadi salahsatu masalah? Coba kita lihat sekarang di perkotaan, lahan sudah hampir habis dipakai oleh pembangunan – pembangunan gedung bertingkat, hotel, jalan – jalan. Inilah yang merupakan kendala berikutnya khusus untuk daerah perkotaan. Beda halnya dengan masyarakat desa, mungkin saat ini masih banyak tanah yang masih bisa digunakan dengan catatan dekat dengan sumber air supaya tidak susah dalam mencari air ketika terjadi kekeringan. Apakah masyarakat kota pasrah saja demikian? Tidak bisa, karena sebetulnya itu bisa di antisipasi dengan misalkan kita melakukan budidaya dengan ikan – ikan hias yang kecil supaya tidak memakan tempat yang begitu luas. Bisa di aquarium atau pun kolam kolam kecil di depan rumah kita. Sekarang pun ada salah satu cara yaitu dengan menggunakan plastik yang kita tidak perlu menggali terlebih dahulu tanah lahan kita. Bisa dibentuk sedemikian rupa agar menyerupai kolam. Oleh karena itu, selama bisa diantisipasi mengapa tidak.
3) Permasalahan selanjutnya ini sangat klasik sebetulnya, yaitu pakan yang masih menjadi kendala besar dalam budidaya perikanan. Padahal Indonesia sedang berupaya meningkatkan produksi perikanan sektor itu. Pakan merupakan komponen biaya terbesar dalam usaha budidaya ikan sehingga mencapai 70 persen hingga 80 persen. Untuk itu, ketersediaan pakan yang berkualitas, terutama dengan pendirian pabrik pakan ikan di dekat lokasi budidaya menjadi sangat penting.
4) Permasalahan selanjutnya yaitu kurangnya kesadaran masyarakat dalam hal budidaya. Kebanyakan orang tidak mau menginvestasikan untuk modal, tapi mereka lebih memlilih menjadi nelayan tangkap daripada menjadi seorang pengusaha. Padahal jelas Pemerintah sendiri sangat mendukung ketika warganya ingin menjadi seorang wirausahawan. Bahkan banyak program Pemerintah yang berani meminjamkan modal demi warganya yang mau berusaha. Selain itu, manfaat lainnya yaitu membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat sekitar. Inilah salahsatu poin tambah dari budidaya perikanan yaitu bisa juga untuk menanggulangi pengangguran bahkan kemiskinan. Perlu kita ketahui, bahwa ikan yang ada dilautan sebetulnya sudah sangat kurang akibat dari over fishing atau penangkapan secara berlebih. Ini akan mengakibatkan ikan akan menjadi sedikit tahun demi tahun. Bahkan tidak mustahil jika suatu saat ikan yang ada dilaut akan tersisa sedikit pasokan atau “habis”. Menurut penelitian pun tahun 2025 yang akan meningkat jumlah pesanan adalah ikan – ikan air tawar atau payau. Mengapa demikian? Karena ketika itu, yang akan melesat adalah perikanan budidaya yang jelas daur hidupnya terus berputar dalam artian terus menerus bergulir. Sedangkan perikanan tangkap akan tergerus karena pasokan yang sudah habis. Inilah alasan mengapa kita harus memilih perikanan budidaya.
5) Kendala selanjutnya dalam perikanan budidaya adalah kurangnya pendidikan atau pengetahuan tentang maslah budidaya perikanan. Seperti yang telah disebutkan riset dan pendidikan pun adalah salah satu faktor penunjang dalam keberhasilan budidaya perikanan ini. Pendidikan berfungsi untuk mendidik memberikan kita pengetahuan baik secara akademis ataupun hal yang lain. Jiaka kita berbicara secara akademis pendidikan ini dimaksudkan untuk kita supaya kita tahu seluk beluk tentang budidaya secara detail. Perkuliahan jurusan dibidang ini sangat berguna kelak. Di perkuliahan kita dikenalkan dengan masalah – masalahnya apa, cara mengatasinya bagaimana, bahakan hal sekecil apapun itu sangat diperhitungan dan kita pelajari. Selain pendidikan, pengalaman pun sangat penting. Sebetulnya pengalaman pun merupakan pendidikan. Mengapa demikian? Pengalaman membantu kita dalam melangkah selanjutnya, kegagalan sebelumnya harus menjadi cambuk agar tidak terjadi lagi selanjutnya. Belajarlah dari orang – orang yang telah sukses atau berpengalaman di bidang ini. Karena itu akan sangat membantu kita untuk melakukan suatu hal atau ketika kita melangkah. Apalagi orang – orang yang sebelumnya tidak belajar dibidang ini. Menurut saya itu wajib dilakukan. Tidak usah malu dalam bertanya apapun karena demi mencegah terjadi suatu hal yang tidak diinginkan lebih baik bertanya sebelumnya. Alangkah lebih baik lagi jika kita sendiri yang langsung mendatangi tempat – tempat budidaya tersebut untuk sekedar menimba ilmu atau mungkin berguru pada orang yang lebih kompeten dan berpengalaman.
C. Budidaya Ikan Guppy

1. Klasifikasi ikan guppy

Kingdom : Animalia
Fillum : Chordata
Kelas : Actinopterygii
Ordo : Cyprinodontiformes
Sub ordo : Poecilioidei
Famili : Poeciliidae
Genus : Poecilia
Spesies : Poecilia reticula

2. Deskripsi Ikan Guppy
Ikan gapi memiliki nilai ekonomis tinggi karena variasi warna yang dimilikinya menarik dan bentuk sirip yang beragam, pemeliharaan dan pemijahan mudah, serta tidak terlalu berpengaruh pada perubahan temperatur dan kualitar air lainnya. Saat ini terdapat sekitar 30 jenis ikan gapi berdasarkan pola warna dan bentuk siripnya, yang sebagian besar merupakan komoditi ekspor.
Dari penampakan morfologis, ikan gapi jantan memiliki bentuk dan corak warna tubuh lebih menarik dan cemerlang daripada ikan betinanya. Ikan gapi memiliki kemampuan berkembang biak yang cepat sehingga harus segera dipisahkan agar tidak terjadi perkawinan pada usia muda yang dapat menurunkan kualitas dan kuantitas anak yang dihasilkan.
Ikan gapi bersifat ovovivipar, yaitu pembuahan terjadi di dalam tubuh, embrio disimpan dan terus berkembang dalam tubuh induk, akan dilahirkan sebagai anak setelah kurang lebih 20 hari masa kehamilan. Ikan betina mampu menyimpan sperma dalam tubuhnya sehingga dari satu kali perkawinan dapat melahirkan sampai tiga kali dengan jarak waktu antar kehamilan 7-43 hari, dengan selang waktu antara melahirkan anak dengan pemisahan induk betina dari jantannya berkisar 16-35 hari.

3. Ciri – Ciri Tubuh
Ikan guppy jantan

Ikan guppy betina

Ikan guppy tergolong bertubuh kecil, panjang tubuh hanya bisa mencapai 7 cm untuk betina, dan jantan panjang tubuh bisa mencapai 3,75 cm. Warna dasar tubuh guppy yang asli berwarna kecoklatan,dengan variasi warna sisik seperti pelangi.Keindahan guppy yang menarik terdapat pada ekornya, sirip ekor lebar dengan ciri warna yang bervariasiyang menyolok dengan bentangan mirip ekor burung merak, goyangan ekornya memang sangat mempesona.
Ikan jantan warna tubuhnya lebih menarik dibandingkan betinanya, sehingga guppy jantan di pasaran banyak dicaripenggemar ikan hias dengan warna terjangkau.

4. Sifat Hidup
Ikan guppy termasuk ikan hias jenis pedamai dan jinak yang bisa ditempatkan dengan jenis – jenis ikan lain yang sama – sama jinak (jangan dicampur dengan ikan buas). Di alam aslinya, ikan ini dapat hidup di dua jenis perairan yang berbeda,yakni air tawar dan payau. Menyukai perairan yang tenang tetapi sangat sensitifdan mudah stres terhadap perubahan kualitas air yang mendadak, terutama fluktuasi suhu tinggi, jika terpaksa ingin mengubah suhu pada media air perlu diubah secara bertahap dan pelan – pelan (adaptasi). Makanan yang diperlukan menerima segala jenis makanan, baik makanan alami atau pun buatan (pellet), menyukai sayuran segar, jentik – jentik nyamuk, kutu air, cacing rambut.
5. Persiapan Pemijahan
a. Tempat Pemijahan
Tempat pemijahan yang dipai bisa berupa akuarium dengan ukuran panjang 80 cm, lebar 45 dan tinggi 40 cm. Bisa menggunakan bak semen ukuran 2×12 x 40 cm. Kualitas air dengan parameter suhu 23 – 26 oC, pH 7 – 8, DO > 4 ppm. Sumber air yang digunakan bisa berasal dari sungai , air sumur yang telah diendapkan sehari semalam. Sebagai perangsang pemijahan dan sekaligus sebagai tempat persembunyian anak – anaknya dapat dilengkapi tanaman air : Hydrilla atau eceng gondok.
b.Pemilihan Induk
Pemilihan induk jantan dan betina dapat dibedakan dengan jalan membedakan bentuk dan warna sirip ekor. Induk jantan memiliki warna yang kontras menyolok dengan warna dan bentuk sirip ekor yang indah. Selain itu induk jantan memiliki gonopodium yang berbentuk menonjol di belakang sirip perut. Sedangkan induk betina memilik warna badan dan warna ekor yang biasa – biasa saja. Tubuh induk betina lebih besar dibandingkan induk jantan.
Induk jantan dan betina sudah bisa dipijahkan jika sudah matang gonad (kelamin), biasanya pada umur 3 bulan, dan panjang ikan guppy betina umumnya telah berukuran antara 4 – 5 cm, sedangkan ikan guppy jantan umumnya telah berukuran 3,5 – 4 cm.
6. Pemijahan
Tempat akuarium (akuarium atau bak beton) diisi air setinggi 30 – 35 cm. Induk yang telah diseleksi dimasukan ke dalam tempat pemijahan sekitar 30 – 40 ekor induk betina, dan jantan cukup 5 ekor, (ukuran bak 80 x 45 x 40 cm).
Jika pemijahan dilakuakan di tempat berupa bak beton dengan ukuran 2 x 12 x 0,40 m, induk betina sebanyak 100 – 150 ekor dan jantan cukup 10 – 15 ekor. Pemasukan induk sebaiknya dilakukan paada saat suhu sedang rendah yakni pada saat pagi hari.
Seminggu setelah induk dipijahkan, biasanya anak – anak guppy telah mulai nampak di sela – sela akar atau tanaman air. Anak – anak guppy bisa mulai diserok dengan menggunakan seser halus, kemudian dicuduk dengan menggunakan piring disertakan sebagian air dipindahkan ke dalam wadah kemudian dipindahkan ke dalam tempat pembesaran. Induk guppy telah dibiarkan di dalam tempat pemijahan dan diberikan pakan berupa cacing rambut, kutu air atau jentik – jentik nyamuk selanjutnya (dosis 3 – 5 %)/bobot biomas/hari. Seekor indukan guppy betina dapat menghasilkan keturunan dengan jumlah rlatif sedikit, berkisar anatara 30 – 60 ekor. Ikan guppy dapat dipijahkan sepanjang tahun dengan interval 4 minggu.
7. Pembesaran
Siapkan bak pembesaran dengan ukuran 2 x 2 m, ketinggian bak 0,4 m. Bak diisi air bersih yang telah diendapkan sehari semalam, setinggi 30 – 35 cm. Di dalam bak diberi tanaman air yang telah dibersihkan. Benih dimasukan ke dalam bak dengan menggunakn ember, biarkan benih keluar dengan pelan – pelan dengan cara menyondongkan ember. Penebaran benih dilakuakan pada pagi hari, kepadatan benih sebanyak 2.000 ekor.
Benih mulai diberi makan hari pertama, jenis pakannya bisa diberikan jenis infusuria, rotifera, atau kutu air. Beberapa hari selanjutnya bisa diberi makan cacing rambut 3 – 5 %/bobot biomas/hari, frekuensi pemberian 3 kali, pagi, siang dan sore hari.
Untuk menjaga agar kualitas air baik seminggu sekali dilakukan pergantian air, dengan cara membuang 2/3 bagian volume air, kemudian ditambahkan air bersih baru 2/3 bagian. Untuk pembesaran di kolam tanah supaya tanah dasar dipupuk dengan pupuk kandang atau pupuk kompos sebanyak 1 – 2 ton/hektar atau 100 -200 gram/m2, agar tumbuh makanan alami terutama zooplankton, jentik – jentik nyamuk, lutu air dan cacing sebagai makanan utama.
8. Cara Mengatasi Penyakit
Penyakit yang umumnya menimpa guppy adalah jamur. Perlu dipahami jamur tumbuh dengan cara yang berbeda dari bakteri. Jamur tumbuh dengan spora dan selalu tumbuh dengan kondisi tertentu. Mereka berkembang mempunyai siklus tertentu berupa spora, kemudian berubah menjadi organisme yang disebut miselium.
Jamur ini dapat berkembang biak sangat cepat, berbentuk seperti benang/ulir dan membentuk jaringan-jaringan seperti lapisan yang tipis. Sedangkan bakteri yang biasa menyerang guppy adalah mycobacterium piscium, juga beberapa penyebab lainnya.
Perlu diperhatikan untuk melakukan pengobatan secara efektif harus melakukan diagnosa yang akurat, sehingga dapat mengatasi penyakit yang timbul. Penyakit yang umum menyerang ikan guppy adalah :
a. Saprolegnia
Ciri-ciri ikan yang terserang adalah bercak-bercak putih pada kulit ikan. Perawatannya teteskan alkohol metapen dalam tempat sebanyak 2 tetes dalam satu galon air/4 1,12) liter air. Langkah selanjutnya berikan garam dan biarkan beberapa saat.
Berikan hydrogen peroksida untuk membunuh bakteri yang melekat pada jaring ikan selama 15 sampai 30 detik. Atau bisa juga digunakan malachite green atau methyline blue atau acriflavin sebagai disinfektan. Cara perawatan ikan yang terkena infeksi bakteri sebaiknya diberi tambahan ruang sebelum mengobati.
b. Penyakit Bengkak atau Bloat
Ikan tampak gelisah, badan tampak lebih besar karena kembung. Ini disebabkan karena peradangan usus ikan. Isolasi ikan yang terkena, lalu masukkan ke dalam satu galon air yang telah dibubuhi 2 sendok penuh garam Inggris. Biarkan selama 4 atau 6 jam, kemudian tambahkan air selama 12 jam. Setelah sembuh dapat dikembalikan ke tempat asal.

c. Jamur Mulut
Ciri ikan yang terkena jamur mulut mudah dilihat dari warna putih yang terletak di depan mulutnya. Jamur putih tersebut merupakan koloni sangat besar yang menempel pada mulut ikan, sehingga menutup mulut ikan sampai tidak bisa bernapas dan makan dapat menyebabkan ikan mati. Pengobatan menggunakan aureomycin 25 mg untuk 1 galon air tambahkan 1 tetes obat merah dan metopen 2 tetes.
d. Penyakit Insang
Ciri ikan yang terkena peradangan insang biasanya disebabkan oleh organisme virus. Ciri pada penyakit ini insang membuka, malas makan dan selalu di atas permukaan air. Penyakit ini disebabkan oleh beberapa bakteri dan jamur dan paling sulit untuk diatasi.
Ciri ikan ini jika mati insangnya tampak memerah dan membusuk lebih cepat dari badannya. Beberapa cara yang sudah berhasil dilakukan adalah dengan memberikan metapen mercurochrome direndam beberapa saat secara bersamaan kemudian lakukan perawatan dengan menggunakan air garam dan memberikan tempat yang lebih besar dan luas.
e. Penyakit Kembung
Ciri-ciri ikan yang terkena peradangan perut antara lain ikan tampak sulit berenang ke dasar. Cara mengatasinya berikan 1 sendok teh garam Inggris tiap 1/2 liter air, dan rendam ikan selama 3 sampai 4 jam, kemudian pindahkan ikan ke dalam tempat yang ketinggian airnya 3 kali tinggi badan ikan. Masih ada beberapa penyakit yang sudah umum diketahui, misalnya kutu atau jarum.

BAB III
KESIMPULAN
Indonesia memiliki perairan yang sangat luas yang terdiri dari 17.508 pulau dengan panjang garis pantai 81.290 km. Luas wilayah laut Indonesia sekitar 5.176.800 km2. Wilayah perairan Indonesia meliputi Wilayah Laut Teritorial, Zona Ekonomi Eksekutif (ZEE), dan Batas Landas, Kontinen.
Di negara Indonesia ini ada beberapa cara dalam pemanfaatan sumber daya perikanan, yaitu sebagai berikut :
a) Perikanan tangkap
b) Budidaya perikanan
c) Teknologi atau industri perikanan
Adapun itu semua demi menghasilkan produk perikanan yang menjadi tujuan atau berguna untuk :
• untuk memenuhi nutrisi pangan
• sebagai penambah dari sumber pendapatan
• untuk memenuhi pasokan bahan bahan industri
• sebagai sumber devisa bagi negara
• dan terakhir sebagai rekreasi atau hiburan
Adapun hal hal yang menunjang atau membantu terperolehnya hal hal tersebut yaitu :
 Sosial Ekonomi Perikanan
– Pemasaran
– Sosial ekonomi
 Riset pendidikan
 Industri penunjang
– Industri penunjang
– Perahu, pakan, jaring dll
Untuk sumberdaya perairan bisa di temukan di beberapa habitat yaitu :
c. Laut
– Perairan pantai
– Perairan lepas pantai
– Perairan payau
d. Darat
– Rawa
– Danau : tektonik dan vulkanik
– Waduk
– Sungai
– Genangan
Dalam budidaya perikanan terdapat sitem yang tidak dapat dipisahkan yaitu berupa proses yaitu :
1) Input
2) Proses
3) Output
Ikan guppy merupakan salah satu jenis ikan hias yang mudah dikembangbiakkan. Ikan ini bisa dipijahkan sepanjang tahun tetapi tetap ada rentang waktu setelah ikan tersebut melhirkan. Ikan ini memiliki tubuh yang sangat cantik apalagi bagian ekornya karena sangat cantik warnanya dan mempunyai ekor yang lebar dan besar seperti ikan cupang (beta). Ikan ini bisa hidup kurang lebih 2 sampai 4 tahun.
Ikan guppy jantan memiliki warna yang lebih terang dan cantik juga ekornya yang sangat besar atau lebar dibandingkan betinanya yang mempunyai warna yang pudar dan ekornya yang lebih kecil. Serta pada jantan memiliki sirip anal dibagian dekat sirip perutnya namun di betina tidak ada. Tapi, jika dibandingkan tubuh betina lebih besar dan lebih panjang dibandingkan pejantannya.
Ikan ini termasuk ikan yang jinak dengan catatan jangan disatukan dengan ikan – ikan predator. Namun sring juga mudah stres jika adaptasi terhadap suhunya bermasalah. Untuk ikan ini pakannya ketika kecil (baru lahir) bisa diberi infusuria, rotifera, atau kutu air. Ketika menjelang beberapa hari bisa menggunakan cacing rambut. Dan ketika mulai dewasa bisa diberi cacing yang lebih besar seperti cacing darah atau sutra, pelet ikan, dsb.
Penyakit – penyakit yang sering timbul pada ikan ini antara lain adalah saprolegnia, penyakit bengkak atau bloat, jamur mulut, penyakit insang, dan penyakit kembung.

Kritik dan Saran
Dalam dunia perikanan kelautan kita mengenal berbagai jurusan yang dikelola. Beberapa contoh yaitu perikanan tangkap, budidaya perikanan, teknologi dan industri perikanan, pengolahan hasil perikanan, managemen ekonomi perikanan dsb. Semua jurusan yang dikelola ini tidak lain adalah untuk memajukan semua hal yang menyangkut di sektor ini. Ini memang upaya Pemerintah dan masyarakat tetapi tengok apakah kinerja Pemerintah di bidang ini sudah optimal? Apakah peran masyarakat sebagai pekerja di lapangan dalam hal ini sudah benar? Saya kira keduanya belum demikian. Karena coba kita tengok permasalahan perikanan dan kelautan di Indonesia, bukannya membaik tapi terus menerus mendatangkan masalah demi maslah. Jika terus seperti ini kita tidak akan bisa menjadi negara maju karena sistem pengelolaan di Indonesia masih seperti ini. Cobalah jangan melihat mereka (negara – negara maju) yang memang di lengkapi dengan teknologi yang canggih tapi apakah kita akan terus terkalahkan oleh mereka? Padahal sumber daya alam kita masih sangat banyak. Jika kita bisa mengelolanya dengan baik, tidak mustahil negara kita akan menjadi maju bahkan mereka yang akan bergantung terhadap kita. Sebetulnya teknologi hanya sebagai alat untuk membantu mempermudah bukan menambah kita semakin maju. Karena modal utama untuk itu adalah kemauan dari pihak Pemerintah ataupun masyarakat itu sendiri.
Sebenarnya menurut saya untuk sekarang yang harus diutamakan adalah perikanan budidaya. Mengapa demikian? Karena seperti kita ketahui perikanan tangkap sebetulnya hanya menangkap dan tidak memperbaharui. Mereka hanya mencari ikan atau produk dan tidak menanam kembali. Apalagi saat ini jumlah nelayan yang semakin banyak, ditambah dengan teknologi yang semakin canggih maka terjadilah kelebihan tangkap (over fishing). Hal ini menyebabkan sedikit demi sedikit biota itu berkurang bahkan beberapa tahun yang akan datang tidak mustahil jika ada salah satu atau banyak spesies yang akan punah. Sedangkan untuk sistem budidaya bisa dikatakan bisa didaur ulang, karena mereka terus mengembangbiakkan produk bersamaan dengan menjual hasil produknya. Ini akan terus berputar dan bergulir dan sedikit kemungkinan terjadi kepunahan.
Oleh karena itu, menurut saran saya tidak salah jika nelayan – nelayan tangkap juga ikut serta dalam budidaya demi mencegah terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan. Karena jika bukan kita yang mengurus alam ini siapa lagi. Alloh menciptakan kita sebagai kholifah yaitu pemimpin dunia ini dan sekaligus melestarikannya. Jangan semata – mata kita serakah hanya demi kepentingan pribadi dan kepentingan duniawi saja.

DAFTAR PUSTAKA
http://id.berita.yahoo.com/kkp-pakan-jadi-kendala-besar-budidaya-perikanan-090123708.html
http://permasalahan-perikanan.blogspot.com/
http://indonesian-eel.blogspot.com/2012/03/belajar-menganalisis-sebab-permasalahan.html
http://kmip.faperta.ugm.ac.id/index.php?option=com_content&view=article&id=243:industrialisasi-perikanan-budidaya&catid=40:artikel&Itemid=132
http://ikanbijak.wordpress.com/2008/03/14/masalah-klasik-perikanan/
http://saribincang.wordpress.com/2010/06/26/arif-satria-indonesia-harus-ke-perikanan-budidaya/
http://dkp.kutaikartanegarakab.go.id/profil.php?menu=Visi%20Misi
http://aperiki.blogspot.com/2013/05/kunci-sukses-menjalankan-usaha-budidaya.html
http://www.alamtani.com/ikan-air-tawar.html
http://www.suaramerdeka.com/v1/index.php/read/lelaki/2006/07/01/2/Teknik-budidaya-ikan-Guppy
http://www.bimbingan.org/cara-budidaya-ikan-guppy.htm
http://ikazanst.blogspot.com/2013/03/budidaya-ikan-guppy_3814.html

http://zonaikan.wordpress.com/2012/08/08/budidaya-ikan-guppy-yang-cantik/
http://chinchau.com/teknik-dan-cara-budidaya-guppy-beternak-ikan-hias/
http://blogatel.blogspot.com/2013/01/cara-budidaya-ikan-guppy.html
http://www.gcogb.co.uk/page27.html
http://redseafishingclub.yoo7.com/t662-topic
http://diozyosafatdion.blogspot.com/2010/01/klasifikasi-ilmiah-ikan-guppy.html
http://www.aquariumfish.net/catalog_pages/livebearer_guppies/guppies_page_4.htm
http://www.myaquariumclub.com/i-thought-i-got-all-male-guppies-how-do-i-tell-the-differenc…-7463017.html

Awan Tag